Potensi Wisata Warisan Budaya di Nusa Penida Bali Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh DetikTravel

Bali merupakan salah satu wilayah kepulauan Indonesia yang banyak dikunjungi oleh wisatawan asing, tercatat hanya selama bulan Januari hingga Juli 2019 terdapat 3.462.683 kunjungan. Mereka sebagian besar berasal dari Australia 20,40 %; Tiongkok 18,53 %; India 4,92 %; Inggris 4,72 %; Perancis 4,44 %; Amerika Serikat 4,35 %; Korea Selatan 3,85 %; Jepang 3,39 %; Jerman 3,31 %; Selandia Baru 3,02 % dan sisanya gabungan sejumlah negara lainnya 29,08 %.

Tingginya angka kunjungan wisatawan asing ke Bali menjadi angin segar bagi pemerintah Indonesia yang telah mencanangkan kunjungan 20 juta wisatawan asing di tahun 2019. Sejak lama, kepulauan Bali menjadi barometer wisata di Indonesia, sehingga kawasan pariwisata di Bali dapat dikatakan sebagai miniatur wisata di Indonesia. Sebab, objek wisata di Bali sudah mencakup berbagai macam destinasi yang ada di wilayah Indonesia.

Berdasarkan pengamatan di lapangan, wisatawan asing yang datang ke Bali masih banyak yang menambatkan pilihannya pada wisata pantai dengan tujuan khususnya adalah snorkeling di laut. Adapun salah satu lokus kegiatan wisata tersebut adalah di Pulau Nusa Penida yang berada di Kabupaten Klungkung. Disana terdapat deretan pantai sebagai spot snorkeling yang eksotis dengan pemandangan batu karang dan berbagai jenis ikan di dalamnya.

Menurut data dari situs perjalan TripAdvisor, Pantai Kelingking di Pulau Nusa Penida Kabupaten Klungkung Bali menjadi yang terbaik kedua di Asia setelah Pantai Radhanagar di Pulau Havelock, Kepulauan Andaman dan Nikobar di India. Selain itu Pantai Kelingking juga menjadi yang terbaik ke-10 tingkat dunia di bawah Manly Beach di Australia. Hal itu menjadikan jumlah kunjungan selalu meningkat dalam tiap tahunnya, misalnya di tahun 2018 yang mengalami peningkatan dari jumlah 333.148 di tahun 2017 menjadi 364.524 di tahun 2018.

Tingginya minat kunjungan wisatawan asing maupun lokal ke Pulau Nusa Penida Bali juga berdampak pada munculnya layanan sektor lain disana, terutama akomodasi hunian tempat tinggal. Sebagai gambaran, rata-rata jumlah kamar yang tersedia setiap hunian di Desa Sakti, Desa Toya Pakeh, Desa Ped, Desa Batu Nunggul, Desa Bunga Mekar dan Desa Semaya adalah antara 5-12 kamar. Menurut data yang ada, jumlah akomodasi milik masyarakat lokal pada tahun 2018 terdapat 247 buah yang tersebar di wilayah Pulau Nusa Penida.

Di Bali, warisan budaya merupakan komponen penting dalam kehidupan masyarakat, sehingga masih dimanfaatkan dan difungsikan dalam hidup keseharian sebagai simbol jati diri individu atau suatu kelompok. Merujuk pada beberapa statemen di atas, eksistensi kepariwisataan di Bali dapat berlangsung lama dengan syarat menekankan pada pengelolaan warisan budaya secara maksimal dan berkelanjutan.

Secara umum kepariwisataan yang mengubah budaya menjadi komoditas dengan mengemas dan menjualnya kepada wisatawan akan berdampak pada berkurang atau hilangnya keaslian, salah satunya adalah terkait dengan sebuah kerajinan, cara kerja, fotografi, keramahtamahan dan identias lokal. Atas dasar itulah, diperlukan proses identifikasi dan kodefikasi terkait prosentasi keaslian dengan modifikasi yang dilakukan, sehingga masih ada batas yang jelas diantara keduanya.

Melalui sektor kepariwisataan, budaya yang masih asli dapat ditampilkan, sehingga pemilik kebudayaan juga menyadari nilai dan keunikan dalam produk mereka melalui penerapan yang masih dibatasi oleh subjek dan objek yang terdefinisi secara spasial dan temporer. Dengan demikian, melalui sektor ini, masyarakat juga dapat mengetahui kehidupan lingkungan mereka di masa lalu dan posisinya di masa sekarang serta era mendatang, sehingga menciptakan sebuah identitas dirinya yang membedakan dengan masyarakat di luarnya.

Di tengah arus globalisasi dan jumlah kunjungan wisatawan asing yang semakin banyak, potensi terjadinya akulturasi budaya sangat besar, oleh sebab itu masyarakat lokal harus mempersiapkan diri dengan segala dampak yang masuk melalui sektor pariwisata. Agar budaya lokal tetap lestari di tengah arus globalisasi, maka salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan melakukukan komodifikasi dan kemudian menjadikannya sebagai atraksi wisata.

Adapun salah satu warisan budaya yang masih berlangsung di Nusa Penida adalah Seni Tari Rejeng Renteng, Seni Tenun Rangrang dan Seni Tenun Cepuk. Melalui usaha kepariwisataan, tiga warisan budaya tersebut harus menjadi katalisator bagi kehidupan sosial budaya di Nusa Penida agar tidak tergerus pada arus global yang mungkin dapat berdampak negatif. Dengan demikian, pariwisata di Nusa Penida banyak memberikan manfaat bagi kehidupan ekonomi masyarakat beserta budayanya.

Budaya lokal (daerah) merupakan wajah dari kebudayaan nasional, sehingga kekuatan budaya lokal mencerminkan eksistensi budaya nasional di tengah-tengah kehidupan global, seperti di Bali. Seni Tari Rejeng Renteng, Seni Tenun Rangrang dan Seni Tenun Cepuk sebagai budaya asli Bali yang dipertontonkan di Kepulauan Nusa Penida dapat menjadi suguhan bagi wisatawan asing dengan perspektif Indonesia. Sebab, dunia luar selalu mengenang budaya tersebut sebagai bagian dari Indonesia, oleh karena itu keberadaan budaya di daerah-daerah di nusantara harus dilestarikan melalui pemanfaatan dalam kepariwisataan.

Penulis: Nuruddin
Informasi detail dapat dilihat pada: https://www.psychosocial.com/all-volume-issues/ (Potential Tourism of Cultural Heritage in Nusa Penida Bali Indonesia)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu