Diplomasi Unik ala Indonesia di Negara Pasifik

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin

UNAIR NEWS – Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional (20/5/2020), Hubungan Internasional (HI) UNAIR bekerja sama dengan Kedutaan Besar Wellington menggelar diskusi Hubungan Indonesia-Pasifik. Diskusi yang berjudul “Rebonding with Our Pacific Neighbors” tersebut diisi oleh Tantowi Yahya selaku Duta Besar Keliling RI di Pasifik serta Dra. Baiq Wardhani, M.A. Ph.D. selaku dosen HI UNAIR.


Diskusi yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dan akademisi melalui platform zoom tersebut secara garis besar ingin mengingatkan Indonesia bahwa Pasifik adalah saudara jauh Indonesia yang sejatinya begitu sentral bagi praktik politik luar negeri. “Pemerintah kita sempat lama sekali melupakan Pasifik. Terlihat pada GBHN dulu, Pasifik ada di urutan kedua lingkaran konsentris prioritas politik luar negeri Indonesia. Padahal, Pasifik juga adalah kawasan terdekat Indonesia selain Asia Tenggara. Selain itu, pemerintahan kita dulu terlalu economic-based dalam membangun relasi kawasan. Pasifik itu bagaikan halaman belakang yang harus kita jaga demi keamanan nasional.” ujar Dra. Baiq atau yang lebih sering disapa Dra. Ani.


Sementara itu, Tantowi Yahya menyebutkan bahwa Indonesia Timur memiliki relasi dan sejarah yang begitu kuat dengan Pasifik. Hal ini dibuktikan dengan kesamaan budaya dan ras pada masyarakat Timur Indonesia dengan masyarakat Pasifik. Maka dari itu pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo Indonesia mulai mempererat hubungan dengan Pasifik.


“Concern pemerintah terhadap Pasifik pertama kali ditunjukkan dengan pengangkatan Dubes Keliling Pasifik. Tugasnya melakukan penetrasi kawasan, lalu menjalin komunikasi dengan 20 negara Pasifik agar tercipta kesepahaman yang lebih tinggi,” kata duta besar yang juga penyanyi country tersebut.


Di sisi lain, cara selanjutnya yang digunakan pemerintah Indonesia untuk mendekati Pasifik adalah melalui soft diplomacy. Strategi tersebut diambil karena masyarakat Pasifik merupakan bangsa yang lebih mementingkan rasa di atas segalanya.


“Kalo berdiplomasi dengan Pasifik, tidak akan berhasil jika cuma pakai bahasa politis dan hukum. Makanya tahun lalu kita mengadakan festival musik besar di Pasifik. Kita mengkolaborasikan musisi-musisi Indonesia Timur dengan musisi Australia dan Maori. Hasilnya mereka begitu terkesan karena baru tau ternyata Indonesia punya budaya yang serupa dengan mereka. Makanya, rekognisi budaya perannya sangat penting.” tutur Tantowi.


Strategi kedua Indonesia adalah membuka pasar. Meski terhitung kalah start dengan negara-negara besar lain seperti Jepang, Amerika Serikat, dan Tiongkok, namun ajakan kerja sama Indonesia ini sangat disambut baik oleh negara Pasifik.


“Negara lain mostly menepakkan pengaruh di Pasifik lewat bantuan ekonomi. Namun, kita menyadari Pasifik tidak hanya butuh money tapi juga market. Makanya Indonesia bermain secara unik. Kita menawarkan pasar bagi produk Pasifik yang selama ini sulit menemukan market ekspor karena letaknya yang jauh dari kawasan lain. Kita juga adakan pameran perdagangan dan investasi yang pengunjung dan omsetnya sungguh luar biasa. Strategi ini tidak membuat negara besar lain merasa tersaingi. Malah kita seperti complementing each other.” katanya.


Melalui strategi diplomasi tersebut Tantowi mengungkapkan bahwa kini nama Indonesia mulai dikenal dan usaha Indonesia untuk menjalin relasi yang lebih erat dengan Pasifik semakin menguat. “Maka dari itu ini saatnya kita mengenal saudara jauh kita.” pungkasnya. (*)


Penulis: Intang Arifia NH
Editor: Feri Fenoria

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu