Variasi Genetik Entamoeba Patogen pada Babi dan Implikasinya sebagai Zoonosis di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Variasi Genetik Entamoeba Patogen. (Sumber: Unud)

Perkembangan studi entamoeba pada babi cukup menarik untuk dipelajari. Secara garis besar terdapat tiga penyakit penting yang mempengaruhi produktifitas ternak babi, yaitu penyakit pernafasan, infeksi gastrointestinal parasit dan penyakit kulit. Namun, terkadang peternak kurang peduli terhadap aspek kesehatan ternaknya sehingga memicu terjadinya mortalitas yang tinggi, terutama pada masa anak-anak atau masa sapih ternak. Salah satu agen penyakit gastrointestinal yang menimbulkan kerugian ekonomis adalah infeksi Entamoeba spp.

Sebelum tahun 2014, para peneliti berkeyakinan bahwa hanya E. hystolitica yang bersifat patogen pada peternakan babi. Namun, teori ini menjadi kurang relevan ketika beberapa peneliti dari Jepang berhasil mengindentifikasi E. suis dan E. polecki sebagai penyebab utama kematian babi pada tiga peternakan babi komersial. Babi yang menderita entamoebiasis menunjukkan gejala klinis diare dan pada pemeriksaan patologis terlihat adanya pembengkakan usus halus, pendarahan, terjadi ulkus dan nekrotik serta terdapatnya sel-sel radang pada lapisan lamina propria dan jaring mukosa. Sejak hasil-hasil tersebut dipublikasikan pada tahun 2014 dan 2015, para peneliti tertarik untuk lebih mendalami karakteristik dari Entamoeba spp yang menginfeksi ternak babi.

Sejauh ini, studi identifikasi Entamoeba spp banyak dilakukan secara morfologis dibawah mikroskop. Laporan yang menyebutkan bahwa 84,7% ternak babi di Bali menderita entamoebiasis juga hanya berdasarkan morfologi. Keadaan ini berpotensi menimbulkan kesalahan dalam diagnosa karena pengamatan secara morfologi tidak dapat membedakan spesies Entamoeba, bahkan karakterisitiknya hampir mirip dengan spesies parasit yang lain. Oleh karena itu, teknik molekular menjadi andalan untuk menjawab kontroversial ini, karena teknik tersebut diyakini memiliki tingkat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi.

Para peneliti juga telah banyak mendisain beragam primer DNA spesifik untuk penegakan diagnostik Entamoeba spp, bahkan hingga ke tingkat sub type spesies, seperti studi yang dilakukan pada 29 peternakan babi yang tersebar ditujuh kecamatan di wilayah Kabupaten Tangerang. Penentuan sub type E. polecki (ST-1 sampai ST-4) dalam suatu penelitian menjadi penting mengingat sub type tersebut telah diketahui mampu menular ke manusia (zoonosis).

Infeksi parasit pada peternakan babi

Sebanyak 28 dari 29 peternakan babi yang diperiksa diketahui telah terinfeksi oleh gastrointestinal parasit. Selain melakukan investigasi terhadap infeksi Entamoeba spp (85,2%), studi ini juga menganalisis prevalensi untuk agen parasitik lainnya, antara lain Eimeria spp/Cystoisospora (79,1%), Strongyles (55,6%), Strongyloides (6,1%), Ascaris suum (4,59%) dan Trichuris suis (1,02%). Hasil ini mengindikasikan bahwa prevalensi parasitik dipeternakan babi tersebut sangat tinggi. Faktor yang diduga berkontribusi terhadap tingginya prevalensi parasit tersebut adalah kontak antara babi dengan cysts atau oocysts sebelum feses dibersihkan dari kandang. Disamping itu, faktor keberadaan cysts atau oocysts yang menetap dilantai juga berperan dalam penularan penyakit ini. Kondisi ini akan terjadi secara terus menerus menjadi sumber penularan ke ternak-ternak yang sehat.

Analisis molekular dan variasi genetik Entamoeba spp.

Berdasarkan analisis molekular diketahui bahwa prevalensi E. suis (81,1%) lebih dominan daripada E. polecki (28,57%). Data ini terbilang sangat tinggi jika dibandingkan prevalensi E. suis dan E. polecki di China yang hanya berkisar 13,0% dan 0,8%. Sebanyak dua dari empat subtype E. polecki juga berhasil diidentifikasi, yaitu ST-1 (18,4%) dan ST-3 (17,3%). Studi ini juga menginformasikan bahwa Menariknya, hasil analisis pohon filogeni menunjukkan adanya sub-subtype baru E. polecki yang belum pernah dilaporkan didunia, yaitu ST-1.1. Adapun sub-subtype ST-1.2 pada studi ini pernah ditemukan pada peternakan babi di Tangkoko, Sulawesi Utara. Hasil ini mengindikasikan bahwa E. polecki ST-1.1, ST-1.2 dan ST-3 merupakan strain entamoeba yang tersebar di Indonesia, disamping E. suis.

Implikasi zoonosis

Umumnya sampel babi diperoleh dari peternakan tradisional dengan bangunan kandang yang terbuat dari bata atau bambu dan berlantai tanah/semen. Letak kandang babi juga berdekatan dengan rumah peternak atau disekitar pemukiman penduduk. Berdasarkan sistem manajemen pemeliharaannya, sebagian besar babi dikandangkan, namun beberapa diantaranya berkeliaran dilingkungan rumah. Keadaan ini membuat lingkungan sekitar pemukiman tercemar oleh feses babi yang berimplikasi terhadap penyakit-penyakit parasit yang ditularkan melalui feses.

Sanitasi dan higenitas kandang juga masih jauh dari standar kesehatan, apalagi disaat musim penghujan. Kondisi ini patut mendapat perhatian mengingat jenis E. polecki yang dideteksi pada lokasi tersebut adalah ST-1 dan ST-3 yang telah dilaporkan mampu menginfeksi manusia. Oleh karen itu, untuk mencegah penularan entamoebiasis pada manusia diperlukan kerjasama dari pihak-pihak terkait yang mampu memberikan pemahaman kepada para peternak sehubungan dengan managemen pemeliharaan babi yang baik dan benar, termasuk mencegah terjadinya kontimasi agen parasitik (feses) ke lingkungan sekitar pemukiman.

Penulis : April Hari Wardhana

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://link.springer.com/article/10.1007/s00436-020-06806-0

Berita Terkait

Binti Q. Masruroh

Binti Q. Masruroh

Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

Leave Reply

Close Menu