Aktivitas Antimalaria Beberapa Senyawa Alkaloid Aporfin dari Daun Phoebe Tavoyana

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Daun Phoebe Tavoyana. (Sumber: Wikipedia)

Malaria adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh spesies Plasmodium yang ditularkan dari darah orang yang terinfeksi dan ditularkan ke manusia yang sehat oleh nyamuk Anopheles betina.

Plasmodium falciparum adalah penyebab penyakit infeksi parasit utama di dunia dan terus menyebabkan morbiditas dan mortalitas dalam skala besar di negara-negara tropis dan merusak pembangunan di negara-negara termiskin di dunia. Oleh karena itu, banyak penelitian telah mengevaluasi aktivitas senyawa pada spesies ini. Di banyak bagian dunia, parasit telah mengembangkan resistensi terhadap sejumlah obat malaria seperti klorokuin dan turunannya, sehingga ada kebutuhan mendesak untuk menemukan senyawa baru dengan mekanisme kerja yang berbeda dari obat yang telah ada.

Sebagai kelanjutan dari penelitian kami terhadap tanaman yang berkhasiat antimalaria, telah dilakukan penelitian untuk mengetahui aktivitas antimalaria dari tanaman Phoebe tavoyana (Meissn.) Hook f. (Lauraceae), yang dikenal sebagai “medang rungkoi” (Malaysia). Penelitain ini dilakukan berkerja sama dengan beberapa universitas di Malaysia dan Indonesia yaitu University of Malaya, University of Science Malaysia, Universiti Tenaga Nasional, University of Pendidikan Sultan Idris (Malaysia) dan Universitas Airlangga, Universitas Indonesia (Indonesia).

Phoebe tavoyana (Meissn.) Hook f. adalah tanaman pohon dengan ketinggian hingga 14 m. Tanaman ini umumnya terdistribusikan di Pulau Langkawi, Kedah, Perak, Kelantan dan di hutan dataran rendah, India, Burma, Indo-Cina, Thailand, dan Sumatra. Tanaman ini telah digunakan secara tradisional di Semenanjung Melayu, Malaysia sebagai obat anatimalaria.

Spesies Phoebe telah dilaporkan mengandung aporphine, proaporphine, oxoaporphines, dan morfin. Penapisan biologis pada ekstrak alkaloid kasar daun Phoebe grandis untuk aktivitas antimalaria telah menunjukkan hasil positif (IC50 <8 µg /ml). Ekstrak kasar daun P. scortechinii menunjukkan aktivitas antimalaria yang signifikan terhadap galur P. falciparum yang resisten, Gombak A (IC50 6,1067 µg /ml) dan galur P. falciparum yang sensitif, D10 (IC50 0,691 µg /ml). Spesies Phoebe ini telah terbukti potensial sebagai antimalaria sehingga Phoebe tavoyana dipilih sebagai kandidat antimalaria berikutnya.

Penelitian ini melaporkan isolasi, elusidasi struktur senyawa, dan aktivitas antimalaria dari serangkaian senyawa alkaloid dari ekstrak daun P. tavoyana.

Daun kering Phoebe tavoyana diekstraksi dengan pelarut organik menggunakan Soxhlet ekstraktor selama 18 jam untuk memberikan ekstrak kental gelap. Pemisahan ekstrak secara kromatografi menghasilkan satu senyawa aporfin baru (1) bersama dengan lima senyawa yang telah dikenal (2-6). Senyawa (1) berhasil diidentifikasikan sebagai (+)-tavoyanine A atau N-(2-hydroxypropyl)-norboldine A berdasarkan data spektroskopi Nuclear Magnetic Resonance (NMR) dan perbandingan dengan laporan literatur senyawa.

Sepengetahuan penulis, (+)-tavoyanine A (1) adalah senyawa yang pertama kali dilaporkan sebagai senyawa alami. Sedangkan kelima senyawa yang dikenal telah diidentifikasikan sebagai laetanine (2), roemerine (3), laurolitsine (4), boldine (5); dan satu jenis morphinandienone, sebiferine (6). Identifikasi senyawa tersebut dilakukan dengan cara membandingkan data spektroskopi mereka dengan literatur.

Senyawa yang telah berhasil diisolasi kemudian diuji untuk aktivitas penghambatan in vitro terhadap P. falciparum galur 3D7. Hanya empat senyawa yang menghasilkan aktivitas penghambatan yang signifikan terhadap galur Plasmodium yang sensitif klorokuin (3D7); dengan konsentrasi penghambatan berkisar antara 0,89 hingga 2,76 µg/ml.

Di antara senyawa tersebut, roemerine (3) memiliki aktivitas penghambatan paling kuat dengan nilai IC50 0,89 µg/ml. Sedangkan klorokuin, obat antimalaria standar, memiliki nilai IC50 0,006 µg/ml. Peningkatan aktivitas roemerine (3) menyiratkan bahwa substituen 1,2-metilendioksi diperlukan untuk ekspresi aktivitas penghambatan dari alkaloid aporfin. Aktivitas boldine (5) atau laurolitsine (4) yang lemah mungkin karena tidak adanya 1,2-methylenedioksi atau karena polaritas yang melemahkan kemampuan senyawa untuk menghambat parasit.

Sayangnya, laetanine (2) dan tavoyanine A (1) tidak diuji karena jumlah yang tidak cukup untuk menilai penghambatan aktivitas in vitro terhadap P. falciparum. Sebiferine (6) juga ditemukan aktif terhadap P. falciparum galur 3D7, tetapi aktivitasnya merupakan yang terlemah di antara senyawa yang diuji. Itu mungkin karena adanya N-metil dan lebih banyak kelompok metoksil dalam struktur sebiferine (6) dibandingkan dengan lainnya.

Sejauh pengetahuan kami, belum ada investigasi fitokimia dan aktivitas farmakologi yang  telah dilakukan pada tanaman ini. Menariknya, roemerine (3) belum pernah dilaporkan memiliki aktivitas antimalaria sebelumnya sehingga hal ini menjadi penemuan baru. Aktivitas penghambatan yang signifikan dari senyawa-senyawa alkaloid ini mendukung penggunaan tradisional tanaman Phoebe sebagai obat antimalaria.

Penulis: Aty Widyawaruyanti

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:

https://umexpert.um.edu.my/public_view.php?type=publication&row=ODI3MzQ%3D

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu