Cerita Alumnus Farmasi di Luar Negeri Hadapi Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Ikatan Alumni Farmasi UNAIR (ALFAS) menggelar Halalbihalal dan talkshow via zoom pada Senin (1/6/2020). Dengan dihadiri 170 peserta dari lintas angkatan, acara itu juga menghadirkan dosen, praktisi, hingga tenaga farmasi profesional alumni UNAIR. Selain itu, acara yang mengambil tagline Think Innovative Creative, Take Opportunity Courage tersebut berbagi cerita dari alumni-alumni Farmasi UNAIR yang kini tengah bekerja dan belajar di luar negeri.

Cerita pertama datang dari alumnus Farmasi UNAIR angkatan 2011, yakni Fadhil. Mahasiswa yang tengah menuntut ilmu di Rotterdam University Belanda tersebut mengungkapkan bahwa meski menerapkan lockdown, masyarakat Belanda masih sulit untuk tetap bertahan di dalam rumah sehingga masih banyak orang yang tetap berkegiatan di luar rumah. Namun, masyarakat Belanda begitu mematuhi aturan jarak physical distancing.

“Di sini sejak Januari semua aktivitas di-online-kan. Lalu, lanjut dengan lockdown. Aturan jarak di berbagai tempat juga ketat. Bahkan, saya sampai harus menunggu berjam-jam untuk naik kereta karena aturan jarak juga membatasi jumlah penumpang,” ungkap Fadhil yang juga tengah fokus mengerjakan tesisnya tersebut.  

Fadhil di samping itu turut mengapresiasi langkah aktif Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Belanda untuk mengakomodasi mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang terjebak situasi lockdown. “PPI Belanda sering ngadain senam bersama, kelas yoga via Zoom. Biar mahasiswa Indonesia di sini tetap terhubung dan tidak stres,” katanya.

Belanda sendiri sempat mengalami keterbatasan dalam kuota APD dan masker sehingga pemerintahnya menetapkan regulasi harga yang lebih mahal bagi masyarakat. Akan tetapi, pemerintah Belanda secara konsisten memberikan subsidi vitamin bagi masyarakat. “Ini kemarin bahkan saya dapat satu gratis,” ujar Fadhil sambil menunjukkan botol vitamin di layar laptopnya.

Sementara itu, cerita lain datang dari Fajar, Farmasi angkatan 2005 yang tengah bekerja dan menuntut ilmu di Kanada. Negara tersebut tidak menetapkan lockdown, namun pembatasan sosial layaknya Indonesia. Berbagai kegiatan dan pelayanan publik dibatasi sehingga membuat Fajar mengalami beberapa hambatan, bahkan turut menjadi korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

“Saya di Kanada sekolah membiayai sendiri. Jadi, saya punya dua pekerjaan di sini. Yang satu di-PHK karena beberapa sektor ekonomi memang ditutup. Untungnya pemerintah Kanada supportif sekali sama korban PHK. Kita diberi sekitar dua ribu dolar per bulannya,” kata Fajar yang berpengalaman dalam ilmu regulasi obat dan alat kesehatan tersebut.

Alumni Farmasi UNAIR yang pernah magang di consultant group multinasional tersebut menuturkan bahwa yang paling dia rindukan selama pandemi adalah makanan Indonesia. “Jarak apartemenku dekat dengan KJRI. Biasanya kalo lebaran ada halalbihalal, makan-makan. Karna Covid-19, ya nggak ada lagi acara-acara itu,” ungkapnya.

Selain Belanda dan Kanada, terdapat pula Evhy, alumnus Farmasi UNAIR 2003 yang tengah menuntut ilmu di Tiongkok. Ketiganya berusaha untuk memberikan semangat kepada alumni Farmasi UNAIR yang tengah bekerja menghadapi Covid-19 di Indonesia. ALFAS juga menggalang donasi yang diperuntukkan bagi penanganan Covid-19 di Rumah Sakit Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo. Hingga akhir acara, donasi telah terkumpul hingga 25 juta rupiah. (*)

Penulis: Intang Arifia

Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).