Pandemi Bersama Empati

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh DetikNews

Awal tahun 2020 menjadi sejarah pahit bagi umat manusia. Covid-19 atau dikenal dengan virus Corona menjadi pandemi dan diperbincangkan banyak negara. Virus ini menjangkit siapapun. Baik tua-muda, kaya-miskin, dan bahkan  tidak memandang jabatan. Virus ini pertama kali muncul di kota Wuhan China pada akhir Desember 2019 lalu. Tak lama kemudian, Thailand mengkonfirmasi pasien Covid-19  pertama di luar China yang kemudian disusul oleh Jepang. Amerika dan Taiwan kemudian mengkonfirmasi pasien corona di negaranya yang kemudian disusul negara-negara lain termasuk Jerman.

Sementara, semakin banyaknya warga China yang terjangkit virus Covid-19. Maka pemerintah China memutuskan langkah strategis untuk memutus penularan virus Covid-19 dengan menghentikan semua transpotasi di Wuhan, termasuk transportasi umum. Saat itu, telah dikonfirmasi 2.000 kasus Covid-19 di seluruh dunia dan 50 diantaranya meninggal.  Kemudian WHO menyatakan wabah virus Covid-19  sebagai virus pandemi yang mengancam kesehatan global, serta menyerukan ke seluruh dunia untuk melaksanakan tindakan terkoordinir untuk mencegah dan memutus penularan virus corona.

Di Indonesia, virus ini terdeteksi dan telah dinyatakan langsung oleh Presiden Joko Widodo Pada 2 Maret 2020 lalu. Tercatat ada 2 warga Indonesia dikonfirmasi terjangkit positif  covid 19 pada saat itu. Dilansir dari Merdeka.com  Presiden Joko Widodo mengatakan, kasus virus Covid-19 di Indonesia terungkap usai ada laporan warga negara Jepang dinyatakan positif.  Warga Negara Jepang ini baru saja berkunjung ke Indonesia beberapa waktu yang lalu. Pemerintah kemudian langsung menelusuri siapa saja yang melakukan kontak dengan pasien tersebut. Setelah ditelusuri, Ternyata orang yang terkena virus Covid-19 berhubungan dengan 2 orang, ibu 64 tahun dan putrinya 31 tahun.

Satu bulan berlalu setelah pasien positif Covid-19 di Indonesia diumumkan, keadaan tidak bertambah baik. Angka kasus positif Covid-19 terus mengalami lonjakan. Seperti dilansir Liputan6.com hingga Rabu (1/4/2020), jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 1.677. Diikuti pula dengan pasien dinyatakan sembuh sebanyak 103 dan 157 pasien lainnya meninggal dunia. Tentu angka tersebut dinilai cukup besar, mengingat kasus pertama ada pada awal Maret lalu. Terhitung setidaknya baru sebulan wabah Covid-19 masuk ke Indonesia, namun pasien positif sudah lebih dari seribu pasien. Ada beberapa sebab naiknya jumlah pasien Covid-19 di Indonesia secara drastis.

Pertama, yaitu Komunikasi antara pemerintah pusat kepada masyarakat maupun pemerintah daerah yang sejak awal belum cukup transparan. Sangat lambat untuk memberi tahu pemerintah daerah tentang kasus yang dikonfirmasi dan upaya yang dilakukan untuk melacak penyakit ini. Ada kebingungan di antara berbagai pihak berwenang tentang informasi yang paling mendasar sekalipun, seperti jumlah orang yang dicurigai terinfeksi dan orang yang dipantau. Ini telah membuat banyak pemerintah daerah pada dasarnya berjuang sendiri. Seperti dilansir Liputan6.com Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, mengungkapkan pada 25 Maret 2020 lalu, hampir 300 pasien dan hampir 700 orang sedang dimonitor terkait penyakit COVID-19 ini. Pemerintah provinsi Jawa Barat mengatakan sedang memantau lebih dari 700 orang, sementara kota Banyumas memantau lebih dari 200 orang dan semua angka ini telah bertambah dari hari ke hari.

Kedua, yaitu minimnya dan keterlambatan test Covid-19 yang dilakukan pemerintah membuat jumlah kematian untuk suspect dan kematian terkonfirmasi Covid-19 berselisih jauh. Institut Nasional Penelitian dan Pengembangan Kesehatan yang berada di bawah Kementerian Kesehatan sejak awal merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang memeriksa pasien untuk COVID-19, Lembaga ini mengklaim dapat memeriksa 1.700 sampel sehari. Namun pada 16 hari setelah kasus pertama muncul, hanya 1.293 sampel telah diperiksa. Bahkan ketika tes telah dilakukan, setiap pasien rata-rata membutuhkan tiga hari untuk mendapatkan hasil, karena antrian panjang dan waktu yang diperlukan untuk mengirim spesimen dari daerah yang terjangkit virus Covid-19. Meskipun para ahli sekarang mengatakan pertimbangan ini tidak lagi relevan karena Indonesia telah memasuki tahap transmisi lokal. 

Ketiga, yaitu kultur budaya masyarakat Indonesia yang kurang sadar akan arti mencegah lebih baik daripada mengobati. Saat pemerintah mengeluarkan kebijakan Social distancing. Masih banyak orang yang belum sadar bahwa kebijakan  itu merupakan bagian dari upaya memutus penyebaran Virus Covid-19. Bahkan himbauan agar tidak nongkrong di warkop, dipandang sebagai kebijakan politis. Padahal jika dipikir lebih dalam lagi, ada sisi edukasi di dalamnya. Akibat krisis kesadaran itu, kini pemerintah terbelenggu dalam opsi-opsi. Di satu sisi ingin melindungi warganya melalui Social distancing, di sisi lain ada desakan harus lockdown. Situasi menjadi semakin karut marut saat musim mudik tiba. Banyak warga yang nekat mudik ditengah mewabahnya virus Covid-19.

Kini Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan warga Indonesia, lebih dari itu, mereka (Covid-19) bahka lebih mirip pasukan tentara yang sedang berperang, karena mampu memporak-porandakan kondisi ekonomi sebuah negara. Sejak diberlakukannya physical distancing atau pembatasan jarak fisik, seluruh aktivitas masyarakat terganggu, mulai dari pekerjaan hingga pendidikan. Terlebih lagi, perusahaan pusing memikirkan cara bagaimana menggaji karyawannya, sedangkan para pekerja informal sedang pusing, besok makan dengan apa.

Momen Membangun Empati

Wabah virus corona atau covid-19 telah membuat kita sadar betapa pentingnya kualitas kesehatan. Pola hidup sehat adalah prioritas utama demi mengurangi potensi terserang berbagai penyakit. Walau dikaji dari sudut pandang manapun, ternyata tubuh sangat berpengaruh terhadap segala sektor kehidupan. Stategi untuk memerangi penyebaran Covid-19 adalah menjaga yang sehat agar tidak tertular dari yang terinfeksi corona. Karena itulah penularannya harus diputus. Karena penyakit ini pasti menular dari orang yang sudah positif. Namun kesadaran diri untuk stay at home tampak belum efektif.

Penyakit ini mungkin menjadi salah satu cara Tuhan untuk menciptakan rasa cinta dan rasa empati kita kepada orang lain. Mulai dari keluarga, teman terdekat, bahkan orang yang tidak kita kenal sekalipun. Maka di sini peran mahasiswa sebagai agen perubahan dibutuhkan seutuhnya. Sebagai Mahasiswa salah satu cara yang sangat efektif adalah memberikan edukasi yang bersifat kreativ, inovatif dan informatif melalui media sosial. Bisa melalui pembuatan video pendek yang menjelaskan bagaimana mencuci tangan dengan benar atau ajakan untuk melaksanakan kebijakan Social Distancing yang sudah disampaikan oleh pemerintah.  Bisa juga melalui poster ajakan untuk menjaga asupan makanan dengan gizi dan nutrisi cukup untuk mempertahankan kekebalan tubuh. Semua itu adalah cara efektif dalam memberikan edukasi untuk menghindari resiko tertular covid-19. Aksi memang tidak melulu bisa memecahkan masalah, tapi dengan tindakan sederhana yang dilakukan, setidaknya memberikan kontribusi yang nyata, untuk bersama-sama menyelamatkan banyak jiwa.

Penulis: Ananda Wildhan Wahyu Pratama (Wakil Ketua Himpunan Mahasiswa Akuakultur PSDKU Universitas Airlangga di Banyuwangi)

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu