Menilik Faktor Penyebab Anak Mengalami Stunting dan Wasting

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Twitter

Pemberian ASI eksklusif memiliki banyak sekali kandungan nutrisi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan tumbuh kembang anak. Sementara di Indonesia, pemberian ASI eksklusif masih menjadi tantangan tersendiri karena beredar banyak mitos dikalangan masyarakat. Cukup banyak ibu yang akhirnya tidak memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan kepada anaknya karena terpengaruh dari mitos-mitos tersebut. Berdasarkan beberapa penelitian, ASI eksklusif mampu meningkatkan kelangsungan hidup anak yang berkaitan dengan perkembangan tubuhnya sehingga dapat terhindar dari wasted dan stunting. Dalam memenuhi kebutuhan gizi anak, ibu harus memberikan ASI secara eksklusif sampai 6 bulan dan hingga anak berumur 2 tahun ibu tetap bisa terus memberikan ASI dan untuk memenuhi kebutuhan gizinya harus diberikan makanan tambahan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan usianya.

Dari hasil penelitian yang kami lakukan, sebenarnya sudah cukup banyak ibu yang sadar akan pentingnya pemberian ASI eksklusif, namun tetap masih cukup banyak anak yang mengalami stunting walaupun telah diberikan ASI secara eksklusif. Tentunya kejadian stunting pada anak dipengaruhi oleh beberapa faktor tidak hanya dari faktor pemberian ASI eksklusif. Beberapa faktor lain yang dpaat mempengaruhi stuntinga antara lain berat badan lahir bayi rendah, rendahnya hygiene sanitasi di tempat tinggal sehingga berisiko anak terkena bateri yang dapat mengganggu tumbuh kembang anak, janin kurang mendapat asupan nutrisi pada saat di dalam kandungan dan tidak melaksanakan imunisasi secara langsung.

Terdapat beberapa indikasi yang memang perlu untuk dilakukan penelitian lanjutan yaitu mengenai pola konsumsi ibu, dari selama mengandung hingga pada saat menyusui. Kualitas ASI dipengaruhi juga oleh asupan nutrisi yang dikonsumsi oleh ibu, apabila selama menyusui ibu tidak mengoptimalkan untuk mengonsumsi makanan-makanan yang  bergizi, maka nutrisi yang didapatkan oleh anak melalui ASI yang diberikan pun tidak bisa maksimal.

Sehingga perlu diberikan tambahan pengetahuan kepada para ibu bahwa tidak cukup hanya memberikan ASI, jika ingin mendapatkan manfaat yang maksimal bagi anak, maka sang ibu juga harus memperhatikan dengan betul asupan nutrisi yang dia konsumsi karena asupan tersebutlah yang juga akan di dapatkan oleh sang anak.

Terkait kejadian wasting yang dialami oleh anak-anak di daerah tempat kami melakukan penelitian sebenarnya tidak terlalu besar, namun jika melihat kondisi wilayah tempat tinggal, seharusnya kejadian wasting bisa di cegah dengan maksimal sebab akses untuk mendapatkan kebutuhan pagan masih cenderung mudah dan tingkat sosial ekonomi keluarga juga cenderung sudah level menengah. Tidak hanya pemberian ASI eksklusif saja yang menyebabkan wasting pada anak namun beberapa variabel lain juga ikut berperan dalam penyebab wasting seperti pengetahuan, sikap, perilaku dan karakteristik ibu terhadap ASI eksklusif. Pada kasus wasting, hampir sama dengan yang terjadi pada kasus stunting, ibu kurang memiliki pengetahuan yang cukup yang akhirnya berdampak pada sikap para ibu dalam memberika makanan kepada anak-anaknya, “yang penting anak mau makan”, sebagian besar memiliki prinsip seperti itu. Padahal makanan yang dikonsumsi oleh anak terkadang tidak sesuai dengan asupan nutrisi yang sebenarnya mereka butuhkan, biasanya lebih cenderung terlalu banyak karbohidrat atau lemak dan kurang memperhatikan bahwa protein juga penting apalagi diusia anak-anak untuk proses tumbuh kembangnya.

Sehingga kasus stunting dan wasting yang dialami oleh anak-anak di daerah tersebut memang perlu dilakukan lebih lanjut dan spesifik sebab apabila hanya dilihat sekilas, pemberian ASI sebenarnya sudah tidak menjadi masalah utama, tapi yang masih perlu dipertanyakan kenapa kasus stunting dan wasting masih terus ada dan setelah dilakukan observasi ternyata benar hal tersebut berkaitan lagi dengan pengetahuan dan sikap para ibu dalam mengonsumsi makanan baik bagi dirinya sendiri maupun bagi anak-anak mereka.

Pentingnya asupan zat gizi yang seimbang bagi ibu hamil dan menyusui, serta bagi anak-anak inilah yang menjadi tanggung jawab pemerintah setempat untuk mensosialisakannya lebih lanjut karena sebenarnya dari segi geografis daerah dan kondisi sosial ekonomi masyarakat di daerah tersebut, seharusnya tidak menjadi masalah selama mereka memiliki pengetahuan yang baik dan dapat menerapkannya di kehidupan sehari-sehari sebagai new life style.

Penulis: Shintia Yunita Arini, SKM., M.KKK

Judul Artikel: The Relationship Between Exclusive Breastfeeding practice and The Phenomenon of Wasting and Stunting in Leran village, Bojonegoro, Indonesia.

Link Jurnal: https://www.psychosocial.com/article-category/issue-9/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu