Halal Bihalal Via Daring, Tak Halangi UNAIR untuk Bersilaturahmi Bersama Sivitas Akademika

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ustad Drs. Ec. Suherman Rosyidi, M.Com saat memberikan ceramah dalam acara Halal Bihalal Via Daring UNAIR Bersama Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak beserta jajarannya (26/5/2020). (Foto: istimewa)

UNAIR NEWS –  Halal bihalal merupakan tradisi unik saat lebaran yang dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Namun di tengah masa pandemi COVID-19, masyarakat tidak bisa melakukan halal bihalal seperti Idul Fitri di tahun-tahun sebelumnya.

Hal tersebut tidak membuat Universitas Airlangga (UNAIR) terhalang untuk mengadakan halal bihalal. Untuk pertama kalinya, halal bihalal dilakukan secara daring melalui Zoom dan channel Youtube Universitas Airlangga.  Tercatat total ada 300 peserta Zoom dan 176 viewer youtube yang  mengikuti Open House dan Ceramah Via Daring UNAIR (26/5/2020).

Siaran halal bihalal itu dilakukan secara langsung di Gedung Rektorat Kampus C UNAIR dengan tetap menjalankan protokol kesehatan di masa pandemik COVID-19. Rektor UNAIR Prof. Dr. Mohammad Nasih, SE., MT., Ak bersama pimpinan, kolega serta sivitas akademika UNAIR turut hadir dalam halal bihalal tersebut.

Halal bihalal dibuka dengan ceramah dari Ustad Drs. Ec. Suherman Rosyidi, M.Com. Menurutnya, hari raya Islam merupakan satu-satunya hari raya yang pembawa agamanya yaitu Nabi Muhammad ikut menikmati dan menjalankan hari rayanya.  Islam telah melewati waktu 1400 tahun, dan selama itu juga sudah banyak terjadi perubahan zaman, namun hingga sampai saat ini ajaran Islam masih tetap dijalankan. Tugas agama adalah memberikan petunjuk apa yang harus dan atau tidak harus dilakukan.

“Islam itu datang meluruskan segala sesuatu supaya kamu bertakwa,” ungkapnya.

Dalam keadaan Islam yang sudah meluruskan sesuatu itu, orang Indonesia membuat kreatifitas dengan membuat acara halal bihalal. Nabi Muhammad berjanji, siapapun yang shalat dan puasa di bulan Ramadhan dengan tertib, maka akan bersih layaknya bayi yang baru dilahirkan.

“Kemudian, orang Indonesia kreatif, dengan puasa saya bersih di hadapan Allah. Saya membayar zakat, maka bersihlah harta saya. Kurang satu (yaitu) bersih sesama manusia yang belum. Lalu (terjadilah) maaf-maafan (yang disebut halal bihalal),” jelasnya.

Ustad Suherman menegaskan bahwa halal bihalal merupakan satu dari trilogi bersih kepada Allah, harta dan manusia. Apabila manusia melakukannya dengan tulus dan ikhlas, akan berbuah terhadap kehidupan manusia.

“Dengan semangat itu, mudah-mudahan kita bisa mendapatkan makna dan nilai dari hari raya,” tambahnya.

Pada akhir Ustad Suherman menambahkan bahwa dengan adanya pandemi COVID-19, ke kantor hanya akan menjadi formalitas. Ke depannya akan terbentuk dua kubu yang akan mendukung atau menolak Work From Home (WFH) dan kembali ke cara lama.

“Entah kekuatan mana yang akan lebih kuat nantinya. Akan terjadi keseimbangan baru yang bersamaan dengan konsep Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, red) tentang kuliah merdeka,” pungkasnya (*)

Penulis: Sandi Prabowo

Editor: Khefti Al Mawalia

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu