3 Prinsip KeselamatanTenaga Medis yang Mesti Diperhatikan di Masa Pandemi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Pandemi Covid-19 tak henti-hentinya menjadi perbincangan hangat di semua kalangan. Bukan hanya di Indonesia, tetapi di seluruh dunia. Jumlah penderita Covid-19 di Indonesia pada 22 Mei 2020 mencapai 20.796 kasus. Bahkan, terdapat 1.326 orang meninggal. Bertambahnya pasien positif Covid-19 juga diikuti oleh bertambahnya tenaga medis yang gugur dalam mengemban tugas. Tercatat lebih dari 20 tenaga medis telah gugur.

Banyaknya tenaga medis yang gugur dalam bertugas akibat terpapar Covid-19 menandakan bahwa prinsip keselamatan tenaga medis tidak dilaksanakan dengan baik. Dr. Rahadian Indarto Susilo, dr., Sp.BS(K) yang merupakan dosen departemen bedah saraf Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR) pada diskusi online yang diadakan oleh Musculoskeletal Science Community for Medical Student (Meniscus) pada Rabu (22/5/2020) memaparkan bahwa ada 3 prinsip yang harus diperhatikan dalam prinsip keselamatan tenaga medis.

Prinsip pertama, yaitu screening. Screening memiliki tujuan untuk mengisolasi dan melokalisasi pasien dengan segera agar virus tidak menyebar lebih luas.

“Goalnya adalah early isolation and containment. Artinya kita (Petugas medis, Red) harus segera mengisolasi dan melokalisasi dia (Pasien Covid-19, Red) sehingga tidak menyebar. Prinsipnya adalah jangan campurkan yang sehat dengan yang sakit,” ujar Rahadian. ujar Rahadian.

Prinsip kedua adalah penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Seperti yang diketahui bahwa Covid-19 menular melalui droplet, tetapi tidak tertutup kemungkinan bahwa virus tersebut juga menular melalui aerosol.


“Covid-19 ini merupakan virus baru. Jadi, kita tidak tahu menularnya hanya melalui droplet atau juga aerosol. Maka dari itu, harus dianggap aerosol juga bisa,” papar dosen yang merupakan alumni FK UNAIR ini.


Rahadian mengatakan bahwa ada beberapa tempat di tempat pelayanan kesehatan, selain ruang perawatan yang memiliki andil besar dalam penularan virus. Salah satunya adalah ruang ganti tenaga medis. Sirkulasi udara yang buruk, banyaknya mobilitas manusia, dan kegiatan yang dapat memicu penyebaran virus menjadi penyebabnya.

“Di ruang perawatan, virusnya jumlahnya kecil, tapi yang paling tinggi itu di ruang ganti. Sirkulasinya jelek, orang banyak di situ, baju yang sudah terkontaminasi virus juga diobrak–abrik,” jelasnya.

APD dibagi menjadi 3, yaitu level 1, 2, dan 3. Ada 4 unsur yang harus dipatuhi dalam penggunaan APD. Pertama, indikasi penggunaan. Penggunaan APD baik level 1, 2, atau 3 harus memperhatikan situasi dan kondisi sehingga dapat memperkirakan besarnya risiko terpapar virus. Kedua, perhatikan cara pemakaian APD yang baik dan benar. Ketiga, perhatikan cara melepas APD yang benar.

Menurut penuturan Rahadian, banyak tenaga medis yang terpapar virus karena kurang memperhatikan cara melepas APD yang benar. “Petugas medis banyak yang terpapar Covid-19, setelah di-review ternyata banyak yang terpapar virus saat melepas APD,” paparnya.


“Keempat, kualitas APD yang baik. APD dapat direuse dengat syarat memenuhi standardisasi sterilisasi yang benar,“ imbuhnya.

Prinsip ketiga adalah zonasi. Zonasi menjadi hal yang penting karena petugas medis harus membedakan pasien yang infeksius dan tidak sehingga penggunaaan jenis APD bisa disesuaikan dengan kondisi pasien. Tetapi, dalam penerapannya, petugas medis harus menggunakan APD level 3 karena kesulitan untuk membedakan pasien berdasarkan zonasi ketika pandemi saat ini. Hal tersebut tentunya sangat memakan biaya yang banyak.


“Jika kita bisa memisahkan zona pasien, kita bisa menggunakan APD sesuai level yang ada. Sehingga tidak memakan biaya yang banyak” pungkas Rahadian. (*)

Penulis: Icha Nur Imami Puspita
Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

Feri Fenoria Rifai

Feri Fenoria Rifai

Leave Replay

Close Menu