Corona Kian Menjadi: Masyarakat yang Tak Mawas Diri Atau Kebijakan yang Setengah Hati?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Inilahfoto.com

Terhitung lebih dari 3 bulan sudah kebijakan WFH (Work Form Home) disuarakan oleh pemerintah guna memutus rantai penyebaran virus Covid-19. Sejak maret 2020 lalu, seluruh aktivitas mulai dari pekerjaan kantor, pendidikan bahkan sampai kegiatan keagamaan harus dilakukan di rumah, kebijakan PSBB pun sudah diterapkan oleh beberapa daerah dengan trend dan jumlah pasien penderita Covid-19 yang dikategorikan dalam zona merah. Dalam kurun waktu itu juga pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Quartal 1 hanya mencapai 2.97% yang menunjukan adanya perlambatan karena aktivitas ekonomi yang menurun. Pekerja informal yang mengahruskan aktivitas fisik pun nyaris tak berpenghasilan sehingga pemerintah memberikan bantuan sosial kepada masyarakat kurang mampu.

Namun setelah segala upaya dan susah payah berbulan-bulan menghadapi pandemi tersebut, jumlah pasien postif Covid-19 di Indonesia tak mengalami penurunan dan kian meningkat hingga mencapai 25.000 pada akhir Mei 2020. Sehingga pemerintah menyatakan “Berdamai dengan corona” melalui himbauan New Normal yang dinilai oleh banyak pihak adalah ungkapan yang tidak tepat, termasuk mantan Wakil Presiden Indonesia 2014-2019 Jusuf Kalla yang dimuat dalam Kompas.com. Tak sedikit pula yang berpendapat bahwa kata berdamai disini adalah penghalusan dari kata menyerah melawan Covid-19. Selepas himbauan New Normal  diterapkan, sebaran covid-19 kian massif dan tak terkendali. Pertambahan pasien positif bisa mencapai 1000 orang perhari. Terhitung hingga Sabtu 15/08 data dari Kemkes.go.id jumlah positif covid sudah mencapai 135.000 dengan pasien sembuh 89.618 dan meninggal 6.021. Pertumbuhan ekonomi juga kian memburuk, menurut data dari BPS (Badan Pusat Statistik) yang dimuat dalam bps.go.id pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Quartal ke II 2020 ini minus 5.32% yang merupakan penurunan PDB terburuk sejak 1999. Ibarat buah simalakama yang sudah habis tertelan namun dampak buruknya kita rasakan semua.

Lantas, apakah semua yang telah kita lakukan dalam 6 bulan ini sia-sia? Ekonomi dan pembangunan yang dikorbankan untuk mencegah wabah menjadi tak berarti jika melihat perkembangan kasus Covid-19. Dan bahkan ahli epidemologi FKM UI Pandu Riono dalam dikusi di Indonesia Lawyers Club selasa (11/08) memvonis kita gagal dalam tangani pandemi.

Mati Kelaparan atau Mati Karena Corona

Sering kita mendengar sebuah narasi yang mejadikan rendahnya kedisiplinan dan kesadaran masyarakat terhadap himbauan pemerintah sebagai kambing hitam yang menyebabkan gagalnya kita dalam menghadapi pandemi. Penulis disini agak kurang setuju akan pernyataan tersebut. Karena bagi mereka yang kurang mampu hanya dihadapkan pada pilihan mati karena covid-19 atau mati karena kelaparan sehingga memaksa mereka mengindahkan ancaman covid-19 dan menaruh harapan pada taruhan bahwa mereka belum pasti mati karena virus namun pasti mati karena tidak makan.

Kebijakan Yang Setengah Hati

Selain itu, kebijakan yang dibuat pemeritah penulis nilai masih setengah-setengah. Berbeda dengan beberapa Negara  Asean seperti Vietnam, Thailand atau Malaysia dengan segera mengerluarkan kebijakan karantina bagi pendatang dari luar dan menutup perjalanan dengan china serta menghimbau  PSBB segera saat kabar pandemi dimulai, kita justru masih bersantai dan menunggu adanya kasus positif baru bereaksi. Penegakan peraturan dibeberapa negera tersebut juga sangat ketat.

Dilansir oleh Timesindonesia.co.id  untuk menegakkan aturan Covid-19 Malaysia langsung menurunkan 50.000  Angkatan Tentara Malaysia. Sementara Indonesia hanya terus menyuarakan himbauan-himbauan belaka dan bahkan PSBB saja tak sepenuhnya ditegakkan, saat pasar konvensional dipaksa tutup ada beberapa mall yang malah masih diijinkan dibuka. Penulis berpendapat bahwa untuk pendisiplinan masyarakat komunal, tidak cukup hanya dengan himbauan melainkan dengan peraturan yang ketat, apalagi dengan masyarakat Indonesia yang mayoritas memiliki asas kepatuhan yang rendah.Tes rapid yang tidak dilakukan secara massif juga menjadi faktor utama gagalnya kita tangani pandemi. Karena rapid tes yang tak menyeluruh statistik pasien covid kita relatif rendah jika dibandingkan dengan jumlah penduduk kita sehingga membuat masyarakat terlalu percaya diri dan kurang memperhatikan himbauan pemerintah.

Terlepas dari itu, menghadapi pandemi Covid-19 ini adalah tanggung jawab kita semua. Tidak hanya mengandalkan peran dari pemerintah namun masyarakat juga harus bersinergi supaya curva pertumbuhan pasien Covid-19 ini dapat menurun. Jangan lupa selalu pakai masker, jaga jarak dan selalu cuci tangan di air mengalir.

Penulis: Ivan Syahrial Abidin (Mahasiswa Akuakultur PSDKU UNAIR di Banyuwangi)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu