Validasi Pengelompokan Helicobacter pylori CagA dengan Imunohistokimia: Aplikasi Nasional di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pemeriksaan Imunohistokimia. (Sumber: Halodoc)

Infeksi Helicobacter pylori merupakan faktor penyebab penting dalam perkembangan spektrum penyakit gastrointestinal yang luas seperti gastritis, tukak lambung, tukak duodenum dan kanker lambung. Keparahan penyakit dilaporkan berkaitan dengan faktor virulensi H. pylori yaitu, duodenal ulcer promoting factor (dupA), outer inflammatory protein (oipA), dan cytotoxin-associated gene A (CagA). CagA diyakini sebagai salah satu protein H. pylori yang paling penting yang berhubungan dengan peradangan mukosa lambung, sehingga CagA menjadi faktor virulensi H. pylori yang paling banyak dipelajari.

Protein CagA dimasukkan ke dalam sel inang melalui cag pathogenicity island (cag PAI) type IV secretion. CagA dibedakan secara struktural dengan adanya urutan asam amino lima berulang yang terletak di C terminus, terdiri dari asam glutamat-prolin-isoleusin-tirosin-alanin (EPIYA). Secara umum, tipe CagA dibagi menjadi CagA tipe Barat dan CagA tipe Asia Timur. Namun, kami sebelumnya melaporkan jenis CagA unik yang disebut CagA jenis ABB, yang ditemukan di strain H. pylori yang diisolasi terutama di Pulau Papua, Indonesia.

CagA tipe ABB diidentifikasi oleh EPIYA-A dan EPIYA-B, tetapi diikuti oleh EPIYA-B. Kami juga melaporkan bahwa ada genotipe CagA unik yang ditemukan di Pulau Papua, yaitu memiliki Motif AB- dan B-. Namun karena kemiripannya dari segmen-B antara CagA tipe-AB dan CagA tipe-B dengan CagA tipe-ABB, kedua tipe ini dianggap sebagai subtype yaitu tipe ABB. Jenis CagA yang dominan mungkin berbeda antar populasi dan dilaporkan berkaitan dengan faktor geografis. Misalnya, CagA tipe Asia Timur dilaporkan sebagai tipe dominan di Jepang, Thailand, dan Indonesia, sedangkan CagA tipe Barat adalah jenis dominan di Bangladesh, Myanmar, dan Mongolia.

Penentuan status dan genotipe CagA utamanya menggunakan polymerase chain reaction (PCR) dan sekuensing wilayah EPIYA di regio 3′ dari cagA. Namun, metode ini cukup mahal dan tidak dapat diakses di beberapa daerah karena kurangnya kultur H. pylori dan fasilitas sekuensing genom. Oleh karena itu, metode imunohistokimia mungkin menjadi alat yang berharga untuk menentukan status pasien CagA yang terinfeksi H. pylori. Antibodi spesifik anti-East Asian CagA (α-EAS) yang khusus untuk CagA tipe Asia Timur telah dikembangkan sebelumnya. Antibodi ini dilaporkan berguna untuk tujuan deteksi CagA tipe Asia Timur secara imunohistokimia di negara-negara Asia Timur dan Asia Tenggara, seperti Jepang, Thailand dan Vietnam.

Indonesia adalah negara yang terdiri dari ribuan suku dan umumnya memiliki prevalensi H. pylori yang rendah. Namun, beberapa etnis memiliki prevalensi infeksi H. pylori yang tinggi, seperti Batak, Papua, dan Bugis. Sayangnya, saat ini hanya ada 313 rumah sakit yang memiliki sistem endoskopi dan hanya ada sedikit pusat kesehatan dengan fasilitas kultur H. pylori dan sekuensing genom, terutama terletak di pulau utama, yaitu Jawa. Metode yang lebih mudah dan lebih cepat seperti endoskopi untuk membantu memastikan status CagA sangat diperlukan, seperti imunohistokimia.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Departemen Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran, RSUD Dr. Soetomo, Institute of Tropical Disease, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan penelitiannya pada salah satu jurnal internasional, yaitu Acta Histochemica, yang berfokus untuk memvalidasi 2 jenis antibodi, antibodi anti-CagA dan antibodi α-EAS untuk menentukan CagA status dengan metode imunohistokimia dalam skala nasional di Indonesia. Selain itu, peneliti juga menganalisis hubungan antara histological score dan imunohistokimia.

Dalam penelitian ini, imunohistokimia dilakukan dengan menggunakan antibodi anti-CagA dan antibodi α-EAS pada spesimen biopsi lambung dari total 967 pasien Indonesia. Nilai diagnostik imunohistokimia dievaluasi dengan sekuensing berbasis PCR sebagai standar emas. Antibodi Anti-CagA memiliki sensitivitas sebesar 87.0%, spesifisitas sebesar 100%, dan akurasi sebesar 98.8% untuk menentukan status CagA. Akan tetapi, antibodi α-EAS tidak cocok untuk tujuan penentuan status CagA, dikarenakan memiliki sensitivitas rendah yaitu sebesar 23,9%. Spesifisitas tinggi (97,6%) tetapi sensitivitas rendah (41,2%) dan akurasi (66,3%) diamati pada antibodi α-EAS untuk mendeteksi CagA tipe Asia Timur. Pasien dengan hasil imunohistokimia positif penggunaan antibodi anti-CagA memiliki skor infiltrasi monosit yang lebih tinggi secara signifikan di antrum (P <0,001) dan korpus (P = 0,009).

Kesimpulan penting dalam penelitian ini adalah antibodi anti-CagA masih cocok digunakan di Indonesia untuk menentukan status CagA, sedangkan antibodi α-EAS tidak sesuai untuk membedakan jenis CagA Asia Timur dan jenis CagA non Asia Timur di Indonesia.

Informasi yang lebih rinci dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Acta Histochemica, berikut kami sertakan link rujukannya,

https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0065128120300933

Penulis: Muhammad Miftahussurur

Berita Terkait

Binti Q. Masruroh

Binti Q. Masruroh

Alumnus Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga

Leave Reply

Close Menu