Pengembangan Kapasitas Lansia Melalui Prolanis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh 99.co

Meningkatnya agka harapan hidup di Indonesia menyebabkan peningkatan jumlah penduduk lansia. Permasalahan yang dihadapi lansia adalah masalah kesehatan. Berdasar data dari riset kesesehatan dasar (2013) yang dilansir oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, lima penyakit kronis yang paling banyak diderita oleh lansia adalah hipertensi, radang sendi, stroke, paru-paru, dan diabet. Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah menetapkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) yang melibatkan Puskesmas dan Badan Pengelola Jaminan Kesehatan (BPJS) dalam penyelenggaraannya. Prolanis adalah pelayanan kesehatan promotif dan preventif agar lansia bisa menjaga kesehatannya.

Pada dasarnya, Prolanis mengembangkan kapasitas lansia agar mereka bisa melakukan tindakan preventif dalam mengatasi problem kesehatannya. Kegiatan Prolanis meliputi senam, cek-up kesehatan, konsultasi kesehatan, sosialisasi kesehatan, dan home visit. Untuk melihat bagaimanakah keberhasilan pengembangan kapasitas lansia melalui Prolanis, maka dilakukan penelitian di Puskesmas Medokan Ayu Surabaya,  Puskesmas Sumbersari Jember dan Puskesmas Pandian Sumenep, yang masing-masing mewakili kota besar, sedang, dan kecil.

Lansia pada Puskesmas Medokan Ayu Surabaya dan Sumbersari Jember sangat aktif berpartisipasi dalam mensukseskan semua kegiatan Prolanis. Mereka memiliki kreativitas untuk menambah kegiatan Prolanis walaupun harus mengeluarkan biaya sendiri. Kegiatan tambahan yang diselenggarakan adalah menambah jenis senam yaitu soft aerobic, poco-poco, finger, dan senam tera. Para lansia juga melakukan kegiatan kunjungan ke rumah masing-masing anggota untuk menambah keakraban, mengadakan rekreasi, dan membuat seragam. Sedangkan lansia di Puskesmas Pandian Sumenep, nampak kurang aktif berpartisipasi dalam pelaksanaan Prolanis. Kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan kegiatan standar Prolanis yaitu senam, cek kesehatan, konsultasi kesehatan, dan sosialisasi kesehatan yang dirancang oleh aparat puskesmas. Dengan demikian, terlihat bahwa kesuksesan pengembangan kapasitas lansia melalui Prolanis ternyata sangat dipengaruhi oleh faktor partisipasi dari lansia. Kesuksesan pengembangan kapasitas lansia di kota besar dan kota sedang dipengaruhi oleh partisipasi aktif dari lansia. Sedangkan kota kecil dipengaruhi oleh komitmen dari aparat.

Penulis: Erna Setijaningrum

Link artikel lengkap bisa dilihat pada http://produccioncientificaluz.org/index.php/opcion/article/view/30816

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu