Berbagai Peran Anak Muda dalam Berkontribusi saat Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Anak muda selalu ada dalam catatan sejarah bangsa. Dimulai saat pergerakan nasional, proklamasi kemerderkaan, revolusi Indonesia, bahkan hingga saat ini anak muda mempunyai andil besar dalam peradaban bangsa. Seperti yang diketahui bahwa saat ini Indonesia tengah mengalami fase bonus demografi yang berjalan mulai tahun 2020 hingga 2035. Bonus demografi merupakan keadaan jumlah penduduk produktif lebih banyak jumlahnya dibandingkan dengan yang non-produktif. Menurut Badan Pusat Statistik tercatat pada 2019 ada 64,19 juta jiwa pemuda yang artinya mengisi hampir seperempat jumlah penduduk Indonesia.

Dengan banyaknya jumlah anak muda di Indonesia menjadi keunggulan tersendiri dalam menangani pandemi Covid-19. Terlebih lagi mereka identik dengan pribadi yang memiliki semangat, tenaga, kreativitas, serta daya juang yang hebat. Menanggapi hal tersebut Musculoskeletal Science Community for Medical Student (Meniscus), komunitas yang didirikan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) mengadakan diskusi yang terbuka untuk umum pada Rabu (22/5/2020) yang dilaskanakan menggunakan platform google meet.

Jeremy Nicolas, mahasiswa FK UNAIR berkesempatan menjadi salah satu narasumber dalam diskusi tersebut. Menurut Jeremy anak muda bisa membantu tenaga kesehatan dalam menghadapi pandemi ini.

“Kita punya tanggung jawab untuk membantu mereka (Tenaga kesehatan, Red),” ucapnya.

Banyak hal yang bisa dilakukan, antara lain, ikut dalam pengadaan atau distribusi Alat Pelindung Diri (APD) dengan ikut aktif dalam berbagai gerakan di masyarakat, membantu dalam pemenuhan nutrisi tenaga kesehatan melalui berbagai macam gerakan yang ada, dan yang terpenting adalah melawan stigmatisasi terhadap tenaga kesehatan.

“Saat ada tenaga kesehatan yang sakit, maka kapasitas penanganan menurun. Ketika tenaga kesehatan gugur dalam bertugas, maka kapasitas penanganan jauh lebih menurun,” papar Ketua Departemen Kajian dan Aksi Stategis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FK UNAIR ini.

“Ketika terjadi stigmatisasi, maka bisa jadi dapat menyebabkan ada keengganan bagi mereka untuk tidak mengabdi dalam penanggulangan Covid-19 sehingga berpengaruh terhadap kualitas penanganan,” imbuhnya.

Dalam tatanan masyarakat, ada beberapa hal yang dapat dilakukan anak muda, yaitu memberikan edukasi Covid-19 yang benar, ikut andil dalam penyaluran donasi bantuan yang tepat sasaran, membantu melindungi kelompok risiko tinggi, serta memberantas stigma keliru yang berkembang di masyarakat seperti stigma terhadap orang dalam pemantauan hingga orang yang dinyatakan positif Covid-19.

Pada sesi akhir sesi diskusi, Jeremy berpesan anak muda jangan salah arah dalam menghadapi pandemi. Anak muda harus menekan mobilitas tinggi, mengurungkan niat untuk mudik ke kampung halaman, serta menyikapi informasi dengan bijak dan menjadi agen informasi terpercaya bagi keluarga dan kerabat.

“Jangan sampai kita (Anak muda, Red) salah arah. Jangan malah kita yang menyebarkan virus. Di samping itu grup Whatsapp keluarga yang merupakan sarangnya informasi sesat, ya kita bisa bantu untuk memberi pencerahan,” pungkasnya.(*)

Penulis : Icha Nur Imami Puspita
Editor : Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave Replay

Close Menu