Pakar Sosiologi Berikan Tips dan Trik Menulis Artikel Ilmiah Populer di Media Massa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
NOVRI Susan, Ph.D. (Foto: Istimewa)
NOVRI Susan, Ph.D. (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Sastrawan legendaris Indonesia, Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwa “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

Sepaham dengan ungkapan tersebut, Novri Susan, Ph.D selaku Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR menjelaskan bahwa dengan menulis secara kritis maka berpotensi untuk membawa perubahan besar. Novri yang menjadi narasumber dalam workshop Asosiasi Program Studi Sosiologi Indonesia (APSSI) yang berlangsung pada Selasa malam (25/8/2020) memberikan tips dan trik menulis artikel populer di media massa.

Pada kesempatan tersebut ia menegaskan bahwa menulis bukan perkara mudah. Terutama mentransformasikan tulisan ilmiah ke dalam artikel populer di media massa.

“Tantangannya kan kita membumikan bahasa ilmiah agar dapat dipahami oleh umum. Jadi harus lugas dan mudah dimengerti,” ucapnya pada Selasa (25/8/2020).

Menulis artikel memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Bagi sebagian orang menulis artikel bisa menjadi siksaan, buktinya masih banyak pakar yang belum menyosialisasikan artikel penelitian di media massa.

Kesulitan yang terlihat seperti memangkas 10.000 kata menjadi 700 kata dan harus mewakili semuanya. Bagi Novri, menulis artikel di media massa memiliki kepentingan berbeda.

“Kita harus memahami aspek dimensi kepentingan di media massa,” ujarnya.

“Dalam menulis ada beberapa faktor yang harus diperhatikan. Contohnya edukasi, hasil penelitian kita tuangkan dengan bahasa awam agar mudah dipahami khalayak. Tidak semua orang paham bahasa ilmiah,” imbuhnya.

Faktor lain adalah persuasi, targetnya seperti elit atau aktor yang memiliki posisi penting penentu arah kebijakan. Namun, tidak semua media massa menerima artikel agent persuasi hasil penelitian.

Selanjutnya adalah diskursus, yakni perbincangan akademik, diskusi, ide-pemikiran yang membangun konsep. Penulisan artikel harus didesain untuk umum, tidak seperti desain untuk penelitian ilmiah.

”Gaya penyampaian argumentasi harus mengikuti karakter media, pemilihan diksi harus umum. Selain itu, perhatikan jumlah kata 700-800, dan juga struktur kalimat harus baku namun tidak kaku,” terang Novri.

“Pemilihan kata harus variatif agar tulisan kita memiliki karakter, kita dapat memperkaya diksi dengan sering membaca,” tambahnya.

Cara untuk memperoleh topik yang menarik maka harus peka, kritis, dan kerap membaca berita di media terpercaya. Layaknya saat ini sedang marak penggunaan media sosial, maka harus ikut masuk, karena jika hanya diam tidak akan pernah tau perkembangan di masyarakat.

Ketika hendak menulis artikel minimal menguasai empat unsur, yakni tema (perspektif teoritik untuk menganalisis isu)  yang diuraikan dengan lugas. Kedua, elaborasi masalah 3-4 paragraf, ketiga elaborasi perspektif 3-4 paragraf, dan kesimpulan.

Menulis artikel di media massa tidak terkait dengan popularitas, tapi akan populer dikalangan tertentu, contohnya kalangan pengambil kebijakan. Sebagai akademisi maka harus kritis dan menulis, karena dengan itu akan memberikan kontribusi yang besar.

“Artikel kita tetap ilmiah, namun harus dapat dipahami oleh umum. Peran sebagai akademisi harus mengedukasi dan membawa perubahan bermanfaat bagi bangsa dan sesama,” pungkas Novri.(*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu