Model Pengembangan Perilaku Kesehatan Reproduksi Remaja di Perkotaan

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi perilaku kesehatan reproduksi remaja. (Sumber: Samsara News)

Upaya mencegah remaja agat tidak tergelincir ke dalam lingkungan sosial yang salah, pemberian edukasi reproduksi yang sehat harus cukup menjadi perhatian bagi pemerintah dan masyarakat. Hal ini menjadi penting dilakukan sebagai akibat dari perkembangan dunia teknologi informasi dan gaya hidup masyarakat yang semakin permisif. Di sisi internal remaja, terdapat peningkatan libido ketertarikan terhadap lawan jenis yang lumayan tinggi. Di sisi eksternal diakui bahwa kota metropolitan atau di  berbagai kota besar memiliki godaan yang lebih besar dan terdapat  pengaruh sosial yang lebih buruk, seperti menawarkan kepada para kaum remaja kesempatan melakukan berbagai hal tanpa diketahui oleh publik, termasuk orang tua mereka.

Sebuah survei yang dilakukan oleh BKKBN di beberapa kota besar di Indonesia menemukan bahwa sekitar setengah dari wanita remaja tidak lagi perawan sebagai akibat melakukan hubungan seksual pranikah, termasuk Surabaya (54%), Medan (52%), Bandung (47%), dan Yogyakarta (37%), bahkan tidak sedikit yang hamil di luar nikah. Salah satu penyebabnya adalah kesalahan dalam memilih teman sebaya dan didukung oleh perkembangan teknologi informasi yang memungkinkan remaja untuk mengunduh film porno.

Akibatnya  kemudian tergelincir serta melangkah terlalu jauh dengan melakukan berbagai hal yang tidak pantas dilakukan. Sebuah media massa melaporkan bahwa beberapa remaja mengadakan pesta seks, yang diadakan oleh siswa SMP dan SMA. Beberapa orang teman lainnya menyaksikan hingga merekam pasangan remaja yang sedang berhubungan seks tanpa rasa malu, dan akhirnya beredar luas melalui perangkat seluler.

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga berhasil mempublikasikan hasil penelitiannya pada salah satu jurnal internasional, yaitu Opcion, dengan fokus penelitian pemetaan perilaku kesehatan reproduksi remaja di daerah perkotaan. Penelitian itu diharapkan dapat merumuskan model pengembangan atau pendampingan yang efektif dan kontekstual sebagai upaya mencegah kaum remaja agar tidak salah arah dalam iklim perubahan sosial budaya. Penelitian dilakukan secara kualitatif dengan melakukan wawancara terhadap beberapa remaja dari berbagai komunitas.

Kesimpulan penting yang dapat diambil berdasarkan hasil penelitian ini, yaitu tidak sedikit remaja yang mengaku mendapatkan informasi tentang seks sejak usia dini, yang lebih banyak didapatkan pada media massa elektronik, seperti televisi, radio, atau internet daripada pendidikan kesehatan reproduksi yang didapatkan dari orang tua. Hal ini disebabkan karena pendidikan terkait kesehatan reproduksi masih menjadi hal yang tabu untuk diperbincangkan, sehingga tidak memunculkan sifat keterbukaan antara orang tua dengan anak.

Beberapa media pornografi diperoleh para remaja berupa gambar, komik, novel, juga film, berasal dari teman sebaya atau sepermainan, termasuk teman sekolah. Beberapa remaja mengaku lebih sering membeli DVD bajakan sebagai media dalam mengakses dan menonton film porno, termasuk internet yang mudah diakses. Bahkan beberapa diantaranya juga mengaku bahwa sering kecanduan mengunduh film pornografi, terutama ketika mencapai titik jenuh terhadap pelajaran sekolah.

Para remaja di daerah perkotaan menganggap bahwa menonton gambar atau video pornografi menjadi hal yang alami serta menjadi indikasi bila ingin dianggap “up to date”. Bukan hal yang mudah dalam upaya mencegah para remaja metropolitan dari pengaruh lingkungan dan sosial yang buruk, terutama di era revolusi informasi dan berbagai godaan negatif yang kian deras menghampiri dari berbagai arah. Sebagian remaja mengaku mencium pipi, mencium bibir, termasuk merangkul dan berpegangan tangan, hingga melakukan hubungan seksual dengan pasangannya guna memenuhi hasrat seksual mereka.

Penanaman nilai, norma, dan sikap perilaku terhadap anak oleh orang tua dan anak didik oleh pihak sekolah menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Ajaran agama, baik di rumah maupun di sekolah menjadi salah satu senjata yang dapat menghalangi remaja dari paparan pornografi. Secara umum, remaja kota metropolitan dalam penelitian ini menunjukkan kondisi normal atau tidak mengkhawatirkan. Mereka mampu mengalihkan waktu senggang mereka menjadi kegiatan yang positif, seperti mengikuti kursus, berolahraga, atau pun mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Merujuk pada karakteristik remaja metropolitan, program dan model pembinaan atau pendampingan perlu dikembangkan, terutama dalam mencegah remaja terlibat dan tenggelam ke dalam perilaku menyimpang. Langkah pengobatan yang efektif juga perlu dikembangkan dalam membantu para remaja yang sudah terlanjur tergelincir perilaku menyimpang.

Kesimpulan hasil penelitian ini, secara umum para remaja kota Surabaya tidak mudah diajak melakukan berbagai hal yang menyimpang. Salah satu upaya yang paling penting dalam mencegah remaja dari perilaku menyimpang yaitu dengan mengakomodasi potensi dan mengalihkan atau menyalurkan lebih banyak energi pemuda dalam berbagai kegiatan positif.

Penulis: Karnaji

Informasi yang lebih rinci dari penelitian ini dapat dilihat pada artikel kami di Opcion, berikut kami sertakan link rujukannya,

http://produccioncientificaluz.org/index.php/opcion/article/view/31854

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu