Peran Pemberdayaan Perempuan dalam Mengatasi Kejadian Diare pada Anak Usia < 2 Tahun di Indonesia

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi diare pada anak. (Sumber: dokter.id)

Pemberdayaan perempuan adalah kemampuan perempuan untuk melakukan kontrol atas kehidupan, dirinya, dan lingkungan mereka sendiri. Penekanan pada pemberdayaan sering diberikan kepada perempuan dalam peran pengambilan keputusan, kemandirian ekonomi mereka, dan hak-hak hukum mereka untuk menerima perlakuan dan perlindungan terhadap semua bentuk diskriminasi (Kishor & Subaiya, 2008).

Pemberdayaan perempuan harus dianggap sebagai komponen yang sangat kritis (Ewerling et al., 2017) karena umumnya terkait dengan status kesehatan ibu dan anak, pemanfaatan layanan kesehatan dan penyerapan layanan kesehatan anak (Kabeer, 2012; Ndaimani, Mhlanga, & Dube- Mawerewere, 2018; Pratley, 2016). Ada beberapa alasan kuat untuk mengevaluasi, mempromosikan, dan memantau tingkat pemberdayaan perempuan.

Di suatu negara, kesehatan dan gizi rumah tangga umumnya di tangan wanita. Oleh karena itu, pemberdayaan perempuan diperlukan untuk memastikan kesejahteraan mereka sendiri, dan kesejahteraan rumah tangga mereka. Memberdayakan perempuan juga penting untuk pembangunan suatu negara (Kishor & Subaiya, 2008; Phan, 2016).

Diare pada anak perlu dipahami melalui orang tua mereka, terutama ibu. Ibu memainkan peran penting dalam dunia anak-anak, seperti merawat kebutuhan dasar anak-anak mereka. Selain itu, sang ibu secara biologis terhubung dengan anaknya. Karena itu, peran seorang ibu sangat penting dalam mengurangi angka kesakitan dan kematian anak. Diare adalah penyebab morbiditas dan mortalitas anak di banyak negara dan terutama disebabkan oleh sumber makanan dan air yang tercemar (Chilambwe, Mulenga, & Siziya, 2015; Musonda, Siziya, Kwangu, & Mulenga, 2017).

Diare adalah salah satu penyebab utama kematian pada anak-anak, yaitu sekitar 8% dari semua kematian pada anak balita di dunia pada tahun 2016 (United Nation, 2018). Secara global, ada sekitar 1,7 miliar anak yang mengalami diare setiap tahun. Penyakit diare menyebabkan 525.000 anak di bawah 5 tahun meninggal dunia (WHO, 2017). Umumnya kematian akibat diare terjadi pada anak di bawah dua tahun (United Nation, 2018) di negara-negara berpenghasilan rendah. Kasus anak di bawah 5 tahun yang mengalami diare di Indonesia adalah 12,3% berdasarkan diagnosis petugas kesehatan atau gejala yang dialami anggota rumah tangga (Kementerian Kesehatan, 2018).

Hasil penelitian yang kami lakukan dengan menggunakan data Demographic Health Survey (DHS) tahun 2017 pada 5.526 ibu yang mempunyai anak di bawah 2 tahun ditemukan bahwa ada 17% anak-anak mereka mengalami diare baru-baru ini. Anak-anak dari ibu yang mempunyai sikap agak tidak setuju terhadap pemukulan istri memiliki 29% lebih rendah mengalami diare dibandingkan dengan ibu dengan sikap setuju terhadap pemukulan terhadap istri.

Anak-anak dari ibu dengan sikap yang tidak setuju terhadap pemukulan istri memiliki 24% lebih rendah mengalami diare dibandingkan dengan ibu yang memiliki sikap setuju terhadap pemukulan terhadap istri. Selain itu, anak-anak dari ibu dengan tingkat pengetahuan yang baik memiliki 29% lebih rendah mengalami diare baru-baru ini dibandingkan dengan ibu dengan tingkat pengetahuan yang buruk.

Pemberdayaan perempuan masih merupakan indikator penting untuk mengurangi insiden diare, terutama tingkat pengetahuan perempuan dan sikap perempuan terhadap pemukulan istri. Meningkatkan tingkat pengetahuan wanita dan sikap yang baik terhadap pemukulan istri di masyarakat akan menjadi cara yang baik untuk membantu meningkatkan kesehatan anak-anak sehubungan kejadian diare pada anak-anak mereka.

Menurut penelitian ini, pembuat kebijakan perlu mempertimbangkan program pemberdayaan perempuan untuk meningkatkan kesehatan keluarga, terutama kesehatan anak-anak. Selain itu, ada kebutuhan bagi pembuat kebijakan untuk mengembangkan strategi komunikasi untuk perubahan sosial di berbagai media karena ini akan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran perempuan dalam masalah kesehatan.

Penulis :  Erni Astutik, Ferry Efendi, Susy Katikana Sebayang, Setho Hadi Suyatmana, Eka Mishbahatul Marah Has, Heri Kuswanto

Informasi lebih detail mengenai artikel ini dapat dilihat di:

https://doi.org/10.1016/j.childyouth.2020.105004

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu