Mengenal Komunikasi Orang Tua dan Teman Sebaya dengan Perilaku Seksual Berisiko pada Remaja

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Cantik Tempo.co

Masa remaja adalah masa transisi dari masa kanak-kanak ke dewasa di mana remaja mengalami perubahan dimana pada periode ini adalah periode yang dapat mengarah pada perilaku seksual berisiko. Kehamilan pada usia dini merupakan masalah global yang sering terjadi di negara berkembang. Hasil survei UNESCO menunjukkan bahwa 5,6% remaja Indonesia telah melakukan hubungan seks pranikah, 96,7% telah terpapar pornografi, dan 3,7% kecanduan pornografi. Remaja tersebut berisiko mengalami masalah kesehatan terkait aktivitas seksual mereka yang dapat memicu terjadinya infeksi menular seksual seperti HIV atau kehamilan yang tidak diinginkan. Beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku seksual pada remaja adalah faktor pribadi, keluarga, teman sebaya dan budaya. Lalu bagaimana hubungan pola komunikasi orangtua dan interaksi teman sebaya dengan perilaku seksual berisiko pada remaja?

Hasil penelitian yang dilakukan pada 106 remaja di tiga SMA di surabaya menunjukkan bahwa ada hubungan antara hubungan pola komunikasi orangtua dan interaksi teman sebaya dengan perilaku seksual berisiko pada remaja. Remaja yang memiliki pola komunikasi disfungsional berisiko lebih besar untuk memiliki perilaku seksual berisiko. Demikian pula Interaksi teman sebaya dengan remaja yang negatif akan meningkatkan perilaku berisiko seksual pada remaja.

Komunikasi yang disfungsional yang ditemukan pada remaja dalam penelitian ini berupa remaja tidak terbuka untuk orang tua dan jarang bercerita masalah mereka kepada orang tua dan tidak memberi tahu mereka jika orang tua mereka tidak bertanya pada remaja terlebih dahulu. Keterbukaan komunikasi antara orang tua dan remaja serta dukungan dan kontrol orangtua berkontribusi dalam masalah psikologis maupun perilaku remaja. Komunikasi orang tua dengan remaja memiliki peran penting dalam perkembangan remaja, meskipun hasil penelitian sebelumnya masih tidak konsisten. Komunikasi dalam keluarga dapat didefinisikan sebagai kemampuan anggota keluarga untuk bertukar kebutuhan mereka, perasaan dan keinginan satu sama lain dan untuk menghadiri perubahan kebutuhan anggota keluarga satu sama lain.

Teman sebaya merupakan elemen penting dalam kehidupan remaja. Peran paling penting dari teman sebaya adalah sebagai sumber informasi dan perkembangan kognitif tentang dunia di luar keluarga serta sumber daya emosional remaja untuk berekspresi. Teman sebaya dianggap sangat penting oleh remaja karena sebagian besar waktu remaja dihabiskan dengan teman-teman mereka. Teman sebaya memberi nilai besar pada harapan dan pendapat remaja tentang kehidupan mereka. Beberapa remajaa dalam studi ini mengaku sering mendapat gambar atau video dengan konten seksual dan mendapat undangan untuk menonton konten seksual oleh teman sebaya mereka. Tekanan dari teman sebaya untuk melakukan perilaku negative pada remaja dapat mempengaruhi cara pandang remaja tentang perilaku tersebut.

Mayoritas remaja dalam studi ini telah terpapar pada materi seksual seperti menonton konten seksual, melihat dan berbicara dengan teman dekat tentang seks, dan memberikan rangsangan untuk membangkitkan seks. Saat ini, kemudahan pengembangan informasi dan digital memudahkan remaja untuk mengakses berbagai jenis informasi melalui saluran media seperti internet, ponsel, dan komputer serta televisi. Remaja menggunakan variasi media dan semakin terlibat dengan media ini di berbagai platform. Informasi negatif seperti pornografi yang dapat diakses melalui saluran media seperti internet, memiliki efek tidak baik terhadap cara berpikir remaja, serta dapat mempengaruhi cara mereka merasakan atau bertindak secara seksual. Karena itu, sekolah dan orang tua harus memperhatikan media saluran yang diakses oleh remaja untuk membatasi konten yang ditonton oleh remaja dan memberikan informasi yang lebih banyak terkait pemahaman remaja tentang dampak negatif dari menonton konten seksual.

Hasil ini menunjukkan bahwa ada kebutuhan untuk program yang dibangun keterampilan komunikasi orang tua dan remaja untuk saling terbuka, terutama terkait dengan masalah remaja. Selain itu, sekolah perlu mengembangkan dan mendorong program intervensi yang bisa membawa pengaruh teman sebaya untuk perkembangan perilaku seksual yang sehat. Orang tua dan teman sebaya berperan dalam menentukan perilaku seksual remaja. Komunikasi terbuka dan dua arah antara orang tua dan remaja perlu dikembangkan agar remaja dapat mengembangkan perilaku yang baik. Pengembangan suatu program untuk mencegah perilaku seksual berisiko perlu dilakukan terutama dalam kelompok sebaya untuk mencegah dampak negatif dari teman sebaya dalam penyebaran konten seksual pada remaja dalam kelompok mereka. Perkembangan teknologi juga terkait dengan perilaku seksual berisiko pada remaja. Edukasi dengan materi terkait kesehatan seksual perlu dikembangkan di berbagai saluran media untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman remaja tentang dampak risiko dari perilaku seksual berisiko.

Penulis: Rr Dian Tristiana Link terkait tulisan di atas: https://www.degruyter.com/view/journals/ijamh/ahead-of-print/article-10.1515-ijamh-2019-0166/article-10.1515-ijamh-2019-0166.xml

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu