Sindrom Anak Tengah, Apakah Benar Ada?

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi anak tanpa saudara. (Foto : Pixabay)

UNAIR NEWS – Bagi pasangan yang telah menikah, anak merupakan karunia dari Tuhan sekaligus amanah yang perlu dijaga. Jumlah karunia tersebut tentu berbeda-beda antara satu pasangan dengan pasangan yang lain. Ada yang memiliki satu anak, dua, tiga, atau bahkan lebih.

Karakter dari setiap anak tentu juga berbeda-beda. Namun pada beberapa kondisi, tidak jarang terdapat kesamaan karakter anak yang satu dengan anak yang lain. Salah satu kondisi tersebut adalah urutan kelahiran. Beberapa orang percaya, urutan kelahiran anak berpengaruh terhadap kepribadian mereka. 

Rudi Cahyono, M.Psi., Psikolog, menjelaskan bahwa sebenarnya urutan kelahitan tidak terkait secara langsung dengan kepribadian anak. Namun, perlakuan orang tua dan atau lingkungan terhadap mereka sehubungan posisi anak dalam urutan kelahiran.

“Ketika anak merasa orangtua atau lingkungan memperlakukan dia secara berbeda atau ada perubahan karena kehadiran saudara, maka anak akan membuat reaksi atas situasi tersebut,” ucap dosen Fakultas Psikologi (FPsi) UNAIR yang akrab disapa Rudi tersebut.

Reaksi anak tergantung bagaimana perlakuan orang tua terhadap anak yang bersangkutan atau kepada saudaranya. Ada yang menunjukkan reaksi manja, rivalitas, menarik diri, dan lain sebagainya. Jika reaksi tersebut muncul secara intensi, maka akan dapat membentuk pola perilaku anak atau kepribadian anak.

Salah satu kepribadian anak yang menonjol ditunjukkan oleh anak tengah. Beberapa orang tua atau bahkan seorang anak, merasa bahwa anak tengah adalah anak yang paling bermasalah. Hal tersebut juga kerap dikaitkan dengan masalah psikologis anak tengah yang disebut Middle Child Syndrome.

Rudi menjelaskan, middle child syndrome merupakan sindroma anak tengah dimana anak berpikir, merasa dan bertindak sebagai bentuk pengelolaan harapan dan realita sehubungan dengan posisi kelahiran dia yang berada diantara kakak dan adik. Terdapat beberapa ciri anak yang mengalami sindrom tersebut.

Beberapa di antaranya adalah sensitif terhadap perlakuan orang tua; berusaha menarik perhatian; dan sering muncul reaksi seperti memberontak, menarik diri, marah, dan lain sebagainya bergantung pada bagaimana orang tua memperlakukan dia dan atau saudaranya.

“Anak yang mengalami syndrome tersebut sensitif terhadap perlakuan orang tua kepada dia atau kepada saudaranya. Anak yang bersangkutan mudah sekali menghubungkan perlakuan orangtua dengan posisi dia sebagai anak tengah,” lanjut Rudi.

Perlakuan orang tua yang dimaksud adalah seperti saat kelahiran anak pertama, orang tua secara dapat secara penuh memberikan perhatian kepada si anak pertama. Kemudian anak tengah lahir. Saat si anak tengah baru menikmati perhatian orang tua, lahir anak ketiga.

Pada saat itu terjadi, orang tua akan lebih memperhatikan anak ketiga. Sehingga anak tengah merasa terabaikan.

Reaksi anak tengah yang muncul atas perlakuan tersebut, kemudian tergantung bagaimana orang tua berupaya memoderasi situasi tersebut. Sayangnya, orang tua biasanya akan bertindak secara alamiah sesuai dengan energi yang mereka miliki. Terlebih seorang ibu.

“Ketika harus mengurus si kecil, biasanya secara alamiah anak kedua akan merasa perhatiannya terebut. Jika orang tua tidak segera menyadari, reaksi seperti marah, protes, memberontak, atau menarik diri bisa menjadi lebih intens,” terang Rudi.

Perbedaan reaksi tersebut sangat tipikal untuk masing-masing anak. Reaksi itu jugalah yang kemudian dapat membentuk diri si anak. (*)

Penulis : Galuh Mega Kurnia

Editor : Binti Q. Masruroh

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu