Penurunan Risiko Kanker Rongga Mulut Melalui Olahraga

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh KlikDokter

Kanker merupakan penyakit yang mematikan dengan angka mortalitas yang tinggi. WHO mencatat, pada tahun 2018 terdapat 18,1 juta kasus baru kanker dengan angka mortalitas 9,8 juta. Sementara data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018 menunjukkan prevalensi penyakit  tidak menular mengalami peningkatan dibanding tahun 2013. Termasuk diantaranya prevalensi penyakit kanker, meningkat dari 1,4% menjadi 1,8%. Kanker rongga mulut, merupakan kanker kepala leher dengan angka kematian paling tinggi dibanding seluruh jenis penyakit keganasan. Di dunia global, ditemukan lebih dari 550.000 kasus dengan jumlah kematian 380.000.

Saat ini kanker rongga mulut banyak menyerang kelompok usia di bawah 40 tahun dibanding tiga dekade yang lalu, menyerang 3 kali lebih banyak pada pria dibanding wanita, dan jenis yang paling banyak ditemukan adalah kanker sel skuamosa rongga mulut (96,7%). Faktor risiko terjadinya kanker sel skuamosa rongga mulut diantaranya adalah merokok, konsumsi alkohol, infeksi bakteri dan virus, malnutrisi, iritasi gigi tiruan dan penurunan daya tahan tubuh; dan rokok merupakan faktor risiko yang tertinggi. Konsumsi rokok di Indonesia menempati urutan ke-3 di dunia, setelah Cina dan India.

Pada rokok terkandung bahan yang dapat menyebabkan sel mengalami mutasi, yaitu benzopyerene. Benzopyrene bisa masuk ke dalam tubuh kita dengan cara kita hirup, atau masuk bersama bahan makanan atau minuman yang kita konsumsi. Makanan yang dibakar atau diasapi, berpeluang untuk merubah sel yag sehat menjadi sel yang mutasi, yang menyebabkan terjadinya kanker.

Saat ini upaya yang telah banyak dilakukan terhadap penyakit kanker adalah tindakan kuratif, sementara tindakan pencegahan masih minim. Berbeda dengan penelitian lainnya yang menguji coba obat-obatan untuk mengatasi kanker, namun penelitian ini mengupayakan usaha preventif dengan cara fisiologis, yaitu dengan memanfaatkan olahraga. Olahraga telah diketahui memiliki dampak positif terhadap kesehatan tubuh, seperti mencegah obesitas, diabetes mellitus, penyakit jantung dan stroke, osteoporosis, menurunkan risiko hipertensi dan yang lainnya. Selain itu olahraga juga bisa memperbaiki suasana hati.  Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa olahraga khususnya intensitas sedang dapat mencegah terjadinya kanker rongga mulut, parameter yang digunakan adalah ekspresi p53 mutan.

Penelitian ini menggunakan mencit sebagai hewan coba. Sebanyak 18 mencit dipilih secara acak kemudian dibagi menjadi 3 kelompok, yaitu kelompok control negative (A), control positif (B) dan perlakuan (C). Mencit yang digunakan berjenis kelamin jantan, berusia 8 minggu, dengan berat 25-35 gr. Sebelum dimulai penelitian, mencit diadaptasikan terlebih dahulu dengan lingkungan yang baru selama 1 pekan, baru kemudian mencit dibagi menjadi 3 kelompok. Pada kelompok A dan B, mencit hanya dikontakkan dengan air, 3x sehari, selama  3 bulan. Sedang pada kelompok C mencit diolahragakan, dengan intensitas 70% kemampuan renang maksimal, 3x sehari, selama 3 bulan. Karena kelompok A merupakan kelompok kontrol negatif, maka pada kelompok A hanya disuntikkan oleum olivarum, dengan dosis 0,08 mg; sedangkan pada kelompok B dan C, diinjeksikan benzopyrene 0,08 mg/0,04 ml oleum olivarum. Pada seluruh kelompok, injeksi diberikan pada mukosa bukal rahang atas kanan, yang dimulai pada minggu ke-5, selama 1 bulan.

Pada awal minggu ke-13, seluruh mencit diberikan anestesi eter, ditunggu sampai pingsan, baru diambil bendolan pada mukosa bukal rahang atas kanan. Selanjutnya mencit dimatikan dan dikubur. Ekspresi p53 mutan bisa diketahui melalui pengecatan imunohistokimia. Preparat imunohistokimia selanjutnya bisa dilihat di bawah mikroskop cahaya dengan pembesaran 400x. Data hasil pemeriksaan selanjutnya dianalisis dengan uji Kruskal Wallis, dilanjutkan dengan uji  Mann-Whitney.

Hasil analisis menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan diantara seluruh kelompok, yang mana penurunan ekspresi p53 mutan pada kelompok olahraga intensitas sedang lebih tinggi dibanding dua kelompok lainnya. p53 mutan merupakan protein yang mencerminkan adanya keganasan, akibat adanya mutasi pada protein p53 (wild p53). Lebih dari 50% keganasan, mengandung p53 mutan. Olahraga dapat menyebabkan terjadinya apoptosis sel yang sakit, yaitu sel yang mengandung protein p53 mutan. Hasil riset ini menunjukkan bahwa olahraga dapat digunakan sebagai salah satu upaya preventif untuk menurunkan risiko terjadinya kanker, khususnya karsinoma sel skuamosa rongga mulut. Olahraga yang memiliki manfaat ini adalah olahraga intensitas sedang, dengan dosis 50-70% kapasitas kerja maksimal, yang dilakukan secara teratur, 3x per minggu, minimal selama 2 bulan.

Penulis: Dr. Anis Irmawati, drg., MKes

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  Anis Irmawati, Ari Tri Wanodyo Handayani, Noor Faizah Balqis, Meircurius Dwi Condro Surboyo (2020). The Decreased of p53 Mutant Expression on Squamous Cell Epithelial of Oral in Mus musculus by Moderate Intensity of Exercise. Malaysian Journal of Medicine and Health Sciences 16(Supp 4):2636-9346, July 2020

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu