Efek Gangguan Kesehatan Mental Terhadap Kualitas Hidup Anak dengan Lupus Nefritis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Suara.com

Gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan tidak efektifnya koping keluarga pada anak dengan lupus nefritis dapat meningkatkan derajat keparahan dan memengaruhi tatalaksana penyakit, sehingga memberi dampak terhadap kualitas hidup dari anak dengan lupus nefritis.

Sampai saat ini belum didapatkan penelitian yang melaporkan dampak dari gangguan kecemasan, depresi, koping keluarga terhadap kualitas anak dengan lupus nefritis. Padahal untuk mendukung keberhasilan tatalaksana penyakit diperlukan deteksi dini, sehingga dapat mengidentifikasi apakah terdapat gangguan kesehatan mental dalam menghadapi keadaan tersebut, dan dapat dilakukan penanganan sejak dini sesuai tingkat gangguan kesehatan mental yang dialami. Maka kami tertarik dan merasa perlu untuk dilakukan penelitian untuk mengidentifikasi efek tingkat kecemasan, depresi, dan koping keluarga terhadap anak dengan lupus nefritis.

Kesehatan Mental dan Kualitas Hidup Anak dengan Lupus Nefritis

Peningkatan kemajuan obat-obatan saat ini memberikan rentang hidup yang lebih panjang pada penderita lupus nefritis, namun tetap memberikan keterbatasan pada penderita untuk melakukan kegiatan sehari-hari. Hal ini menyebabkan masalah baru terhadap penderita tersebut, yaitu masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi dan masalah dalam koping pada keluarga, sehingga memberi dampak pada kualitas hidup penderita.

Masalah kesehatan mental mempengaruhi tatalaksana dari penyakit lupus nefritis, yang merupakan salah satu penyakit kronis, karena dapat meningkatkan derajat keparahan dari penyakit dan menurunkan kualitas hidup anak dengan lupus nefritis. Gangguan kecemasan dan depresi pada anak semakin meningkat, dan prevalensi gangguan kecemasan dan depresi lebih tinggi pada anak dengan penyakit kronis lebih tinggi dibanding anak tanpa penyakit kronis dalam populasi secara umum. Gejala lupus nefritis sendiri secara alami mempunyai episode fase kekambuhan dan remisi yang juga dipengaruhi gangguan kesehatan mental.

Koping keluarga diperlukan dalam merawat penyakit pada anak, terutama pada anak dengan penyakit kronis seperti lupus nefritis, karena mempunyai jadwal ketat dalam melakukan pemberian pengobatan, baik dalam tatalaksana fase induksi untuk menurunkan tingkat keparahan derajat penyakit, yaitu selama 6 bulan harus bolak-balik masuk rumah sakit untuk pemberian obat secara intravena setiap bulan dalam waktu 3-4 hari setiap bulan, dimana obat tersebut juga memberi efek samping pada anak, sehingga anak mendapat situasi yang tidak menyenangkan, dilanjutkan fase pemeliharaan untuk memelihara kondisi stabil yaitu agar tidak didapatkan peningkatan keparahan derajat penyakit dengan memberi pengobatan jangka panjang seminimal mungkin yang dilakukan secara rawat jalan dengan melakukan pemeriksaan laboratorium setiap bulan. Sehingga diperlukan dukungan dan adaptasi (koping) keluarga terhadap kondisi anak tersebut dari berbagai segi.

Tujuan tatalaksana pada penyakit kronis, dengan bebagai masalah dalam kehidupan sehari-hati pada penderita adalah meningkatkan kualitas hidup semaksimal mungkin mendekati orang normal, sehingga penderita dapat melakukan kegiatan sehari-hari semandiri mungkin sesuai kemampuan yang dimiliki. Tentunya gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, dan minimnya koping keluarga akan memberi dampak penurunan kualitas hidup pada penderita. Maka perlu diketahui sedini mungkin tingkat gangguan kesehatan mental untuk mendukung tatalaksana pada anak dengan lupus nefritis.

Metode dan Hasil

Pada penelitian ini didapatkan 62 anak dengan lupus nefritis, 16 anak pada fase induksi dan 46 anak pada fase pemeliharaan. Tiap anak dilakukan pengukuran untuk mendapatkan tingkat derajat keparahan aktifitas penyakit, kecemasan, depresi, koping keluarga, dan kualitas hidup. Hasil pengukuran dibandingkan antara kelompok fase induksi dengan fase pemeliharaan.

Hasil analisis menunjukkan tingkat kecemasan, depresi, tingkat derajat keparahan penyakit yang lebih tinggi secara signifikan lebih tinggi pada kelompok fase induksi; sedangkan koping keluarga dan kualitas hidup lebih tinggi pada kelompok fase pemeliharaan. Kecemasan dan depresi pada fase induksi dan pemeliharaan mengakibatkan penurunan kualitas hidup anak. Pada koping keluarga, fase induksi didapatkan subskala koping keluarga reframing dan mobilisasi keluarga berpengaruh terhadap kualitas hidup, sedangkan pada fase pemeliharaan subskala koping keluarga dukungan sosial dan mobilisasi keluarga berpengaruh terhadap kualitas hidup.

Hasil riset ini berimplikasi bahwa anak dengan lupus nefritis dimana memerlukan terapi jangka panjang akan berhadapan dengan masalah gangguan kesehatan mental. Maka perlu melakukan evaluasi gangguan kesehatan mental untuk meningkatkan kualitas hidup anak dengan lupus nefritis. Gangguan kesehatan mental menurunkan kualitas hidup pada anak dengan lupus nefritis dimana pada fase induksi kualitas hidup lebih rendah dari fase pemeliharaan, sehingga perlu dilakukan analisa tingkat gangguan kesehatan mental untuk memaksimalkan tatalaksana pengobatan pada anak dengan lupus nefritis.

Penulis: Azwin Mengindra Putera, dr., Sp.A (K)

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://www.dovepress.com/effect-of-mental-health-problems-on-the-quality-of-life-in-children-wi-peer-reviewed-article-NDT

Azwin Mengindra Putera, Irwanto Irwanto, Margarita Maria Maramis, Risky Vitria Prasetyo, Ninik Asmaningsih Soemyarso, Muhammad Sjaifullah Noer (2020). Effect of Mental Health on the Quality of Life in Children with Lupus Nephritis: Neuropsychiatric Disease and Treatment, 16: 1583-1593.

https://doi.org/10.2147/NDT.S250373

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu