Temuan Isolat Bakteri Escherichia Coli Penghasil ESBL pada Peternakan Ayam

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Kompas.com

Penggunaan antibiotik di sektor hewan mencapai sekitar 80%, sebagian besar untuk meningkatkan pertumbuhan hewan yang sehat. Kasus residu antibiotik dalam produk unggas di Indonesia ditemukan di beberapa daerah dengan berbagai jenis antibiotik dan berkisar antara 8 hingga 70%. Hal ini menyebabkan terjadinya resistensi bakteri terhadap antibiotik unggas yang menjadi masalah utama dalam industri unggas Indonesia. Kecepatan penemuan jenis antibiotik baru lebih lambat daripada kecepatan peningkatan resistensi antibiotik yang menyebabkan kekhawatiran bahwa suatu hari tidak akan ada antibiotik yang efektif tersedia untuk pengobatan infeksi bakteri resisten. Potensi ini merupakan titik kewaspadaan penting bagi kesehatan hewan dan juga kesehatan manusia.

Beta-laktam, tetrasiklin, dan thylosine adalah antibiotik yang sering digunakan di beberapa peternakan unggas. Ada persepsi peternak bahwa penggunaan antibiotik sebagai tindakan pencegahan dengan biaya rendah, tidak memiliki efek samping. Peningkatan resistensi bakteri terhadap antibiotik secara umum menyebabkan pengobatan yang tidak efektif terhadap penyakit menular karena infeksi berlanjut dan meningkatkan risiko penyebaran isolat yang resisten kepada manusia.

Infeksi yang melibatkan isolat bakteri penghasil enzim extended spektrum beta laktamase (ESBL)dapat berakibat terjadinya epidemi yang memperburuk infeksi penyakit lain. Temuan bakteri penghasil ESBL 14,84% dalam produk olahan adalah masalah kesehatan masyarakat yang melibatkan lingkungan sebagai sumber penyebaran bakteri resisten (ESBL) untuk kesehatan manusia dan hewan. Ditemukannya Escherichia coli penghasil ESBL pada unggas di Indonesia telah dilaporkan dalam kotoran ayam broiler yang berasal dari rumah pemotongan ayam di Bogor dengan pemeriksaan deteksi molekuler menggunakan PCR 6%, dan pemeriksaan mikrobiologi klinis dengan metode uji sensitivitas antibiotik 25%. Di Jawa Timur, sedikit yang diketahui tentang kasus-kasus ESBL dari peternakan ayam petelur dan distribusinya. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi E. coli penghasil ESBL yang diisolasi dari swab cloacal dari sampel ayam petelur di daerah Blitar di Jawa Timur, Indonesia dan untuk memahami distribusi strain.

Penelitian cross-sectional ini dilakukan antara Maret dan Mei 2019, menggunakan total sampel 205 swab cloacal ayam petelur. Sampel diambil secara acak dari ayam petelur di Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Indonesia, dan terdiri dari 5 kecamatan dan 41 peternakan. Sampel dimasukkan dalam media transportasi Amies Swab dan disimpan dalam kotak pendingin sebelum dibawa ke laboratorium. Persiapan sampel dan pemeriksaan lebih lanjut dilakukan sesegera mungkin setelah pengambilan sampel. Kemudian dilakukan isolasi dan identifikasi Escherichia coli dan dilanjutkan dengan Tes Sinergi Cakram Ganda (DDST) untuk uji konfirmasi ESBL serta dilakukan uji dengan VITEK®2.

Hasil isolasi dan identifikasi 205 sampel usapan kloaka pada peternakan ayam petelur menunjukkan bahwa 185 (90,24%) isolat positif untuk E. coli. Sampel positif E. coli pada Agar MacConkey diidentifikasi dengan koloni kemerahan-merah muda, kemudian dikonfirmasi oleh tes biokimia menggunakan IMVIC dan TSIA. Media MacConkey kami digunakan untuk identifikasi cepat bakteri enterik. Adanya garam kristal violet dan empedu dalam media selektif MacConkey untuk menghambat pertumbuhan Gram-positif, sehingga media MacConkey digunakan untuk menumbuhkan bakteri Gram-negatif Tes IMVIC digunakan untuk membedakan E. coli dalam aktivitas biokimia dengan bakteri coliform lainnya. Tes IMVIC menunjukkan hasil motil, cincin merah positif Indol terbentuk setelah pereaksi Kovac ditambahkan, uji Methyl Red (MR) secara positif ditunjukkan oleh perubahan warna merah, uji Voges-Proskauer (VP) negatif dengan tidak ada perubahan warna, tes negatif Citrate dikonfirmasi dengan warna media tetap hijau dan tidak ada perubahan.

Dalam penelitian ini, E. coli penghasil ESBL diisolasi dari sampel ayam swab cloacal dari 41 peternakan ayam layer di daerah Blitar, Indonesia. Dari 41 peternakan ayam petelur, hampir semua E. coli penghasil ESBL terdeteksi dalam sampel swab kloaka, yang menunjukkan kemungkinan rute transmisi produsen ESBL dari peternakan ayam petelur ini. Terjadinya resistensi antibiotik pada ayam petelur dengan tingkat prevalensi yang cukup tinggi menyebabkan kerugian ekonomi yang besar bagi peternak. Resistensi antibiotik menyebabkan beban ekonomi yang tinggi pada sektor kesehatan manusia dan hewan. Terapi rasional, peraturan pemerintah, pendidikan publik adalah poin penting dalam strategi penanganan masalah resistensi. Pendekatan untuk menangani resistensi antibiotik dalam bentuk kebijakan seperti pengembangan dan penyebaran pedoman teknis, tetapi pedoman ini biasanya terputus dari konteks peternakan tanpa mempertimbangkan kompleksitas masalah praktik pertanian sehari-hari dan karena itu diabaikan oleh peternak. Bakteri penghasil ESBL semakin banyak dilaporkan mencemari air dan lumpur. Pertanian yang menggunakan air yang terkontaminasi dapat menjadi rute yang memungkinkan bagi E. coli penghasil ESBL untuk memasuki rantai makanan.

Dalam produksi hewan penghasil makanan, terutama ayam petelur, konsentrasi tinggi mikroorganisme di udara sering terjadi di lingkungan kandang. Mikroorganisme dalam kandang seperti ini dapat bertahan hidup dalam bentuk aerosol untuk waktu yang lama di udara dan ditransmisikan melalui aliran udara. Dalam penelitian ini, E. coli penghasil ESBL diperoleh dari sampel swab cloacal, isolat dari sampel menunjukkan kesamaan tinggi, yang menunjukkan transmisi E. coli yang diproduksi di lingkungan di peternakan unggas.

Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa adanya ESBL yang dihasilkan E. coli pada peternakan ayam petelur di wilayah Blitar. Isolat ini juga menunjukkan tingkat resistensi antibiotik yang tinggi terhadap sefalosporin generasi ketiga. Hasil ini sangat penting untuk meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat karena ayam petelur dipelihara dekat dengan populasi manusia dan dapat menyebarkan isolat patogen yang resisten dapat dengan mudah menyebar melalui lingkungan dan berpengaruh pada peternak yang dekat dengan kandang yang bekerja untuk pemeliharaan ayam petelur ini.

Penulis korespondensi: Dr. Mustofa Helmi Effendi, drh., DTAPH

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

Wibisono, F.J. Sumiarto, B., Untari, T., Effendi, M.H., Permatasari, D.A., Witaningrum. A.M. 2020.  The Presence Of Extended Spectrum Beta-Lactamase (ESBL) Producing Escherichia Coli On Layer Chicken Farms In Blitar Area, Indonesia. BIODIVERSITAS, 21 (6):  2667-2671https://www.researchgate.net/publication/341991062_Short_Communication_The_presence_of_extended-spectrum_beta-lactamase_ESBL_producing_Escherichia_coli_on_layer_chicken_farms_in_Blitar_Area_Indonesia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu