Pakar: Hewan Kurban Tidak Berisiko Menularkan Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
PELAKSANAAN Pengmas Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR bertajuk ‘Pelatihan Pembuatan Disinfektan Untuk Menetralkan Pencemaran Coronavirus Pada Pemotongan Hewan Qurban 1441 H Bagi Para Takmir Se-Kota Surabaya’, Minggu (19/07/2020). (Foto: Erika Eight Novanty)
PELAKSANAAN Pengmas Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR bertajuk ‘Pelatihan Pembuatan Disinfektan Untuk Menetralkan Pencemaran Coronavirus Pada Pemotongan Hewan Qurban 1441 H Bagi Para Takmir Se-Kota Surabaya’, Minggu (19/07/2020). (Foto: Erika Eight Novanty)

UNAIR NEWS – Pelaksanaan ibadah kurban pada Idul Adha 1441 H kali ini menuai berbagai kecemasan masyarakat. Pasalnya tidak sedikit yang was-was terpapar Covid-19 dari hewan kurban.

Menanggapi hal tersebut, Prof. Dr. Suwarno, drh., M.Si. menyampaikan bahwa resiko penularan Covid-19 melalui hewan sangat kecil. Hal itu dia sampaikan dalam acara Pengabdian Masyarakat Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR yang bertajuk Pelatihan Pembuatan Disinfektan Untuk Menetralkan Pencemaran Coronavirus Pada Pemotongan Hewan Qurban 1441 H Bagi Pra Takmir Se-Kota Surabaya. Tepatnya pada Minggu (19/07/2020) kemarin.

“Hewan tidak beresiko tertular atau menularkan virus corona dari orang yang terkena Covid-19, tetapi yang berbahaya adalah penularan dari orang yang terkena Covid-19,” terangnya dalam acara yang diikuti lebih dari 160 takmir dari berbagai kota di Indonesia itu.

Suwarno menjelaskan, pada dasarnya struktur sel hewan tidak cocok dengan reseptor virus corona. “Sel pada manusia cocok dengan reseptor Covid-19, namun pada hewan berbeda. Sehingga inilah yang menyebabkan Covid-19 tidak dapat menular ke hewan,” jelas Dosen FKH UNAIR itu.

Dia menekankan, hewan kurban tidak memungkinkan menjadi perantara penularan Covid-19. Menurutnya, yang perlu diwaspadai adalah penularan dari manusia ke manusia. Maka dari itu, lanjutnya, pelaksanaan kurban harus menerapkan prokotol kesehatan.

“Tidak ada penularan Covid-19 dari manusia ke hewan atau sebaliknya. Yang ada adalah penularan dari manusia ke manusia. Untuk menghindari ini, kita harus menggunakan APD dan menerapkan protokol kesehatan. Panitia kurban harus benar-benar selektif dalam hal ini,” tandasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Departemen Klinik Veteriner FKH UNAIR Prof.  Dr. Wiwik Misaco Yuniarti, drh., M.Kes. melontarkan pernyataan serupa. Menurut dia, hingga saat ini tidak ada bukti ilmiah bahwa hewan menjadi sumber infeksi Covid-19 pada manusia.

Meski tidak memiliki resiko menularkan Covid-19, Wiwik berpesan bahwa pelaksanaan kurban kali ini harus tetap menjaga protokol kesehatan. Terutama bagi penjual, pemotong, dan pemroses hewan qurban serta pendistribusi daging.

“Segala hal mulai dari limbah, proses penyembelihan, pemotongan, hingga pengantaran harus diperlakukan berbeda dengan tahun sebelumnya. Pelaksaannya kali ini harus dilakukan dengan menerapkan protokol kesehatan,” kata dia.

Wiwik melanjutkan, pada intinya hal-hal yang harus diperhatikan adalah selalu melakukan physical distancing dan personal hygiene. Selain itu, panitia kurban wajib menerapkan higiene dan sanitasi di tempat penjualan maupun di tempat pemotongan hewan kurban, serta melakukan pemeriksaan kesehatan awal, seperti cek suhu kepada setiap panitia.

“Marilah kita bersama-sama menaati semua peraturan yang ada, agar kita dapat melakukan aktivitas Idul Adha dengan tenang, khitmad, dan aman,” pesan Wiwik.  (*)

Penulis: Erika Eight Novanty

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu