Menilik Tingginya Prevalensi Stunting di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh P2PTM Kementerian Kesehatan

Stunting merupakan indikator kesejahteraan anak dan cerminan dari kesenjangan sosial di masyarakat. Tahun 2018, prevalensi stunting di Indonesia masih tinggi, yaitu sebesar 30,8%. Di dunia, Indonesia menduduki ranking ke-5 Untuk itu perlu dilakukan kajian, faktor apa yang menyebabkan prevalensi stunting yang masih tinggi di Indonesia.

Ada beberapa faktor yang dicurigai berpengaruh terhadap tingginya prevalensi stunting di Indonesia. Faktor itu diantaranya adalah rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak, ASI eksklusif, kecukupan energi, kecukupan protein dan tingkat kemiskinan. Kajian ini menggunakan data sekunder. Sumber data sekunder berasal dari  Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2017 yang dilakukan Direktorat Gizi Masyarakat Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Selain itu juga digunakan data Survei Ekonomi Nasional (Susenas)  tahun 2017 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik.  Analisis data menggunakan Analisis Regresi Linier Ganda, yang bertujuan untuk mengkaji beberapa faktor yang berpengaruh terhadap tingginya prevalensi stunting, dengan  unit analisis 34 provinsi di Indonesia.

Hasil analisis menunjukkan, rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak berpengaruh signifikan terhadap prevalensi stunting. Beberapa faktor yang lain, yaitu ASI eksklusif, kecukupan energi, kecukupan protein dan tingkat kemiskinan tidak berpengaruh terhadap prevalensi stunting di Indonesia. Jika persentase rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak meningkat 1 poin (%), maka prevalensi stunting akan berkurang sebesar 0,208. Kondisi ini juga diperkuat oleh nilai koefisien determinan sebesar 0,372, yang artinya rumah tangga yang memiliki akses sanitasi layak hanya mampu menjelaskan variasi stunting sebesar 37,2%, sisanya (62,8%) dijelaskan oleh faktor lain yang tidak termasuk dalam variabel yang dipelajari dalam kajian ini.

Menurut WHO, kurang tersedianya infrastruktur air dan sanitasi, merupakan salah satu faktor yang menyebabkan stunting di masyarakat. Kondisi di Indonesia, 1 dari 5 rumah tangga masih buang air besar (BAB) di ruang terbuka, dan 1 dari 3 rumah tangga belum punya akses air minum bersih. Kondisi sanitasi yang buruk akan meningkatkan angka kejadian penyakit menular. Kejadian penyakit (menular) dapat menyebabkan meningkatnya prevalensi malnutrisi. Stunting adalah salah satu bentuk dari malnutrisi. Rumah tangga yang memiliki  akses sanitasi yang layak, tentunya mampu meminimalisir serangan berbagai penyakit menular, seperti ISPA, diare dan penyakit menular lainnya. Kejadian diare sangat berpengaruh terhadap kejadian stunting. Bayi dengan diare memiliki risiko 2,14 kali lipat akan mengalami stunting, dibandingkan dengan bayi yang tidak diare.

Sebesar 62,8% variasi penyebab stunting, masih belum diketahui. Hal ini dapat disimpulkan, faktor penyebab stunting memang komplek dan multidimensi. Stunting tidak hanya  disebabkan oleh faktor malnutrisi, yang dialami oleh ibu hamil dan anak balita. Karena faktor penyebab stunting sangat kompleks, maka upaya intervensi yang dilakukan untuk menurunkan prevalensi stunting juga melibatkan berbagai sektor, baik sektor kesehatan maupun sektor non kesehatan.

Untuk bisa menurunkan prevalensi stunting, pemerintah harus menyediakan dan memastikan akses untuk air bersih dan sanitasi, karena kondisi ini  masih kurang layak di Indonesia. Selain itu intervensi gizi juga akan tetap dilakukan.  Salah satu gerakan untuk menurunkan prevalensi stunting di sektor kesehatan, khususnya gizi, adalah gerakan Scaling Up Nutrition (SUN) yaitu gerakan penyadaran gizi secara nasional,yang menyatakan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan makanan yang baik dan sehat. SUN saat ini memang diprioritaskan pada 1000 hari pertama kehidupan (1000 HPK). Kecukupan Zn memiliki pengaruh yang signifikan pada perubahan status gizi,yang diukur dengan Z-score (tinggi badan/umur). Dengan pemberian asupan Zn yang cukup, maka akan membantu mengatasi terjadinya stunting.

Penulis: Mahmudah

Detail tulisan ini dapat diakses di:

http://medicopublication.com/index.php/ijphrd/article/view/6384/5914

Nailul Izza, Windhu Purnomo dan Mahmudah. 2019. Factors Affecting the Occurrence of Stunting in Indonesia.  Indian Journal of Public Health Research & Development  (Vol.10 ;  No. 10).

DOI Number: 10.5958/0976-5506.2019.03114.0

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu