Merasa Ingin Selalu Disanjung ? Waspadai Gangguan Kepribadian Narsistik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh topcareer.id
Ilustrasi oleh topcareer.id

UNAIR NEWS – Setiap orang pasti sangat senang jika disanjung, diberi pujian, dan dikagumi oleh orang banyak. Namun ternyata ada gangguan kepribadian di mana penderitanya merasa ingin selalu disanjung, dikagumi, serta haus akan pujian. Gangguan kepribadian narsistik namanya, gangguan kepribadian ini bisa dideteksi sejak dini saat seseorang berusia kurang dari 18 tahun.

Hal tersebut didasarkan pada teori kepribadian bahwa kepribadian seseorang akan selesai terbentuk saat usia seseorang lebih dari 18 tahun. Sebelum berusia 18 tahun, ia akan mulai memperlihatkan tanda-tanda apabila terdapat masalah terhadap kepribadiannya yang bisa diamati oleh keluarga atau orang terdekat.

Dosen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ(K) menerangkan bahwa gangguan kepribadian narsistik merupakan gangguan kepribadian di mana seseorang mempunyai kebutuhan untuk dikagumi. “Gangguan kepribadian narsistik ini gangguan di mana seseorang butuh dikagumi, punya kebutuhan untuk disanjung, punya kebutuhan untuk menjadi orang yang dipandang dan dihormati,” terangnya.

dr. Azimatul Karimah, Sp.KJ(K)

Sayang kebutuhan untuk disanjung inilah yang membuat penderitanya tampak seperti arogan dan sombong. “Karena dia punya kebutuhan untuk disanjung dan dikagumi maka dia bisa berperilaku tampak seperti arogan, sombong, dan  ingin selalu dihormati,” ujarnya.

Ciri utama seseorang dengan gangguan kepribadian narsistik adalah merasa lebih jika dibandingkan dengan orang lain. Biasanya seseorang seperti ini sulit untuk berempati bahkan tidak punya empati terhadap kesulitan orang lain. Jika dihina ia akan merasa tersinggung meski tidak ada yang bermaksud untuk menghinanya, hanya tidak ada yang memberinya sanjungan seperti yang ia inginkan. Hal tersebut tentu akan membuatnya tersinggung. Ia juga akan mudah depresi karena jika ia tidak mendapat keinginannya, ia seperti kehilangan sesuatu yang amat berharga dan merasa harga dirinya jatuh.

Merendahkan orang lain bisa dilakukan seseorang dengan gangguan kepribadian ini hanya agar dirinya mendapat sanjungan. Ia juga tidak segan untuk mempengaruhi orang lain untuk berpihak kepadanya dan cenderung mengambil keuntungan dari keberpihakan tersebut. Pada kondisi yang ekstrem, ia akan menghina seseorang dan kelihatan seperti mempunyai rasa iri terhadap orang lain meski menurutnya orang lainlah yang merasa iri kepadanya. Kesulitan dalam menjalani relasi menjadi dampak buruk dari gangguan kepribadian ini.

“Jadi dia akan sulit menjalin relasi yang sehat karena cenderung mementingkan diri sendiri dan berharap semua orang mengikuti kemauannya. Dia juga cenderung semaunya sendiri demi mendapatkan kebutuhan harga diri,” ujar dr. Azimatul.

Seseorang dengan gangguan kepribadian narsistik sangat menjaga citranya di hadapan orang lain. Ia tidak bisa menerima kritik dari siapapun. “Orang dengan gangguan ini cenderung jaim, dia akan cenderung menyerang orang yang mengkritiknya lalu merendahkannya dengan tujuan mempertahankan harga dirinya,” pungkasnya.

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu