Telaah Sistematis: Intervensi Awal Pencegahan Bunuh Diri pada Mahasiswa

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pencegahan bunuh diri. (Sumber: suara.com)

Mahasiswa merupakan sosok penting dipertimbangkan terkait peran mereka yang sangat dinantikan oleh masyarakat. Selain dididik, mereka juga dapat memberikan perubahan sosial untuk kehidupan yang lebih baik dan memberikan kontribusi penting bagi negara. Kondisi fisik, psikologis, lingkungan sosial dan tuntutan penyelesaian tugas kampus sering menyebabkan mereka stres, ketika tidak mampu menyelesaikan tugas, semua jalan sudah buntu akibat konflik dengan dosen, teman, orang tua sering percobaan bunuh diri menjadi alternatif mengakhiri hidup. Oleh karena itu, pengelola perguruan tinggi harus secara serius memperhatikan kondisi ini untuk mencegah peningkatan kejadian kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa.

Bunuh diri muncul sebagai masalah kesehatan psikologis yang signifikan karena menempati peringkat penyebab kematian tertinggi kedua. WHO (2017) mencatat bahwa 20 orang yang melakukan bunuh diri berada pada kisaran umur 15-29 tahun. Sebuah penelitian menyatakan bahwa 35% dari mahasiswa suatu Kampus di Amerika Serikat dilaporkan mengalami perasaan depresi dan kesulitan belajar, 50% lainnya melaporkan mengalami kecemasan ekstrim yang menyulitkan mereka berhasil secara akademis. Center for Collegiate Mental Health (CCMH), sebuah organisasi kesehatan mental dan konseling melaporkan lebih dari 263 universitas, menemukan bahwa hampir 33% mahasiswa datang dengan masalah kesehatan mental serius, bahkan dengan ide dan upaya bunuh diri di tengah kehidupan.

Penulis melakukan telaah sistematis berbasis data elektronik, pada literatur yang diterbitkan dalam lima tahun terakhir (2014-2019) pada beberapa database online; Scopus, Proquest, Pubmed, Cinahl, and Sagepub. Kami membatasi pencarian dengan menggunakan kata kunci “intervensi”, “bunuh diri”, dan “kerja sebaya”.

Hasil telaah sistematis didapatkan 15 artikel berkorelasi dengan pencegahan bunuh diri pada mahasiswa. Lima studi digunakan secara online dengan intervensi berbasis web, sementara 10 studi lainnya secara tradisional dengan melakukan pertemuan langsung. Beberapa keuntungan dan kerugian intervensi pencegahan risiko bunuh diri yang ditemukan antara lain; pelatihan yang melibatkan staf kampus memiliki keuntungan kampus menjadi lebih ramah, aman, dosen sebagai garis pertahanan pertama dalam memberikan bantuan segera bagi mahasiswa berisiko bunuh diri. Kekurangannya mereka menjadi lebih sibuk harus mengumpulkan data tambahan dalam mengidentifikasi mahasiswanya.

Sepuluh studi yang dilakukan secara manual (melalui pojok layanan) memiliki kekurangan karena mahasiswa harus datang menemui terapis, menjadi stigma bahkan responden tidak mau dan kurang terbuka. Kondisi ini dapat mengganggu respons dan hasil konsultasi. Diantara 10 studi ini, dua menggunakan intervensi yang memberikan pelatihan bagi siswa untuk berpartisipasi dengan memberikan bantuan kepada temannya. Dua studi menggunakan fasilitas konseling, dua memberikan pengetahuan tentang tanda-tanda bunuh diri, satu memberikan latihan pikiran positif.

Lima studi intervensi berbasis web / online memiliki kelemahan karena tidak dapat mengendalikan peserta untuk berpartisipasi aktif dalam program kesehatan berbasis web atau online, dan kelebihannya adalah  tidak hanya meningkatkan kesehatan mental dan mengurangi risiko bunuh diri tetapi juga mengurangi stigma pada peserta karena mereka dapat berkomunikasi secara anonim di forum. Dengan demikian, intervensi ini meningkatkan motivasi untuk memanfaatkan bantuan kesehatan mental dari para profesional daring dan dapat mengambil sampel peserta yang besar.

Hal yang baik bagi kampus adalah bahwa bantuan online untuk kesehatan mental menjadi area untuk pencegahan bunuh diri dan mengurangi stigma, serta lebih inovatif, waktu dan tempat yang efektif, dan efisien. Kondisi ini sangat sesuai dengan gaya hidup sekarang, dimana mahasiswa maunya lebih praktis, menggunakan media lebih inovatif, materi yang menarik dan menyenangkan. Bentuk substansi materi dapat disajikan pada fliyer, leaflet online yang menarik, menggunakan vlog dan sejenisnya.

Penelitian lebih lanjut dapat melibatkan lebih banyak lembaga dalam studi misalnya dengan membantu mempromosikan dan memotivasi mahasiswa untuk bergabung dalam program penanganan, menggunakan media yang tepat, dikelola dengan cermat dengan standar operasional prosedur penyelesaian masalah yang akurat. Program ini dapat dimasukkan dalam program layanan kampus terintegrasi yang memberikan fasilitas layanan mahasisa dengan lebih baik. (*)

Penulis: Ah. Yusuf

Artikel lengkapnya dapat dilihat melalui link berikut ini:

https://www.psychosocial.com/article/PR270918/19319/

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu