Efek Samping Metotreksat sebagai Terapi Psoriasis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh suara.com

Psoriasis adalah suatu penyakit peradangan kronis residif pada kulit, ditandai dengan adanya plak eritematus berbatas tegas yang ditutupi oleh sisik putih keperakan. Gejala yang mungkin terjadi adalah munculnya rasa gatal atau terbakar pada lesi.Pola gambaran psoriasis dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu psoriasis vulgaris, psoriasis gutata, psoriasis inversa, psoriasis eritroderma, psoriasis pustulosa, sebopsoriasis, psoriasis popok, dan psoriasis linier. Psoriasis vulgaris merupakan bentuk psoriasis yang paling sering ditemukan, yaitu sekitar 90% pasien. Psoriasis vulgaris ditandai dengan adanya plak eritema yang ditutupi oleh skuama tebal berwarna putih, terdapat fenomena tetesan lilin, tanda auspitz, dan tanda koebner yang positif.

Menurut WHO (2016) psoriasis merupakan masalah kesehatan global. Hal ini berdasarkan hasil laporan dari beberapa negara yang berkisar antara 0,09% dan 11,43%, atau sekitar 100 juta individu yang terkena di seluruh dunia. Data pasti untuk kasus psoriasis di Indonesia belum ada, namun data psoriasis dapat diketahui dari hasil penelitian sebelumnya. Kasus psoriasis pustulosa di RSUD Dr. Soetomo Surabaya Januari 2001-Desember 2011 berjumlah 21 kasus.Terdapat 48 kasus psoriasis di RSUP Prof. Dr. R. D Kandou Manado periode Januari-Desember 2012.

Beberapa pilihan terapi psoriasis berspektrum luas baik secara topikal maupun sistemik telah tersedia saat ini. Regimen pengobatan dipilih berdasarkan luasnya penyakit dan penilaian keparahan penyakit. Prinsip strategi pengobatan hanya untuk mengendalikan tingkat keparahan penyakit dan mencegah kekambuhan. Berbagai terapi topikal aman dan efektif untuk psoriasis ringan hingga sedang. Psoriasis yang lebih berat memerlukan terapi sistemik, termasuk fototerapi, asitretin, metotreksat, siklosporin, atau terapi biologis. Terapi untuk psoriasis sedang hingga berat yang lebih tepat adalah terapi sistemik. Metotreksat (MTX) merupakan agen terapi sistemik yang memiliki efektifitas tinggi untuk psoriasis kronis sedang hingga berat. Obat ini memiliki aktivitas anti inflamasi yang kuat.Metotreksat yang digunakan secara sistemik dapat berpengaruh ke seluruh tubuh, sehingga efek yang tidak diharapkan bisa saja terjadi. Efek yang tidak diharapkan pada obat ini biasanya terjadi anemia, leukopenia, mual, ulserasi mulut, pneumonitis, penekanan hematopoietik, gangguan pada hati dan ginjal.

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medik yang diambil dari RSUD Dr. Soetomo Surabaya di Ruang Rawat Inap Kemuning I dan Kemuning II pada Januari 2017 – Desember 2018 dan bahan penelitian diambil secara total sampling. Kriteria inklusi penelitian adalah seluruh pasien yang terdiagnosis psoriasis yang mendapatkan terapi metotreksat dengan melihat hasil laboratorium yang meliputi jumlah eritrosit, leukosit, trombosit, SGOT, SGPT, serta keluhan klinis pasien untuk melihat efek samping yang ditimbulkan oleh metotreksat.

Pada penelitian ini hanya 4,5% pasien yang memiliki eritrosit dibawah normal sedangkan sisanya tidak ditemukan adanya abnormalitas pada eritrosit pasien. Sebanyak 27,3% pasien memiliki jumlah leukosit diatas normal dan sebanyak 13,6% pasien memiliki trombosit diatas normal. Sebagian besar pasien memiliki SGOT normal setelah diterapi dengan metotreksat yaitu sebanyak 68,2% pasien dan hanya 18,2% pasien yang mengalami peningkatan SGOT. Sebanyak 45,5% pasien yang memiliki jumlah SGOT normal mengalami kenaikan jumlah SGOT tetapi masih dalam batas normal. Sebagian besar juga pasien pasien memiliki SGPT normal yaitu sebanyak 63,6% pasien dan sebanyak 40,9% pasien yang memiliki jumlah SGPT normal mengalami peningkatan jumlah SGPT tetapi masih dalam batas normal. Rata-rata jumlah kenaikan SGOT dan SGPT adalah 3-4 kali dari nilai awal. Keluhan klinis pada penelitian ini yaitu terjadinya mual sebanyak 18% pasien, muntah sebanyak 4,6% pasien, nyeri kepala sebanyak 4,6% pasien, sebanyak 4,6% pasien mengeluhkan sesak dan 4,6% pasien mengeluhkan epistaksis, sedangkan 59,1% pasien tidak mengeluhkan keluhan selama menerima terapi metotreksat.

Dalam penelitian ini, metotreksat dapat menyebabkan beberapa efek samping pada beberapa pasien, efek samping yang muncul bisa bersifat ringan hingga berat. Oleh karena itu dosis yang tepat dan pemantauan efek samping diperlukan untuk meminimalkan efek samping metotreksat sebagai terapi pada pasien psoriasis.

Penulis: Dr.AfifNurulHidayati,dr. Sp.KK(K)

Informasi detail daririsetinidapatdilihatpadatulisan kami di: https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/view/15803

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu