Mahasiswa Kembali Gerakkan Budaya Barter dan Ketahanan Pangan Desa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
KEGIATAN pelatihan dan penanaman bibit sayuran. (Foto: Widya)
KEGIATAN pelatihan dan penanaman bibit sayuran. (Foto: Widya)

UNAIR NEWS – Di tengah perekonomian dan pendapatan individu yang tidak menentu akibat pandemi COVID-19, salah satu tantangan terbesar bagi masyarakat adalah mempertahankan kebutuhan pangan. Hal tersebut yang kemudian mendorong Tim 301 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Airlangga (UNAIR) untuk menggerakkan kembali program ‘Sayang Tetangga’ di Desa Pulung Merdiko, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo.

Program Sayang Tetangga merupakan program milik Desa Pulung Merdiko yang diinisiasi kepala desa mereka. Ketua Tim Tony Pradibta (FEB) mengungkapkan bahwa desa tersebut memiliki potensi besar dalam usaha Gerakan Ketahanan Dapur yang juga tengah digencarkan pemerintah Kabupaten Ponorogo.

“Inisiasi program sejak 2019. Tapi, kemudian terhenti. Makanya, kita berusaha ikut terjun menggerakkan kembali program tersebut,” ungkapnya.

Ide utama program yang berlangsung pada tanggal 29 Juni 2020 sampai 25 Juli 2020 tersebut adalah mengajak setiap rumah untuk menanam sayur-sayuran sebagai konsumsi mandiri serta melakukan barter antar-tetangga pada hasil panen yang mereka inginkan.

Maka dari itu, agenda utama yang dijalankan tim KKN adalah sosialisasi, workshop, pembagian bibit tanaman, serta pelatihan penanaman sayuran di polybag. Mereka mulai bergerak dengan mengadakan sosialisasi PKK di tingkat desa, lalu secara bersama-sama mengajak ibu-ibu PKK untuk mengikuti workshop dan pelatihan penanaman sayur di tanah pekarangan maupun polybag.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta begitu antusias khususnya dalam diskusi yang juga diisi oleh perwakilan kelompok tani. Baik peserta maupun pemateri sama-sama membagikan pengalaman, tips, maupun informasi yang mereka miliki mengenai berkebun dan hidroponik.

Selanjutnya, tim KKN mengajak warga untuk praktik langsung dan membagikan berbagai jenis bibit tanaman seperti cabai, seledri, terong, dan bawang merah. Kegiatan yang dilaksanakan di sekitar kolam ikan dan lahan pembibitan Desa Pulung juga dikemas dalam bentuk lomba agar warga desa semakin antusias.

“Nah, nantinya saat penanaman sudah menghasilkan sayur yang bisa dikonsumsi, kita mendorong warga untuk melakukan barter bagi hasil panen yang berlebih,” kata salah seorang anggota tim Naura Ardianasari (FISIP).

TIM KKN, warga, dan pendukung kegiatan. (Foto: Nimas)

Sistem barter tersebut menjadi poin penting karena diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri, candangan pangan, menekan biaya pangan keluarga, serta tentu membentuk ketahanan pangan di tingkat desa.

Tidak ingin lepas tangan, tim KKN juga membentuk grup online via Whatsapp yang ditujukan untuk pendampingan dan pengawasan seusai program workshop dan pelatihan dilaksanakan. Karena, mereka memandang bahwa optimalisasi dan keberlanjutan sangat penting untuk menunjang kesuksesan program.

“Ke depannya kami harap program ‘Sayang Tetangga’ bisa mendapat perhatian dari pemerintah kabupaten. Entah dalam bentuk bantuan pupuk, bibit, edukasi, maupun yang lain. Namun yang paling utama tentunya kami berharap program ini akan menjadi semakin masif sehingga Desa Pulung Merdiko dapat menjadi rujukan dalam bidang ketahanan pangan,” kata Triska Aulia (FEB) selaku wakil ketua.

Selain program Sayang Tetangga, KKN yang digawangi Desya Anisa (FH), Mayasari (FISIP), Hayu Kinanthi (FST), Mahliga Reza (FIB), Septiadita (FPK), dan Widya Puspatiara (FPK) tersebut turut mengadakan sosialisasi berantas DBD, pengelolaan sampah, hingga edukasi online mengenai COVID-19. Seluruh kegiatan sendiri dilaksanakan sesuai dengan protokol kesehatan physical distancing. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu