Cerita Mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Jalani Exchange di tengah Pandemi Covid-19

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
ARI dan Reginda bersama teman-teman mancanegara berswafoto setelah berdiskusi dan makan bersama. (Foto: dok. Pribadi)
ARI dan Reginda bersama teman-teman mancanegara berswafoto setelah berdiskusi dan makan bersama. (Foto: dok. Pribadi)

UNAIR NEWS – Berlangsungnya pandemi COVID-19 tak lantas meredupkan semangat putra-putri Airlangga dalam menimba ilmu di negeri seberang. Adalah Yusuf Ari Saktianto dan Farah Reginda, dua mahasiswa Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya UNAIR yang saat ini sedang menjalani program exchange di Korea Selatan.

Ari dan Reginda tergabung dalam program Catholic University of Korea Exchange Program  – Spring 2020. Program tersebut telah berlangsung sejak 16 Maret 2020 hingga  26 Juni 2020 mendatang, dan diikuti oleh berbagai mahasiswa mancanegara.

Reginda atau Rere mengatakan bahwa exchange akan berlangsung selama satu semester, jadi harus disiapkan dengan sebaik mungkin. Selain itu, kondisi fisik dan kesehatan harus sepenuhnya siap karena geografis Korsel kontras dengan di Surabaya.

“Sebagai mahasiswa Humaniora saya merasa sangat perlu mengikuti program exchange, karena menjadi langkah untuk mengenal dan memahami budaya lain. Tapi, sayangnya gara-gara pandemi ini international exposure nya jadi kurang terasa,” ungkap Rere pada Kamis (14/5/2020)

Namun, lanjut Rere, karena ini di Korsel, pemerintahnya sangat responsif dan serius menangani pandemi ini. Alhasil mahasiswa tidak akan merasa terkekang dan bisa beraktivitas dengan tenang tanpa rasa khawatir yang berlebihan.

ARI dan Reginda bersama teman-temannya. (Foto: dok. Pribadi)

Sementara itu, Ari menjelaskan bahwa proses seleksi dari Catholic University of Korea sangat seru, karena pendaftar diminta membuat motivation letter dan juga rencana studi yang matang selama exchange. Hal tersebut tentu membuatnya semakin bersemangat karena pesaingnya dari negara-negara Asia dan Eropa.

“Saya sempat tidak diizinkan oleh orang tua dan fakultas, karena COVID-19 sedang ganas-ganasnya. Namun, berkat keteguhan dan konsistensi menjaga kesehatan akhirnya diperbolehkan berangkat, karena pihak host university juga tidak melakukan pembatalan,” paparnya.

Menurut Ari, Selama exchange, jumlah sks yang wajib diambil hanya 9 sks, tetapi karena Ia mengambil kelas Bahasa Korea, maka hanya diperbolehkan 6 sks. Ari mengambil mata kuliah A Short Introduction to Korean History and Its Culture dan Global Consumer Trend.

Lalu, untuk kelas Bahasa Korea berlangsung di Korean Language Education Center, “Itu seperti Pusat Bahasa kalau di UNAIR,” imbuhnya.

“Selain membuat CV jadi menarik, exchange memberikan koneksi berharga, disini saya sambil melakukan penelitian dan berhasil mendapatkan koneksi dosen sejarah dan budaya Korea, di Seoul National University,” jelasnya.

Selama menjalani exchange, Ari dan Rere tak lupa mengenalkan budaya Indonesia, contohnya batik dan makan dengan nasi. Selain itu, mereka bertukar culture experience masing-masing negara yang memberikan pengalaman berkesan.

“Seharusnya kami tiba di Korsel sejak akhir Februari dan program selesai pertengahan Juni. Namun, karena pandemi, program sempat ditunda. Jadi, kami berangkat pada pertengahan Maret dan jika sesuai dengan perubahan sebelumnya, program akan selesai pada akhir Juni 2020,” ujar mahasiswa asal Madiun itu.

Pesan Ari dan Rere, mengikuti exchange tak hanya memperluas koneksi saja, namun dapat mempelajari budaya bangsa lain, hal tersebut akan membuat kita sadar betapa  pentingnya budaya bangsa kita sendiri.(*)

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti

Editor: Feri Fenoria Rifa’i

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu