3 Hal Harus Diperhatikan Sektor Pendidikan saat Era Normal Baru

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
dr. Sulis Bayusentono, M.Kes., SpOT(K) saat menjadi narasumber pada diskusi online yang dilaksanakan oleh Meniscus pada Sabtu (20/6/2020). (Foto: Istimewa)
dr. Sulis Bayusentono, M.Kes., SpOT(K) saat menjadi narasumber pada diskusi online yang dilaksanakan oleh Meniscus pada Sabtu (20/6/2020). (Foto: Istimewa)

UNAIR NEWS – Meski saat ini jumlah pasien positif Covid-19 terus mengalami peningkatan, namun di samping itu pemerintah Indonesia tengah mempersiapkan diri menuju era normal baru. Pada era tersebut masyarakat diharapkan bisa menjalankan aktivitas seperti biasa tentu dengan tetap menjalankan protokol kesehatan. Salah satu sektor yang juga tengah disiapkan untuk menghadapi era normal baru adalah sektor pendidikan.

Menanggapi hal tersebut dr. Sulis Bayusentono, M.Kes., SpOT(K)., dosen Orthopedi dan Traumatologi Fakultas Kedokteran, Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan penjelasan pada diskusi online yang yang diadakan oleh Musculoskeletal Science Community for Medical Student (Meniscus) pada Sabtu (20/6/2020). Menurutnya apapun yang terjadi hidup harus terus berjalan, artinya masyarakat harus hidup berdampingan serta ikut serta dalam mengendalikan penyebaran virus.

“Mau tidak mau hidup harus terus berjalan dan harus bertahan dalam situasi seperti ini. Bukan berarti berdamai dengan virus ini tetapi berdampingan dengan situasi saat ini dan bisa mengendalikan virus,” terangnya.

Dalam tatanan sektor pendidikan perkuliahan secara offline maupun melalui daring dapat menjadi pilihan saat era normal baru nanti. Namun, ada beberapa hal yang akan menjadi tatanan baru dalam sektor pendidikan ketika akan memulai perkuliahan secara offline. Mulai pengecekan suhu mahasiswa, pemberian jarak bangku, pelaksanaan pembelajaran yang menggunakan sistem shift, mulai protokol kesehatan lainnya.

Sulis mengatakan ada 3 hal yang harus diperhatikan untuk mempersiapkan era normal baru dalam tatanan sektor pendidikan. Pertama, Sumber Daya Manusia (SDM) baik sumber daya dosen maupun mahasiswa. Kedua, fasilitas yang ada. Dalam hal ini tentunya fakultas yang bersangkutan punya andil besar untuk mempersiapkan segala fasilitas penunjang seperti tempat cuci tangan, sterilisasi ruang kelas, serta fasilitas layanan kesehatabn. Ketiga, keilmuan suatu jurusan. Tidak semua pembelajaran dalam suatu jurusan tertentu dapat dilakukan pembelajaran daring secara keseluruhan.

“Jika ada keilmuan yang tidak memungkinkan untuk melakukan pembelajaran secara daring saja maka fasilitas dan SDM harus mendukung  untuk diadakannya pembelajaran secara tatap muka,” jelas Sulis.

Ketiga hal tersebut menjadi pondasi berjalannya perkuliahan secara tatap muka namun tetap mentaati protokol kesehatan yang ada. “Tujuannya adalah agar protokol kesehatan dapat dipatuhi. Tentunya hal ini bergantung dari manajemen fakultas yang bersangkutan. Tapi ketika suatu instansi pendidkan mengalami keterbatasan SDM serta fasilitas maka lebih baik perkuliahan dilakukan secara daring. Karena dikhawatirkan nantinya berpotensi memunculkan kluster baru,” pungkasnya. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu