Dampak Suara Letusan Senjata Api dengan Ambang Dengar dan Serum HSP 70 pada Murid Sekolah Polisi Negara Mojokerto, Jawa Timur

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Tribunnews.com

Lingkungan sekitar kita dikelilingi oleh berbagai suara dengan beragam karakteristik. Dari rendah ke tinggi, lembut ke keras. Setiap karakter suara dapat memberikan dampak yang berbeda pada sistem pendengaran kita. Suara yang lembut mungkin tidak terlalu terdengar untuk beberapa individu, sehingga memerlukan suara yang lebih keras agar lebih jelas dan terdengar. Namun, paparan suara yang terlalu keras dapat memicu gangguan pendengaran.

Noice Induced Hearing Loss atau dapat diartikan sebagai gangguan pendengaran akibat suara keras adalah suatu fenomena di mana pendengaran seorang individu bisa terganggu akibat suara yang terlalu keras dan menimbulkan kerusakan pada struktur sensitif dalam telinga bagian dalam dan menyebabkan gangguan pendengaran.

Paparan suara yang terlalu keras dapat menimbulkan trauma akustik, yaitu cedera pada telinga bagian dalam yang diakibatkan suara berdesibel tinggi, seperti mendengarkan lagu dengan earphone bervolume tinggi, atau dari sumber suara yang menimbulkan kebisingan seperti mesin industri, bahan peledak, atau letusan tembakan senjata api. Suara senjata api sendiri rerata memiliki kisaran 140 desibel, yang sangat rawan merusak sistem pendengaran kita.

Dalam telinga kita terdapat serum HSP 70. Heat Shock Protein 70 (HSP 70) adalah protein aktif yang berperan bila mendapat respon suara, atau kerusakan pada sel rambut koklea telinga, akan memicu ekspresi HSP 70. HSP 70 bekerja sebagai proteksi untuk sel rambut koklea dari kerusakan akibat paparan suara. Bila suara yang dipaparkan pada sel rambut koklea semakin keras maka kadar serum akan meningkat, bahkan sebelum terjadi kerusakan terhadap sel rambut koklea. Maka dari itu HSP 70 dapat digunakan sebagai marker untuk resiko kerusakan koklea karena tekanan suara keras.

Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp. THT-KL (K), FICS menduga bila ada korelasi antara ambang dengar frekuensi suara dengan kadar serum HSP 70 dalam individu yang terpapar suara letusan senjata api pada murid SPN Mojokerto. Sebuah studi yang diadakan oleh Yao Ho dkk. menunjukkan adanya korelasi antara kenaikan serum HSP 70 terhadap individu yang dipaparkan suara letusan senjata api. Studi lain yang dilaksanakan oleh May dkk. juga menunjukkan kenaikan serum HSP 70 pada grup kontrol yang mendapatkan paparan suara tembakan senjata api, dan kemudian serum HSP 70 kembali normal saat paparan suara dihentikan.

Sejauh ini belum ada penelitian yang menyatakan terkait korelasi ambang dengar frekuensi 4000 Hz dengan kadar serum HSP 70 yang dilakukan pada murid SPN Jawa Timur, di mana SPN Jawa Timur adalah sekolah untuk calon bintara di mana salah satu kurikulumnya adalah keterampilan menggunakan senjata api/ menembak.

Penelitian ini dilaksanakan di Departemen Otorinolaringologi – Bedah Kepala-Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Rumah Sakit Dr. Soetomo dan melibatkan 50 siswa laki-laki SPN Mojokerto, Jawa Timur angkatan 2017/2018 dengan rentang umur antara 18 sampai 21 tahun.

Dari total 50 siswa, didapati adanya indikasi trauma akustik berupa penurunan ambang dengar frekuensi 4000 Hz pada 28 siswa (56%). Ada pun ditemukan siswa dengan keluhan penurunan pendengaran sejumlah 1 siswa (2%).  Dari 50 murid yang menjadi peserta penelitian tidak ada yang ditemukan memiliki keluhan tinitus mau pun vertigo.

Pada pengukuran serum HSP 70 dan ambang pendengaran pada frekuensi 4000 Hz, juga ditemukan korelasi antara dua variabel verikut. Hasil menunjukkan bahwa semakin tinggi kadar serum HSP 70, maka semakin tinggi pula ambang dengar frekuensi 4000 Hz setelah mendapat pajanan letusan senjata api di kalangan murid SPN Mojokerto, Jawa Timur.

Tentunya bila hal ini dibiarkan, kerusakan terhadap sistem pendengaran bisa berlanjut ke stase yang lebih parah dan dapat mengganggu individu terkait. Indra pendengaran adalah suatu aset yang penting dalam kehidupan kita dan perlu dilindungi, terutama untuk pekerjaan yang terlibat di lingkungan sosial masyarakat. Penggunaan sumbat atau pelindung telinga dapat membantu mengurangi paparan dari suara keras. Ada pun peredam suara khusus pengguna senjata api guna meredam suara keras yang dihasilkan dari letusan senjata api yang dipakai, sehingga kebisingan yang diterima oleh telinga dapat diredam. (*)

Penulis: Dr. Nyilo Purnami, dr., Sp.THT-KL(K)

Detail tulisan ini dapat dilihat di:

http://agribiop.com/correlation-between-hearing-threshold-of-4000-hz-and-hsp-70-serum-level-post-gunshot-exposure-among-east-java-police-school-students/

Kihastanto, Nyilo Purnami dan Diar Mia Ardani. 2020. Correlation between Hearing Threshold of 4000 Hz and HSP 70 Serum Level Post Gunshot Exposure among East Java Police School Students. Annals of Biology 36 (2) : 272-275.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu