Menilik Peluang Bisnis dari Sampah Milik Mohammad Baedowy Peraih Penghargaan Kalpataru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Mohammad Baedowy saat mengisi diskusi Business Talk on Friday melalui via aplikasi zoom. (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS – Menurut data Food and Agriculture Organization, Indonesia setiap tahunnya menghasilkan 69 juta ton sampah. Jumlah yang fantastis tersebut sayangnya tidak diikuti dengan pengolahan yang tepat, sehingga umumnya sampah tersebut menjadi barang tidak berguna dan sumber utama pencemar lingkungan.

Hal itu lah yang membuat Magister Manajemen Universitas Airlangga (UNAIR) menggelar diskusi Business Talk on Friday seri kelima yang bertajuk Peluang Bisnis dari yang Terbuang. Acara yang digelar pada Jumat (14/8/2020) tersebut secara umum ingin membuka pengetahuan peserta mengenai nilai ekonomis dan bisnis dari sampah.

Dimoderatori oleh Dosen Manajemen UNAIR Dr. Tri Siwi Agustina, SE. MSi serta Kepala Magister Manajemen FEB UNAIR Dr. Gancar C. Premananto, peraih penghargaan Kalpataru 2001 Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia Mohammad Baedowy hadir untuk membagikan pengalaman dan pengetahuannya dalam membangun bisnis recycling industry Majestic Buana Group.

Menurut Baedowy, sampah adalah salah satu potensi bisnis yang jarang dipahami dan dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia kebanyakan. Maka dari itu, circular economy adalah teori yang coba ia terapkan dalam merintis bisnis pengolahan sampah anorganik, khususnya sampah plastik. Pria yang mengawali karir sebagai auditor internal The Royal Bank of Scotland hingga kemudian banting setir menjadi ‘pemulung’ tersebut mengungkapkan bahwa bisnis daur ulang sampah sejatinya adalah bisnis yang ‘aman’ dengan modal rendah karena barang yang produksi tidak memiliki batas kedaluwarsa dan mudah ditemui.

“Leveling dari bisnis ini dimulai dari scavenger atau pemulung. Di atasnya ada pengepul sebagai bos pemulung. Kemudian sampah yang didapat disortir berdasar jenis dan warna. Setelah itu dicacah dan digiling sampai membentuk biji plastik seukuran beras. Terakhir ya dibuat barang jadi,” ungkap peraih penghargaan ASEAN Young Green Soldier 2011 serta penghargaan Industri Hijau Nasional 2010 Kementerian Perindustrian Indonesia tersebut.

Dalam perusahaan Baedowy, salah satu produk utamanya adalah biji plastik maupun perabot rumah tangga dari daur ulang plastik. Hingga kini, produknya telah diekspor ke mancanegara, khususnya Tiongkok. Omsetnya sendiri telah mencapai ratusan juta rupiah per bulan melalui pengolahan tiga ton biji plastik per harinya.

“Membangun bisnis itu bukan dipikirkan, tapi dilakukan. Ada aksinya. Dulu saya juga sempat hampir gagal, toko tempat produksi saya bahkan sudah ditutup. Mesin mau saya jual. Tapi keberanian untuk kembali mencoba dan pantang menyerah adalah kunci,” tuturnya.

Mesin-mesin yang selama ini digunakan dalam perusahaan Baedowy ia akui merupakan buatannya sendiri yang disesuaikan dengan pengalaman yang telah ia lihat dari daur ulang sampah. Hal tersebut yang membuat mesin daur ulang miliknya memiliki kelebihan, karena memang dibuat dengan mengatasi kekurangan dalam mesin daur ulang biasa.

Bagi mereka yang ingin belajar mengenai industri daur ulang sampah, Baedowy membuka kesempatan belajar yang seluas-luasnya di perusahaannya secara gratis. Hingga kini Majestic Buana Group sendiri telah memiliki mitra dan melakukan pengajaran bisnis dari Sabang sampai Merauke.  Melalui bisnis daur ulang sampah tersebut, Baedowy berharap agar masyarakat maupun pelaku industri dapat lebih memberikan perhatian terhadap pengolahan limbah dan sampah di Indonesia.

“Pelaku industri harus memiliki kesadaran bahwa sampah hasil produksimu, juga merupakan tanggung jawabmu. Sementara itu untuk masyarakat, mereka harusnya memulai usaha daur ulang sampah di tingkat terendah, rumah atau RT,” tandasnya.

Penulis: Intang Arifia

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu