Partisipasi Perempuan dalam Pengawasan Makanan Cepat Saji di Kota Kendari

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Gerai makanan cepat saji. (Sumber: Merdeka)

Keamanan pangan masih menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia hingga saat ini, termasuk di Kota Kendari Propinsi Sulawesi Tenggara. Sebagai contoh kualitas makanan siap saji yang dijual masih diragukan, khususnya oleh pedagang kaki lima. Terbukti masih tingginya angka penyakit yang disebabkan oleh makanan seperti diare. Pada tahun 2015, angka penyakit diare dilaporkan sekitar 63,28% di Kota Kendari. Angka ini termasuk cukup tinggi bila dibandingkan dengan Kabupaten Konawe Selatan (6,64%), Wakatobi (15,87%) dan Kolaka Timur (46,34%).

Bahaya lain yang diakibatkan dari ketidakamanan makanan siap saji yang beredar yaitu telah memicu terjadinya penyakit kronis seperti penyakit hipertensi. Mengingat rasio antara jumlah tenaga pengawas di Puskesmas di wilayah Kota Kendari dengan jumlah pedagang makanan cepat saji sekitar 1: 30, maka keterlibatan masyarakat sipil dalam pengawasan makanan siap saji sangat diharapkan.

Terbukti dari penelitian yang dilakukan oleh Tasnim & Lusida (2019) di tiga keluarahan di wilayah Kota Kendari pada tahun 2018 menunjukkan bahwa ibu-ibu kader kesehatan bisa membantu pengawasan kepada pedagang makanan cepat saji. Dari 17 ibu-ibu kader yang dilibatkan dalam penelitian ini mampu mengawasi 39 pedagang makanan cepat saji. Sebelum melakukan pengawasan kepada pedagang makanan cepat saji, kader-kader kesehatan tersebut dilatih selama 1 hari tentang prinsip higiene dan sanitasi pengelolaan makanan, teknik melakukan pengawasan dengan menggunakan lembar  Formulir Pemeriksaan Kelaikan Hygiene Sanitasi Makanan dan Minuman Cepat Saji.

Formulir pengawasan sangat mudah untuk diisi oleh kader kesehatan, dimana terdapat 23 pertanyaan yang mencakup tentang lokasi dan kondisi gerobak, kebersihan pribadi,kebersihan peralatan, ketersediaan air bersih dan kebersihan bahan makanan, kebersihan penyajian makanan dan alat pewadaan makanan yang dijual. Ibu-Ibu Kader kesehatan  hanya melingkari angka dari 0 hingga 10 untuk setiap pertanyaan.

Setiap penilaian dikalikan dengan botot dari masing-masing pertenyaan tersebut. Akhir dari penilaian di total. Bila nilainya kurang dari 333 maka dikategorikan dalam perilaku higiene dan sanitasi pengelolaan makanannya kurang. Sedangkan kategori Cukup ketika total nilainya antara 334-666 dan kategori Baik bila nilainya diatas 667.

Ibu-ibu kader kesehatan yang bisa membantu pengawasan terhadap pedagang makanan cepat saji rata-rata berumur 41,5  tahun atau antara 40 sampai 44 tahun (41.2%). Mereka sebagian besar sudah lulus dari Sekolah Menengah Atas (SMA) yaitu sekitar 52,9%. Ibu-Ibu kader kesehatan yang aktif membantu dalam pengawasan makanan cepat saji sebagian besar ibu rumah tangga (70,6%). Dari 17 ibu-ibu kader kesehatan yang aktif tersebut, hanya 1 orang yang janda, selebihnya berstatus menikah (94,1%) dan sebagian besar mempunyai 2 orang anak (41,2%).

Ibu-ibu kader kesehatan yang aktif dalam pengawasan kepada pedagang makanan cepat saji, sebagian besar sudah menjadi kader kesehatan di desanya sekiar 6-10 tahun. Hal ini memungkingkan ibu-ibu tersebut sudah mempunyai pengalaman dalam mengikuti programprogram kesehatan di desanya. tentunya,  selama kurun waktu tersebut mereka juga sering mengikuti pelatihan–pelatihan di desanya baik dalam program kesehatan khususnya, juga dalam bidang pembangunan yang lain yang sering dilakukan di desa. Sebagian besar dari mereka yang aktif teah mendapatkan pelatihan lebih dari 1-5 kali.

Pengawasan kepada pedagang makanan cepat saji ini akan efektif dilakukan oleh ibu-ibu kader kesehatan, ketika berjarak kurang dari 500 meter dari rumahnya dengan berjalan kaki. Maksimal berjarak kurang dari 1500 meter tetapi dengan menggunakan sepeda motor. Dimana waktu yang ditempuh kurang dari 10 menit ke pedagang makanan cepat saji tersebut.

Dengan keterlibatan ibu-ibu kader kesehatan tersebut, maka perubahan perilaku pedagang kearah higiene dan sanitasi pengelolaan makanan lebih baik. Terbukti dari penurunan kandungan bakteri E-coli dalam makanan yang dijualnya setelah terlibatnya kader dalam pengawasan makanan cepat saji di 3 kelurahan di wilayah Kota Kendari. (*)

Penulis: Tasnim, Maria Inge Lusida

Artikel lengkapnya dapat diakses melalui link jurnal berikut ini:

http://www.indianjournals.com/ijor.aspx?target=ijor:ijphrd&volume=10&issue=10&article=277

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu