Mengenal Kontributor Penggunaan Kontrasepsi pada Kelompok Wanita Berusia di Bawah 24 Tahun di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh tirto id

Penggunaan alat kontrasepsi oleh wanita berusia di bawah 24 tahun telah lama dikampanyekan di negara-negara berkembang seperti di Amerika Latin dan Karibia. Upaya serupa telah diteliti sebelumnya dan menunjukkan bahwa kampanye ini telah menekan angka kematian ibu saat persalinan dan akibat kehamilan yang tidak diinginkan. Namun, nampaknya usaha serupa belum pernah diterapkan di Indonesia, khususnya kepada wanita yang telah menikah di bawah usia 24 tahun. Meski, kampanye untuk menunda kehamilan di usia yang terlalu muda sudah dilakukan. Karenanya, banyak peneliti di dunia merekomendasikan penggunaan alat kontrasepsi kepada wanita yang telah menikah di bawah usia 24 tahun. Namun, kontributor terhadap rendahnya adopsi rekomendasi ini di Indonesia belum banyak diketahui meskipun data yang ada menunjukkan rendahnya penggunaan alat kontrasepsi pada kelompok usia tersebut di beberapa propinsi (hingga 25,7% di Papua).

Kami menggunakan data SDKI yang dirilis atas kerjasama Badan Pusat Statistik dan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional dan Kementerian Kesehatan pada 2017 untuk mengungkap rendahnya penggunaan alat kontrasepsi pada wanita usia 15-24 tahun yang telah menikah di Indonesia. Kami mengevaluasi faktor usia, pendidikan dan pekerjaan ibu sebagai kelompok kontributor utama pada penelitian ini. Ke dua, kami mengevaluasi demografi suami (termasuk di antaranya selisih usia dengan istri, pendidikan, dan pekerjaanya). Juga, komponen di dalam rumah tangga mereka (jumlah anak dan indeks kekayaan ekonomi). Faktor aksesibilitas ke pelayanan kesehatan, informasi, dan media informasi kami tambahkan sebagai unit analisis yang lain, juga factor greografis, seperti lokasi tempat tinggal.

Pada penelitian ini kami mengungkap bahwa sekitar 42,5% dari wanita berusia 15-24 tahun yang telah menikah tidak menjadi akseptor alat kontrasepsi. Secara sederhana, tingkat aksebilitas mereka turut ditentukan oleh tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pendidikan dan pekerjaan suami, jumlah anak hidup, kondisi finansial keluarga, dan akses ke media informasi. Secara intrinsik, kelompok usia 15-19 tahun justru lebih cenderung untuk menggunakan alat kontrasepsi dibandingkan kelompok usia yang lebih tua, 20-24 tahun. Kelompok wanita yang memiliki anak lebih dari tiga dan tinggal di wilayah barat Indonesia, memiliki kecenderugan yang lebih baik untuk menggunakan alat kontrasepsi. Kelompok wanita yang mengenyam pendidikan formal yang lebih baik juga menunjukkan kecenderungan yang lebih baik, sebagai upaya untuk menurunkan angka kematian ibu berusia muda saat persalinan. Temuan-temuan yang didapat dari penelitian ini tidak menunjukkan kebaruan informasi pada topik yang kami angkat. Namun, temuan-temuan tersebut mengkonfirmasi hasil serupa pada penelitian-penelitian lain di negara berkembang dan setara dengan perekonomian Indonesia. Hal ini mengindikasikan bahwa, determinan yang sama berlaku di Indonesia.

Berdasar pada temuan-temuan di atas, kami menyimpulkan bahwa perlunya perbaikan pendekatan multisectoral untuk mengatasi keadaan sulit di Indonesia. Terlebih dengan mempertimbangkan tingginya angka kehamilan ibu berusia sangat muda di Indonesia. Pekerjaan rumah besar bagi Indonesia, khususnya, untuk memperbaiki tingkat pendidikan dan aksesibilitas informasi kesehatan kepada kelompok perempuan. Hal ini menjadi penting untuk diperhatikan mengingat tingginya proporsi penduduk di Indonesia dengan tingkat pendidikan yang rendah

Penulis: Fandy Euricky Petrus Mola, Dewi Elizadiani Suza, Ferry Efendi, Setho Hadisuyatmana, Erni Astutik, Ika Adelia Susanti

Informasi lebih lengkap tentang riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

http://www.sysrevpharm.org/?mno=108601

Fandy Euricky Petrus Mola, Dewi Elizadiani Suza, Ferry Efendi, Setho Hadisuyatmana, Erni Astutik, Ika Adelia Susanti. Factors Associated with the Use of Contraception among Women Age 15-24 Years in Indonesia. SRP. 2020; 11(5): 234-240. doi:10.31838/srp.2020.5.35

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu