Risiko Anak Muda Terpapar Paham Radikalisme

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh suaradewata

Anak muda, termasuk kelompok mahasiswa adalah salah satu target penting yang kerap disasar berbagai kelompok radikal untuk dipengaruhi dan direkrut sebagai simpatisan gerakan radikal di berbagai belahan dunia. Mereka direkrut melalui berbagai cara, terutama denan memanfaatkan komunikasi di dunia maya. Di era digital, metode yang dikembangkan kelompok garis keras untuk menyebarkan paham radikalisme tidak lagi melalui pertemuan face to face di dunia offline, melainkan telah banyak memanfaatkan teknologi informasi dan internet. Perkembangan penggunaan internet yang makin massif serta aplikasi social media dan social networking seringkali dimanfaatkan kelompok garis keras untuk menyebarkan ideologi radikal dan mempropagandakan doktrin-doktrin, menjajagi dan menjaring kader-kader potensial, bahkan menyuarakan ajakan melakukan jihad menyerang kelompok lain yang dinilai telah banyak menyengsarakan umat Islam.

Sejumlah penelitian terdahulu telah banyak mengkaji peran penting media sosial dan teknologi informasi sebagai sarana utama penyebaran ideologi radikal-keagamaan, bagaimana dampaknya ke masyarakat, termasuk resiko yang dihadapi anak muda yang  merupakan pengguna terbesar teknologi informasi dan internet. Greenberg (2016), misalnya menyatakan kelompok teroris seringkali menggunakan media sosial yang sedang digandrungi masyarakat luas untuk menebar ideologinya. Sasaran yang sering terjaring oleh kelompok teroris di internet adalah remaja yang aktif bermain sosial media. Kelompok teroris dapat memanipulasi pemikiran kelompok remaja untuk memiliki pikiran-pikiran radikal dan terpengaruh untuk berbuat hal-hal radikal melalui internet. Anak-anak muda ketika mereka pulang kuliah, tidak lagi bertemu dengan orang lain, dan beristirahat di kamarnya, bukan berarti mereka aman dari pengaruh paham radikalisme. Justru dalam banyak kasus, ketika anak muda beristirahat di kamarnya dan kemudian membuka handphone atau laptopnya, justru pada saat ini dimulailah godaan, tawaran dan termasuk pengaruh paham radikalisme mulai masuk. Di era perkembangan masyarakat digital, konten-kontan radikalisme yang tersebar melalui media sosial, dan dunia maya adalah salah satu ancaman yang kerapkali dihadapi anak muda.

Artikel yang ditulis Bhui & Ibrahim (2013), misalnya membahas mengenai teknik rayuan yang digunakan websites para jihadis dengan menggunakan berbagai model retorika, gambar, dan simbol-simbol dalam teks, video, dan format interaktif. Media dapat digunakan sebagai ladang informasi, namun juga dapat digunakan sebagai teknologi untuk melakukan rayuan atau bujukan radikal. Dengan menggunakan media, untuk menarik perhatian masyarakat digunakan propaganda-propaganda yang dapat menarik kedua kelompok, baik kelompok dengan budaya pop maupun kelompok agama. Bhui dan Ibrahim (2013) menyatakan internet telah gagal menangkal munculnya radikalisasi, bahkan sebaliknya malah sering dimanfaatkan sebagai instrumen untuk menebar pengaruh paham radikalisme.

Sebagai bagian dari net generation, studi yang dilakukan penulis menemukan para mahasiswa umumnya menghadapi situasi yang dilematis. Di satu sisi mereka menikmati kemudahan mengakses informasi dari dunia maya yang tanpa batas, tetapi di sisi yang lain mereka juga rawan terkontaminasi paham radikalisme yang sengaja disebar berbagai kelompok garis keras dari berbagai negara. Selain mengakses dan mengkonsumsi berbagai konten radikal, studi penulis menemukan sebagian mahasiswa juga bertindak sebagai prosumer. Artinya, mahasiswa kelompok ini tidak hanya membaca informasi yang kontennya radikal, tetapi mereka juga memproduksi informasi yang radikal dan kemudian meresirkulasikannya melalui media sosial. Mahasiswa yang terpapar paham radikalisme melalui internet mereka beresiko berubah menjadi makin radikal, militant dan menjadi pendukung atau simpatisan gerakan garis keras.

Studi yang dilakukan penulis menemukan bahwa tindak kekerasan dan militansi anak muda bukan sekadar konsekuensi dari kondisi psikologi dan latar belakang kepribadian mereka, tetapi juga merupakan implikasi dari resiko anak muda terpapar paham radikal dari media sosial dan dunia maya. Terorisme di zaman modern menyadari bahwa media sosial dapat digunakan untuk melakukan aksi teror. Beberapa organisasi teroris menggunakan media sosial untuk melakukan aksi teror dan menargetkan banyak korban. Mahasiswa yang notabene merupakan bagian dari net generation, mereka umumnya rentan terpapar paham radikalisme yang banyak disebarluaskan melalui dunia maya oleh kelompok radikal dari berbagai negara.

Memang, tidak semua mahasiswa yang terpapar paham radikal melalui dunia maya akan terkontaminasi dan kemudian berubah menjadi miliran dan radikal. Namun demikian, bermula dari coba-coba, dan didorong rasa ingin tahu, sebagian anak muda terkadang tanpa disadari berubah menjadi makin radikal. Lebih dari sekadar konsumen pasif konten daru berbagai akun media sosial dan internet yang menawarkan paham radikalisme, sebagian mahasiswa ternyata merupakan konsumen aktif dan bahkan produsen konten-konten radikal yang mereka resirkulasi ke jaringan sosial yang dimiliki. Studi ini menemukan, sebagai bagian dari generasi milenial, anak muda bukan hanya beresiko terpapar paham radikalisme, tetapi tidak jarang mereka juga menjadi perpanjangan suara dan ikut meresirkulasi ideologi radikalisme melalui berbagai cara. Di era digital, anak-anak muda adalah prosumer paham radikalisme yang berpotensi menjadi penyebar keyakinan mereka dalam skala yang luar biasa massif.

Studi yang dilakukan Pedersen, Vestel, & Bakken (2018) terhadap 8.627 remaja di Norwegia, Oslo menemukan bahwa dibandingkan remaja pemeluk agama lain, remaja Muslim memiliki tingkat yang lebih tinggi dalam pemberian dukungan terhadap adanya perlakuan kekerasan dibandingkan dengan remaja lainnya. Namun, setelah mengontrol beberapa variabel lainnya, Islam tidak memiliki hubungan yang signifikan mengenai pemberian dukungan terhadap kekerasan politik. Latar belakang imigran yang kompleks dan munculnya remaja outsider, yang mana merupakan hasil dari rendahnya prestasi di sekolah, menyulut berbagai permasalahan kekerasan bagi remaja Muslim tertentu. Aktivitas politik di sosial media juga memiliki peran penting dalam mempengaruhi perilaku remaja untuk melakukan kekerasan dan jihadisme. Dibutuhkan upaya lebih lanjut untuk mencegah radikalisasi terhadap remaja atau muda yang berisiko mewujudkan remaja outsider.

Untuk mencegah atau mengeliminasi kemungkinan anak muda terpapar paham radikalisme dan kemudian menjadi militan harus diakui bukan hal yang mudah. Seperti dikatakan Al-Zewairi & Naymat (2017) bahwa dalam beberapa tahun terakhir kelompok teroris dan pemberontak sudah mulai aktif menggunakan berbagai teknologi baru sebagai media untuk menyebarkan ideologinya dengan luas. Sementara itu, Stenersen (2008) menyatakan bahwa di era digital, internet telah berfungsi sebagai pengganti pelatihan real-life (di kehidupan nyata), khususnya dalam kasus teroris “home-grown” yang operasinya tidak memerlukan jaringan, kontak, atau perjalanan untuk berlatih di luar negeri, atau pada kasus-kasus di mana hal ini dirasa terlalu berisiko. Pengalaman telah membuktikan bahwa cara kerja rekruitmen simpatisan teroris secara online inilah yang membuat upaya pencegahannya menjadi tidak mudah.

Untuk mengeliminasi pengaruh paham radikalisme di kalangan anak muda, menurut Greenberg (2016) yang dibutuhkan adalah counter-radicalization via the Internet. Seperti diketahui, internet merupakan media komunikasi yang masif digunakan di zaman ini. Dewasa ini, kelompok terorisme dengan mudah dapat menyebarluaskan ajarannya melalui internet. Untuk menjamin keamanan di internet, menurut Greenberg (2016) perlu diperhatikan tiga hal dalam melakukan perlawanan terhadap radikalisasi, yaitu disrupsi, pengalihan, dan countermessaging.

Penulis: Rahma Sugihartati

Departemen IIP FISIP Universitas Airlangga

Versi lengkap artikel bisa dibaca di: Rahma Sugihartati, Bagong Suyanto & Munnim Sirry, The Shift from Consumers to Prosumers: Susceptibility of Young Adults to Radicalization. MDPI, Social Sciences, 9, 40; doi 10.3390/socsci9040040.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu