Desain Tata Kelola Pariwisata di Surabaya Era Kolonial

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi pariwisata Surabaya. (Sumber: Tribunnews)

Genetika Pariwisata Surabaya Era Kolonial

Sekitar tahun 1908 muncul sebuah perundingan antara pemerintah yang diwakili oleh Gubernur Jendral Van Heutsz (1904-1909) dan beberapa perwakilan pihak swasta yang bekerja di bidang kepariwisataan. Tujuan pertemuan itu adalah untuk merumuskan sebuah perhimpunan (vereeniging) yang bergerak di bidang pariwisata. Setelah persiapan yang cukup lama, akhirnya dibentuk sebuah perhimpunan kepariwisataan di Hindia Belanda dengan nama Vereeneging Toeristen Verkeer (VTV) yang kemudian diresmikan pada tanggal 13 April 1908. Di tahun yang sama pula VTV telah menyusun kepengurusan di tingkat daerah seperti susunan kepengurusan VTV di Surabaya dipimpin oleh A. E Dinger, J. De Greve, dan HJ. De Bruijn (Sunjayadi, 2007).

Melihat arah perkembangan pariwisata yang cukup potensial, menjadikan Pemerintah Surabaya saat itu melakukan pengembangan dan perbaikan fasilitas. Tujuannya untuk meningkatkan jumlah kunjungan serta memperlama masa kunjungan wisatawan di Surabaya. Pengembangan ini dibawah kendali Dinas Pekerjaan Umum (Wethouder voor Publieke Werken), yang mengurusi masalah pembangunan fasilitas publik. Pembuatan buku-buku promosi untuk wisatawan yang mengangkat tema tentang atraksi wisata di Surabaya juga dibuat oleh VTV bekerja sama dengan pemerintah kota. Diantara atraksi wisata di Surabaya yang sering dipromosikan adalah Sungai Kalimas, Pelabuhan Surabaya, Kampung Arab, Makam Sunan Ampel, Kawasan Pecinan, Kebun Binatang, dan Pasar Malam Tahunan (Jaarmakt).

Persepsi Wisatawan tentang Surabaya

Sekitar tahun 1914 Cabaton, seorang peneliti kesehatan asal Prancis berkunjung ke Surabaya. Penduduk Surabaya digambarkan oleh cabaton sangat aktif dalam kegiatan jual beli dan penduduk Jawa asli di Surabaya turut terseret dalam aktivitas ini khususnya di pelabuhan, meskipun Surabaya memiliki iklim kurang bersahabat, persediaan dan kualitas air minum yang buruk, dan ancaman penyakit kolera (Cabaton, 1920).

Persepsi yang agak kritis diungkapkan oleh wisatawan asal Belanda bernama HW. Ponder sekitar tahun 1920an. Ponder bercerita tentang permukiman Surabaya yang sangat menakjubkan khususnya di kawasan pemukiman Eropa. Kondisi berbeda terletak di pemukiman penduduk lokal yang banyak terdapat jalan sempit atau gang yang dianggap Ponder sebagai deretan rumah boneka (rows of dolls’s houses). Menurutnya, meskipun sarana transportasi sudah sangat modern, kondisi jalanan sangat tidak teratur karena banyaknya pejalan kaki yang lalu lalang dan sangat membahayakan (Ponder, 1990).

Peneliti lain seperti De Graaf dan Gravin de Réthy melakukan kunjungan ke Ampel dan melihat kawasan lama di sekitar Sungai Kalimas (Kembang Jepun, Sasak, Panggung, Cantikan) serta beberapa kawasan lain seperti daerah Bubutan, Plampitan, Peneleh, dan wilayah Maspati. Setelah dari Surabaya, De Graaf dan Gravin melanjutkan perjalanan wisatanya ke Bali dengan kapal KPM melalui pelabuhan Tanjung Perak (Soerabaiasch-handelsblaad, 21 Januari 1929). Seorang peneliti asal Amerika bernama Arthur Stuart Walcott juga mengungkapkan pengalamannya ketika berwisata ke Surabaya. Walcott sangat terkesan dengan ramainya aktivitas bongkar muat mulai dari Pelabuhan Surabaya sampai Jembatan Merah di sepanjang Sungai Kalimas. Walcott kemudian menginap di Hotel Simpang dengan fasilitas laundry yang menurutnya sangat murah sebesar 4 sen untuk sepotong pakaian. Menurut Walcott, wisatawan yang datang ke Surabaya akan menyadari bahwa kota ini hanyalah kumpulan kampung dan bangunan Eropa, tempat militer, barak, dan pelabuhan. Surabaya hanya cocok untuk menjadi tempat persinggahan ke tempat lain yang lebih menarik (Walcott, 1914).

Adanya paket wisata dengan tujuan tempat-tempat ibadah dan bersejarah telah disediakan pada tahun 1930an. Sebanyak 60 wisatawan ekskursi melakukan perjalanan wisata kota (city tour) ke Klenteng Hok An Kiong di jalan Cokelat, Kelenteng Boen Bio di jalan Kapasan, Hong Tiek Hian di Jalan Dukuh, dan kawasan Masjid Sunan Ampel (De Indische Courant, Vol I, 15 April 1935). Lahirnya organisasi-organisasi sosial dan keagamaan awal abad 20 menjadikan warna tersendiri bagi kepariwisataan Surabaya. Wisata ziarah telah dilakukan oleh anggota organisasi NU selain karena ada faktor historis tentang Sunan Ampel juga adanya faktor ideologis-keagamaan yang menganjurkan untuk melakukan ziarah berikut ritual keagamaan di dalamnya. Wisata ziarah ini merupakan rangkaian acara dalam kongres NU  (1928 dan 1940) yang diselenggarakan di Surabaya. Beberapa anggota organisasi lainnya seperti perkumpulan ibu-ibu dari Lawang mengadakan ziarah ke makam Dr. Soetomo yang ada di jalan Bubutan, Surabaya (Tempo, 6 Desember 1941).

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian, dapat ditarik beberapa kesimpulan bahwa Surabaya selain sebagai daerah pengirim wisatawan juga menjadi destinasi wisata. Hal ini bisa dilihat dari berbagai macam atraksi yang mampu menarik minat wisatawan berkunjung ke sana. Sampai saat ini posisi Surabaya masih saja sama yaitu sebagai tempat singgah untuk sementara waktu. Selain itu persepsi wisatawan menjadi penting untuk dilihat bahwa Surabaya memiliki nilai lebih namun disaat yang bersamaan juga memiliki pekerjaan rumah yang harus segera diselesaikan seperti kemacetan, sampah, kondisi lingkungan, dan sebagainya.

Penulis: M. Nilzam Aly

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://produccioncientificaluz.org/index.php/utopia/article/view/32118

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu