Dongkrak Prestasi Mahasiswa Melalui Seminar KTI dan Bahasa Inggris

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Guna memotivasi mahasiswa dalam meningkatkan prestasi dalam bidang Karya Tulis Ilmiah (KTI), Hima Prodi D3 Teknik Laboratorium Medis (TLM) Fakultas Vokasi (FV) UNAIR menyelenggarakan seminar daring bertajuk ‘BIMASAKTI’. Kegiatan itu diadakan pada Sabtu pagi, (15-16/8/2020).


Nurida Alfi Mustafida selaku ketua Hima Prodi D3 TLM mengatakan bahwa materi dalam seminar itu tidak hanya perihal KTI, tetapi juga bahasa Inggris. Alasannya, lanjut Nurida, minat mahasiswa yang sangat besar terhadap penulisan KTI perlu diimbangi dengan kemampuan berbahasa Inggris yang mumpuni.


“Mahasiswa TLM sendiri sebenarnya sangat antusias terhadap karya tulis ilmiah. Kami (Prodi D3 TLM, red) bahkan sudah beberapa kali menjuarai lomba KTI tingkat nasional dan international,” ujarnya.


Pada hari pertama pelaksanaan, mahasiswa berprestasi UNAIR Moh. Wahyu Syafi’ul Mubarok berkesempatan menjadi pembicara. Dalam acara itu, Wahyu membagikan pengalamannya atas capaian dalam berbagai perlombaan KTI selama ini.


Menurut Wahyu, mengembangkan kemampuan menulis KTI bagi mahasiswa sangat menguntungkan. Selain dapat mengimplementasikan ilmu dan mengasah kemampuan berpikir kritis, KTI mengantarkan Wahyu menjadi Mahasiswa Berprestasi UNAIR.


Wahyu memang dikenal memiliki segudang prestasi, terutama dalam bidang KTI. Sepanjang 2019 saja, sebanyak 22 lomba telah dia menangkan. Bahkan mahasiswa Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR itu juga telah menerbitkan 11 buku yang dia tulis.


Dia menyampaikan, KTI yang baik setidaknya memenuhi enam hal. Pertama, pastikan KTI harus selesai. Selanjutnya, KTI harus dikerjakan sesuai panduan. Ketiga, orisinalitas dalam KTI adalah hal yang sangat penting.
Selain itu, KTI memerlukan pendahuluan yang kuat dan hasilnya harus menjawab tujuan yang dibuat. Terakhir, kata Wahyu, wajib mengecek ulang penulisan KTI yang telah selesai dibuat.


Selain itu, Wahyu juga mengungkapkan bahwa KTI dan esai ilmiah adalah dua hal yang berbeda. Bahkan, ucap dia, perbedaannya cukup mencolok. KTI wajib memiliki studi literatur, studi lapangan, dan studi laboratorium, sedangkan esai ilmiah adalah sebuah gagasan tertulis.
Selain itu, KTI tersusun atas lima Bab. Sementara esai ilmiah tersusun atas tiga bagian, yakni pandahuluan, isi, dan penutup. “Perlu diketahui, KTI dan esai ilmiah meskipun hampir mirip, tapi sebenarnya berbeda,” ujarnya.


Yang menarik, seluruh peserta menerima pelatihan KTI dan TOEFL dari pemateri secara langsung. Diketahui, sejumlah peserta juga mempresentasikan KTI selama seminar. Sementara itu, Total, sekitar 82 peserta mengikuti webinar tersebut.


Nurida berharap, acara tersebut dapat memberikan ilmu dan pengalaman baru bagi peserta, khususnya mahasiswa D3 TLM. Sehingga termotivasi dan terdorong untuk mengejar prestasi, baik di tingkat nasional maupun international.


“Semoga dengan adanya acara ini, teman-teman mahasiswa dapat lebih antusias lagi untuk mengikuti berbagai kompetisi. Sehingga dapat membawa nama baik prodi serta Universitas Airlangga di tingkat Indonesia maupun mancanegara,” harapnya. (*)


Penulis: Erika Eight Novanty
Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu