Respon Pertumbuhan Mikroalga Porphyridium sp. yang Dikultur pada Wadah Kaca dan Plastik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi mikroalga. (Sumber: Arief Ardia)

Genus Porphyridium merupakan mikroalga merah yang termasuk dalam kelas Rhodophyceae, hidup soliter atau berkoloni dengan mensekresikan senyawa polisakarida sebagai pelindung sel. Mikroalga Porphyridium sp. mengandung protein sebesar 56% pada kondisi kering, asam lemak tak jenuh eicosapentanoic acid (EPA), docosahexanoic acid (DHA) dan arachidonic acid (AA), serta berbagai jenis vitamin seperti vitamin A, B, B1, B2, B6, B12, C, E, niktinate, biotin, asam folat, dan asam pantotenat yang berperan sebagai antioksidan.

Selain dimanfaatkan sebagai pakan alami larva ikan dan udang, mikroalga Porphyridium sp. sudah mulai dimanfaatkan sebagai obat antikanker dan antiinflamasi, antibakteri dan antifungi, produksi biogas, dan produksi biodiesel. Mengingat pentingnya manfaat dan kegunaan dari Porphyridium sp., maka perlu dilakukan kegiatan kultur untuk menjaga kontinyuitas ketersediaan Porphyridium sp.

Metode kultur Porphyridium sp. sudah mulai banyak dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan Porphyridium sp. Berbagai teknologi dan modifikasi metode kultur telah dilakukan untuk mempercepat pertumbuhan dan meningkatkan kapasitas produksi Porphyridium sp. diantaranya modifikasi kandungan nitrogen dalam pupuk, modifikasi pencahayaan, dan komposisi pupuk. Modifikasi wadah kultur terbukti dapat mempercepat pertumbuhan mikroalga Spirulina sp. dan Chaetoceros calcitrans. Namun, teknologi modifikasi wadah kultur masih belum dilaporkan sebelumnya pada kultur Porphyridium sp. Hal ini yang mendasari dilakukan penelitian untuk mengetahui pengaruh jenis wadah terhadap pertumbuhan mikroalga Porphyridium sp.

Penelitian dimulai dengan persiapan wadah kultur dan sterilisasi media kultur berupa pupuk Diatom; kultur Porphyridium sp. pada media agar, kultur Porphyridium sp. dalam tabung reaksi hingga kultur Porphyridium sp. dalam wadah kaca dan plastic. Selama masa kultur, dilakukan penghitungan kepadatan setiap harinya selama 11 hari dan pengukuran kualitas air berupa suhu, pH, dan salinitas.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kecepatan respon pertumbuhan Porphyridium sp. yang dikultur dalam wadah kaca dan plastic. Pada wadah kaca, menunjukkan fase adaptasi yang lebih cepat (empat hari) dibandingkan wadah plastic (lima hari). Selain itu, kepadatan sel pada puncak fase eksponensial pada wadah kaca (18,9 ± 0,21 x 105 sel/mL) lebih tinggi dibandingkan wadah plastik (15,57 ± 0,03 x 105 sel/mL) pada kultur hari ke-8. Hal ini menunjukkan bahwa mikroalga Porphyridium sp. lebih mudah beradaptasi dan lebih cepat tumbuh dalam wadah kaca dibanding wadah plastik. Hal ini diduga karena dalam wadah kaca mikroalga Porphyridium sp. mendapatkan suplai cahaya yang lebih banyak dibandingkan wadah plastik dikarenakan sifat bahan kaca yang mudah ditembus cahaya.

Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilaporkan sebelumnya yang melaporkan bahwa Spirulina sp. yang dikultur dalam wadah kaca memiliki kepadatan sel pada puncak pertumbuhan sampai tiga kali lipat dibandingkan kultur dalam wadah plastik. Penelitian lain pada mikroalga jenis Chaetoceros calcitrans juga menunjukkan pola yang serupa jika dikultur pada wadah kaca dan plastik. Cahaya yang masuk dalam wadah kultur akan digunakan oleh mikroalga untuk tumbuh dan fotosintesis. Semakin banyak jumlah cahaya yang diserap sebanding dengan meningkatnya pertumbuhan Porphyridium sp.

Intensitas cahaya yang masuk juga berpengaruh terhadap temperatur dalam wadah kultur. Temperatur pada wadah kaca (23-25°C) lebih tinggi dibandingkan pada wadah plastik (19-20°C). Hal ini menunjukkan bahwa meningkatnya temperatur wadah kultur akan mempercepat fase pertumbuhan Porphyridium sp. dengan toleransi temperatur maksimal sampai 28°C. Selain itu, respon pertumbuhan Porphyridium sp. juga didukung oleh parameter kualitas air yang masih dalam batas toleransi mikroalga Porphyridium sp. untuk dapat tumbuh optimal.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kepadatan Porphyridium sp. yang dikultur dalam wadah kaca menunjukkan respon pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan wadah plastik. Selain itu, fluktuasi suhu, pH, dan salinitas berpengaruh terhadap pertumbuhan mikroalga Porphyridium sp.

Penulis: Mohammad Faizal Ulkhaq

Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan di :

https://e-journal.unair.ac.id/JAFH/article/view/17183

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu