Capsaicin Sebagai Kandidat Obat Anti Kanker Hati

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Az Gunslinger

Karsinoma hepatoseluler (HCC) adalah tumor ganas yang menyerang hati. Prevalensi tumor ganas sangat tinggi, peringkat keempat secara global sebagai kanker ganas dengan insiden sebesar 5,3% dibandingkan dengan kanker lainnya. patofisiologis HCC bersifat kronis, paparan hepatosit yang dapat menyebabkan epigenetic dan perubahan genetik yang mengarah pada induksi protein onkogenik dan / atau aktivasi tumor gen penekan.

Penggunaan obat-obatan untuk memblokirjalur pensinyalan telah dilakukan dan telah mencapai uji klinis seperti Salisarib, Sorafenib, dan Selumetinib, tetapi penggunaan obat dalam jangka panjang akan menimbulkan efek samping berupa menurunnya suplai darah tepi, serangan jantung dan akut, gagal jantung

Capsicum annuum L. memiliki senyawa alami yang mampu memberikan manfaat yang sangat besar bagi manusia dan hewan. Salah satu senyawa terpenting dalam Capsicum annuum L. adalah capsaicin. Capsaicin (8-metil-Nvanillyl-6-tidak ada di tengah) adalah komponen aktif dari Capsicum annuum L. yang mengiritasi mamalia termasuk manusia dan menyebabkan panas dan terbakar jaringan apapun yang tersentuh. Di bidang farmasi, selain menghilangkan rasa sakit atau nyeri, capsaicin juga bisa diketahui memiliki aktivitas antikanker.

Capsaicin Sebagai Kandidat Obat Anti Kanker Hati 

Capsaicin dapat menghambat pembentukan semua metabolit 4-(methylnitrosamino) -1- (3-pyridyl) -1-butanone (NNK) oleh semuafraksi mikrosomal dan menghambat α-hidroksilasi oleh mikrosom. Inimenunjukkan bahwa capsaicin sebagai konstituen makanan alami, memiliki antimutagenikdan sifat antikarsinogenik melalui penghambatan xenobioticenzim metabolik. Capsaicin (8-methyl-N-vanillyl-6-nonenamide)dalam penelitian menunjukkan bahwa capsaicin dapat menghambat mutagenisitas dan DNAmengikat beberapa bahan kimia karsinogenik yang dicurigai dengan menekanaktivasi metabolisme dalam sel, capsaicin menghambat AFB1biotransformasi dengan memodifikasi aktivitas enzim hati difase bahan kimia karsinogenik yang dicurigai dengan menekan aktivasimetabolisme dalam sel, capsaicin menghambat biotransformasi AFB1memodifikasi aktivitas enzim hati pada fase karsinogenikbahan kimia.  Hal ini menunjukkan bahwa ketika AFB1 masuk ke dalam tubuh diperkirakan berpotensimempengaruhi aktivasi protein onkogenik AKT1 dan MAPK1sehingga memicu timbulnya karsinoma hepatoseluler (HCC) dan AFB1.

Penghambatan Capsaicin

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Sukmanadi, dkk (2020) dengan menggunakan bioinformatika bahwa  energi ikat yang lebih stabil dibandingkan dengan protein lain untuk mengaktifkanpembentukan kompleks molekul AFB1-AKT1. Sudah diprediksibahwa AKT1 adalah onkoprotein yang telah menjadi target penghambatan olehCapsaicin. Sehingga ada penghalang AFB1 yang secara tidak langsung menggangguaktivasi protein AKT1 dan MAPK1.

Selain itu, Sukamandi, dkk (2020) juga menjelaskan,  berdasarkan hasil penelitian in silico didapatkan superekspresiAKT-1 dan MAPK-1 sebagai bukti mekanisme molekulerpenghambatan capsaicin terhadap AFB-1 di Hepatocellular Carcinoma(HCC)..Analisis residu asam amino, Capsaicin menjadi AKT1 dan Capsaicin menjadiMAPK1 memiliki residu yang relatif sama sehingga dapat disimpulkan bahwasitus pengikatan kedua senyawa tersebut dekat dengan persamaan danmempengaruhi reseptor di situs yang relatif mirip, yaitu reseptor onkogenik /protein.   

Setelah dilakukan uji aktivitas didapatkan Potensi Indikator skor Activity Score (Pa), senyawa capsaicin memiliki Pa 0,690 untuk perawatan preneoplastik, 0,590 untuk apoptosis agonist dan 0,366 aktivitas antineoplastik. Semakin banyak nilai (Pa) mendekati satu, semakin baik potensinya aktivitas. Melalui pengujian ini, capsaicin memiliki nilai aktivitas yang baik dan memiliki berpotensi sebagai obat anti kanker karena menghambat pensinyalan AKT1 dan MAPK1 / ERK yang dapat menghambat perkembangbiakan kanker sel karena memiliki efek apoptosis agonis dan antineoplastic agen.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil kajian bioinformatika, Capsaicin dari Capsicum annuum L. memiliki sifat yang afinitas tinggi untuk target reseptor / protein MAPK1 dan AKT1 dengan pengikatan energi -5,5 Kkal / mol dan -6,7 Kkal / mol dan Aktivitas Potensial sama dengan 0,690 untuk perawatan preneoplastik, 0,590 untuk agonis apoptosis, dan 0,366 untuk aktivitas antineoplastik dan menjadi kandidat untuk obat antikanker. Pengujian lebih lanjut dilakukan melalui in vitro dan in vivo serta standarisasi formulasi capsaicin obat antikanker. Selain itu,  capsaicin pada cabai (Capsicum Annum L.) secara sinergis dapat menghambat viabilitas sel melalui reaksi di jalur pensinyalan AKT anti-apoptosis dan MAPK 1 mempotensiasi tindakan antiproliferatif yang dapat meningkatkan apoptosis sel kanker hati, dengan demikian diduga memiliki potensi untuk mencegah kanker hati pada pasien dan dengan demikian menjadi calon/kandidat obat antikanker.

Penulis: Moh. Sukmanadi, M.Kes., drh.

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.phcogj.com/v12/i4

DOI : 10.5530/pj.2020.12.

Sukmanadi M, Sudjarwo SA, Effendi MH, Srianto P, am A, Madyawati SP, et al. Capsaicin Bioactive in Cabai (Capsicum Annum L.) as Anticancer Through Inhibition of over Ekspresi Protein Target RAC-alpha serine/threonine-protein kinase (AKT1) and Mitogenactivated protein kinase 1 (MAPK1) on Hepatocyt Cell Mice (mus musculus). Pharmacogn J. Phcogj.com 2020;12(4).

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu