Faktor Penentu Diare pada Anak di Bawah Usia Dua Tahun di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh parenting dream.co

Bukan hanya orang dewasa, masalah pencernaan seperti diare juga sering menyerang anak-anak usia di bawah dua tahun atau baduta. Diare menjadi penyebab utama kematian kedua pada anak setelah pnuemonia dan bisa berakibat fatal. Negara berpenghasilan menengah ke bawah seperti Indonesia, diare masih menjadi salah satu penyebab masalah kesehatan karena morbiditas dan mortalitasnya yang tinggi. Semua usia berisiko terkena diare, tetapi kasus diare tertinggi adalah pada anak di bawah usia 2 tahun, dengan persentase tertinggi pada usia 12-23 bulan mencapai 20%, diikuti oleh usia 6-11 bulan dengan 19%. Maka sangat penting untuk melakukan upaya peningkatan layanan kesehatan.

Anteneh et al. tahun 2017 pada penelitiannya mengungkapkan bahwa terdapat tiga faktor yang dapat menentukan tingkat diare pada anak yaitu sosial, praktik penitipan anak, dan lingkungan. Sedangkan penelitian yang ada di Indonesia juga menemukan bahwa usia ibu, pekerjaan ibu, status ekonomi, jenis kelamin anak, dan kepadatan populasi memiliki hubungan yang signifikan dengan diare pada anak-anak berusia di bawah lima tahun. Namun, masih jarang ditemukan penelitian yang berfokus pada analisis faktor penentu diare pada anak di bawah dua tahun. Identifikasi penyebab diare pada anak di bawah dua tahun sangat penting untuk mempelajari metode pencegahan yang tepat yang dapat digunakan dalam merumuskan kebijakan yang efektif. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menguji faktor-faktor penentu diare pada anak-anak di bawah dua tahun di Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia 2017 dengan melibatkan 5.858 anak-anak berusia 0-23 bulan dan yang tinggal bersama ibu mereka. Hasil penelitian menunjukan bahwa terdapat beberapa faktor penentu diare pada anak di bawah dua tahun yaitu usia ibu, pendidikan ibu, jenis toilet, tidak mendapatkan ASI eksklusif, dan kebiasaan minum dari botol. Hal ini dikaitkan dengan pengalaman ibu dalam melakukan praktik pengasuhan anak yang efektif sehingga dapat meningkatkan resiko diare pada anak-anak. Pengetahuan ibu dikaitkan dengan kualitas pengetahuan tentang pencegahan diare yang dapat berpengaruh pada sikap dan tindakan ibu.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, promosi kesehatan tentang diare harus diprioritaskan pada ibu usia muda dan memiliki tingkat pendidikan yang lebih rendah. Program kesehatan yang sudah dibuat, seperti bebas buang air besar sembarangan dan program pemberian ASI eksklusif, harus ditingkatkan di komunitas. Kampanye kesehatan tentang praktik kebersihan orang tua saat mempersiapkan diri dalam pemberian susu botol harus dimulai dengan diimbangi upaya peningkatkan partisipasi ibu dalam pemberian ASI secara eksklusif.

Penulis: Ni Komang Ayu Santika, Ferry Efendi, Praba Dian Rachmawati, Kusnanto dan Erni Astutik

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di: https://www.sciencedirect.com/science/article/pii/S0190740919314434
Santika, N. K. A., Efendi, F., Rachmawati, P. D., Has, E. M. M., Kusnanto, K., & Astutik, E. (2020). Determinants of diarrhea among children under two years old in Indonesia. Children and Youth Services Review, 111, 104838. https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2020.104838

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu