Melihat Kemungkinan-kemungkinan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh lifestyleokezone.com

Pada awal September ini banyak perguruan tinggi kembali memulai kegiatan perkuliahan. Kuliah online dianggap masih menjadi pilihan yang paling masuk akal dan tepat. Dasar dari pilihan ini adalah kehidupan bermasyarakat kita yang belum secara sungguh signifikan aman dari covid-19. Setiap harikasus pasien terkena covid-19 masih terus bertambah.

Tentu ada sivitas akademik yang agak kecewa dengan kondisi belajar atau perkuliahan online. Kegiatan belajar tatap muka di kelas, senda gurau saat jam istirahat, perjumpaan di perpustakaan dan di kantin, serta di berbagai tempat lain di sekitar lingkungan kampus adalah pengalaman sosial yang sungguh bernilai dan sulit tergantikan bagi para sivitas akademik.

No man is an island bahwa manusia adalah makhluk sosial yang pada hakikatnya membutuhkan interaksi dengan sesama dalam upaya untuk mencapai kepenuhan makna keberadaanya. Ada pertukaran emosi antara para sivitas akademik dalam setiap interaksi yang terjadi di lingkungan kampus. Dan persis pertukaran emosi itulah yang terasa hilang ketika diganti dengan perkuliahan online.Namun, di atas semua itu keadaan sekarang memang menuntut kita supaya sedikit lebih bersabar. Sikap ceroboh dalam menilai, menuntut, dan mengambil pilihan sedapat mungkin dihindarkan dalam situasi kehidupan kita yang masih dibayangi oleh covid-19. Bertindak ceroboh di mana memaksa keadaan untuk melakukan perkuliahan tatap muka di kampus agaknya seperti mengarahkan diri kita menjemput bahaya.

Pilihan bertindak

Munculnya covid-19 mengganggu dinamika kehidupan manusia dalam banyak lingkup. Satu di antaranya adalah lingkup pendidikan. Dalam pengamatan saya, gangguan yang terasa amat kuat itu membuat sivitas akademis, terlebih khusus mahasiswa, cukup sulit untuk melihat kemungkinan-kemungkinan yang ada pada kondisi sekarang ini. Seolah-olah covid-19 menghadirkan satu kemungkinan saja dan itu kemungkinan negatif yakni performa sebagai seorang mahasiswa terasa begitu menurun dan “hilang” akibat tidak menjalankan status sebagai mahasiswa dalam tempat sebenarnya yakni kampus.

Namun, apabila kita (mahasiswa) melihat secara lebih mendalam, sebenarnya dalam kondisi sekarang ini ada berbagai kemungkinan dan itu kemungkinan positif yang tersedia bagi kehidupan kita. Kemungkinan positif itu kalau diambil dan dijalankanakan mengarah pada perkembangan diri.

Waktu luang (leisure time) agaknya lebih banyak dalam masa belajar dari rumah ini. Hitungan kasar yang dilakukan adalah: tidak ada waktu pergi ke kampus dan pulang kampus, tidak ada waktu nongkrong di galeri untuk waktu yang lama, dan tidak ada waktu pergi ke kantin untuk makan atau minum lalu duduk bersenda gurau dalam waktu yang lama. Salah satu kemungkinan yang tersedia untuk dilakukan dalam memanfaatkan waktu luang adalah meditasi atau mungkin refleksi diri. Tidak perlu terlalu lama, kita bisa menggunakan waktu secukupnya untuk melakukannya. Pada masa kegiatan perkuliahan berjalan normal mungkin kita terlalu asyik menjalankan interaksi dengan sesama hingga lupa untuk mengenal secara mendalam dan benar tentang diri kita. Kita terlalu asyik berinteraksi dengan sesama hingga sulit untuk menjadi pribadi yang disiplin dan fokus dalam menjalankan tugas sebagai mahasiswa misalnya perkuliahan di kelas, membaca, dan kerja tugas.

Meditasi dan refleksi diri secara rutin adalah sarana untuk menghubungkan pikiran dan tubuh. Menjaga pikiran dan tubuh agar selalu terhubung dalam aktivitas yang dijalankan akan menstabilkan kesadaran. Kesadaran yang stabil akan membuat kita selalu fokus dan disiplin sehingga dapat lebih maksimal dalam menjalankan aktivitas. Menjadi pribadi yang disiplin dan fokus adalah modal yang sangat berharga bagi para mahasiswa untuk mencapai hasil yang lebih maksimal dalam kegiatan real perkuliahan apabila covid-19 telah berlalu.

Kemungkinan lain yang dapat menjadi pilihan bertindak adalah memanfaatkan waktu luang itu dengan membaca. Tugas utama pelajar adalah membaca. Hal sederhana tetapi acap kali dilupakan, disepelekan, dan tidak dilakukan. Dalam era disrupsi ini manusia dituntut untuk menjadi pribadi yang terus belajar. Manusia mesti membekali dirinya dengan pengetahuan yang mumpuni untuk merespons tuntutan pola kerja di era disrupsi. Prinsip kerja “pelan tapi pasti” tidak lagi relevan di era saat ini apalagi dalam beberapa dekade mendatang. Prinsip kerja “cepat dan tepat” adalah respons yang relevan terhadap era disrupsi. Membaca kiranya salah satu jalan sederhana untuk mampu beradaptasi di era disrupsi.

Teladan masyarakat Yunani kuno

Cara masyarakat di era postmodern dalam mengisi waktu luang ditandai oleh kegiatan yang ringan, menghibur, dan sekadar untuk menghabiskan waktu saja. Artinya, tidak ada suatu hasil yang sangat signifikan dari mengisi waktu luang itu. Fenomena ini sanga berbeda dengan pola hidup masyarakat Yunani kuno.Masyarakat Yunani kuno memaknai waktu senggang untuk melakukan aktivitas produktif. Orang-orang bebas di zaman Yunani kuno, biasanya mengisi waktu senggang dengan kegiatan berdiskusi tentang kebenaran, berefleksi tentang berbagai gelagat peristiwa kehidupan yang telah, sedang, dan akan ada, serta berdistansi dan berabstraksi dengan realitas yang digauli (Simon, 2006:60, dalam Suyanto 2017:251). Tak sedikit gagasan-gagasan cemerlang yang kemudian menjadi dasar bagi kemajuan peradaban lahir ketika orang-orang bebas itu memnfaatkan waktu senggangnya.

Maka, di tengah pandemi ini, kita berhadapan dengan kemungkinan-kemungkinan yang positif dan negatif. Kiranya tak bijak dan tak tepat apabila kita terlalu fokus pada pilihan kemungkinan negatif seperti “mengkritisi” keadaan. Yaitu membuang waktu dengan terus menyalahkan keadaan lalu tak menghasilkan karya yang sungguh berguna bagi hidup. Pilihan kemungkinan lain adalah kemungkinan harapan. Yaitu kita melihat sisi positif yang ada untuk kemudian mengambil dan menjalankannya dalam kehidupan.Kemungkinan harapan tertuju pada perkembangan diri yang lebih baik sehingga mampu menghasilkan karya-karya yang berguna bagi masyarakat, bangsa, dan negara.

Penulis: Ransis Putra Gaut, Mahasiswa Sosiologi FISIP Universitas Airlangga

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu