Melihat Progres dan Membentuk Strategi Pariwisata Pasca Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi Pariwisata Indonesia(Dokumentasi Biro Komunikasi Kemenparekraf)
Ilustrasi Pariwisata Indonesia(Dokumentasi Biro Komunikasi Kemenparekraf)

UNAIR NEWS – Selama pandemi COVID-19 salah satu sektor yang pertama kali dan paling terdampak adalah pariwisata. Menurut Ketua Departemen Bisnis Fakultas Vokasi UNAIR Dr. Sri Endah Nurhidayati., S.Sos., M.Si, terdapat beberapa dampak yang signifikan COVID-19 terhadap pariwisata. Dampak tersebut seperti pelarangan penerbangan, penutupan destinasi wisata, penurunan jumlah wisatawan, penurunan okupansi akomodasi, serta penurunan seluruh usaha turunan dari sektor pariwisata.

Kenyataan bahwa pariwisata hadir sebagai sentra perekonomian suatu wilayah akhirnya mendorong pemerintah daerah untuk lebih peka terhadap strategi manajemen pariwisata yang tepat seusai pandemi berakhir. Menurut Dr. Sri Endah, pemerintah harus mulai melakukan strategi perubahan melalui shifting tourism paradigm.

“Pariwisata dulu selalu orientasinya untuk hiburan, senang-senang. Sekarang, paradigmanya harus berubah. Pariwisata harus berorientasi akan tanggung jawab dan self-development baik oleh pengelola wisata maupun pengunjung,” kata Dr. Sri Endah dalam Kuliah Umum Vokasi UNAIR yang digelar pada Jumat (5/8/2020). 

Dr. Sri Endah mengatakan bahwa Indonesia akan menghadapi tantangan berat dalam mengembalikan gairah wisata pasca pandemi. Dia melihat bahwa nantinya orang-orang semakin selektif dalam memilih tujuan wisata karena adaptasi baru yang terbentuk akibat virus COVID-19. Mereka akan lebih memperhatikan bagaimana infrastruktur, sanitasi, dan kebersihan daripada sekadar keindahan atau daya tarik destinasi wisata.

Maka dari itu, mulai sekarang pengelola wisata dan pemerintah daerah harus bersiap membangun protokol dan sistem wisata yang terintegrasi. Sistem yang dimaksud oleh Dr. Sri Endah adalah next normal tourism yang berbasis pada safety, surprise, serta self-development.

“Pengalaman wisata yang berbeda tetap ditekankan. Tapi, juga perlu dikembangkan informasi dan teknologi komunikasi sehingga terbentuk paradigma industri pariwisata 4.0. Selain itu, customized approach harus jalan dengan orientasi lingkungan, perilaku wisatawan, sosio kultur, sama profit ekonomi,” ungkapnya.

SUASANA kuliah umum yang diisi oleh Dr. Sri Endah Nurhidayati., S.Sos., M.Si. (Foto: Istimewa)
SUASANA kuliah umum yang diisi oleh Dr. Sri Endah Nurhidayati., S.Sos., M.Si. (Foto: Istimewa)

Mengikuti perubahan sistem, harus diingat pula bahwa perilaku wisatawan juga harus turut berubah. Untuk mempertahankan sustainability, wisatawan harus mampu mengembangkan sikap hormat dan perilaku bertanggung jawab ketika mengunjungi destinasi wisata. Sehingga nantinya next normal tourism akan mampu dijalankan dengan baik.

Selain Dr. Sri Endah, acara yang bertajuk Menakar Kebijakan dan Pelaksanaan Pelayanan Publik di Masa Pandemi tersebut turut menghadirkan Walikota Bima, Nusa Tenggara Barat yang berbagi mengenai orientasi kebijakan dan pelayanan publik di Kota Bima selama pandemi. Gelaran kuliah umum hasil kolaborasi UNAIR, Pemkot Bima, dan provider by.U tersebut dihadiri oleh ratusan peserta dari kalangan mahasiswa, akademisi, maupun pejabat pemerintahan. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu