Belajar Optimisme dan Semangat dari Peserta UTBK Difabel

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, Drh., DEA saat membantu salah seorang disabilitas tunanetra dalam menggunakan headset. (Foto: Alifian Sukma)

UNAIR NEWS – Pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer dilaksanakan serentak pada tanggal 5 Juli 2020. Di antara ribuan peserta yang mengikuti UTBK, terdapat 5 peserta disabilitas (tunanetra) yang mengikuti ujian pada Selasa (07/07/2020) di ruang PPMB, Kampus C.

Rizal Kurniawan Hidayat, salah seorang disabilitas Tunanetra menempuh perjalanannya seorang diri dari Malang untuk mengikuti UTBK di Universitas Airlangga. Dalam keterbatasan fisik yang dimiliki Rizal tak lantas menyurutkan semangatnya untuk meneruskan pendidikan ke Perguruan Tinggi. Ia telah menyiapkan dirinya dalam mengikuti UTBK mulai dari bulan Maret lalu dengan menanyakan kepada teman-temannya tips mengerjakan soal-soal UTBK yang baik dan benar.  

“Saya belajar dan berlatih UTBK mulai dari Maret. Bimbingan dan sharing dengan teman-teman saya yang sudah lulus atau yang masih menempuh kuliah. Akhirnya saya lancar-lancar saja dan tidak mengalami kesulitan dalam menghadapai UTBK ditengah pandemi,” ungkapnya.

Sebagai pengajar privat, dirinya mengaku optimis dalam mengerjakan UTBK kali ini. Ia yakin bahwa keberhasilan dan kesuksesan akan ia raih di masa yang akan datang.

“Saya sangat optimis dalam mengerjakan UTBK ini. Kita harus optimis dan tidak usah bingung dan gugup. Kita harus yakin bahwa kita akan meraih keberhasilan di masa depan dan kesuksesan itu akan kita capai,” ucapnya dengan nada tegas.

Dalam menyiapkan UTBK ramah difabel, UNAIR juga telah menyiapkan segala perlengkapan yang diperlukan mulai dari lokasi, alat khusus dan pemrograman. Hal itu disampaikan oleh Prof. Dr. Bambang Sektiari Lukiswanto, Drh., DEA panitia UTBK sekaligus Direktur Pendidikan UNAIR menyebutkan bahwa persiapan UTBK khusus difabel itu tidak terlalu rumit. Yaitu menyiapkan lokasi, komputer dan program ramah difabel yang dikirim oleh panitia LTMPT.

“Alat khusus di antaranya headset yang terhubung langsung dengan soal-soal yang dibuat khusus penyandang tunanetra. Headset ini digunakan untuk membaca tulisan soal yang ada di computer. Sedangkan keyboard digunakan untuk menginput jawaban peserta dan mereka sudah terbiasa dengan menggunakan keyboard. Selain aplikasi ujian, suaranya juga didesain ramah bagi orang Indonesia. Jadi suaranya itu suara orang Indonesia yang ramah difabel layaknya scan reader,” tutupnya.

Penulis: Khefti Al Mawalia   

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu