Endoparasit Cacing yang Menginfeksi Ikan Kakap Putih di Tambak dan Keramba Jaring Apung

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Parasit cacing. (Sumber: Dictio Community)

Permintaan ikan kakap putih menunjukkan peningkatan setiap tahunnya. FAO mencatat bahwa Indonesia merupakan negara produsen ikan kakap putih terbesar ke-4 yang mensuplai lebih dari 8,2% kebutuhan ikan kakap putih diseluruh dunia. Permintaan ikan kakap putih tersebut dipenuhi melalui kegiatan budidaya di tambak dan keramba jarring apung, namun kegiatan budidaya tersebut tidak dapat terlepas dari kemungkinan infeksi penyakit yang disebabkan karena parasit.

Infeksi parasit, terutama endoparasit (parasit organ dalam) pada ikan dapat menghambat pertumbuhan dan reproduksi ikan hingga mengakibatkan kematian pada ikan. Tingginya kematian akibat infeksi parasite pada ikan menyebabkan kerugian yang tinggi bagi para pembudidaya. Selain itu, infeksi endoparasit juga dapat menginfeksi manusia yang mengkonsumsi ikan setengah matang yang terinfeksi larva parasite. Pada manusia, infeksi parasite dapat mengakibatkan peradangan, luka dan nekrosis pada organ dalam. Kondisi yang sudah kronis, parasite dapat menyebabkan kanker usus dan kematian pada manusia. Salah satu jenis endoparasit yang dapat menginfeksi manusia yaitu Rhadinorhynchus bicircumspinis.

Cacing Rhadinorhynchus bicircumspinis sebelumya telah dilaporkan menginfeksi ikan Scomber japonicas di Taiwan dan Peru; Decapterus kurroides dari Vietnam; Platycephalus bassensis di Australia; dan Bagrus bajad dari Sungai Nil. Mengingat efek yang ditimbulkan oleh cacing Rhadinorhynchus bicircumspinis jika menginfeksi manusia, maka perlu dilakukan kajian untuk menganalisa infeksi cacing Rhadinorhynchus bicircumspinis pada ikan kakap putih yang dibudidayakan di tambak dan keramba jarring apung yang nantinya akan digunakan sebagai data acuan untuk pemetaan distribusi dan penyebaran endoparasit pada ikan kakap putih.

Survey dilakukan dengan memeriksa 60 ekor ikan kakap putih berukuran panjang 18,18 ± 1,41 cm yang diambil dari tambak dan keramba jarring apung Perairan Situbondo. Ikan kakap putih selanjutnya dibedah dan diamati organ dalamnya. Cacing yang telah ditemukan kemudian diidentifikasi berdasarkan ciri morfologi sesuai kunci identifikasi.

Hasil analisa infeksi menunjukkan bahwa nilai prevalensi (persentase ikan yang terinfeksi dari total sampel) dan intensitas (rata-rata jumlah parasite yang menginfeksi setiap sampel) cacing Rhadinorhynchus bicircumspinis dari keramba jarring apung yaitu 40% dan 2,5 lebih tinggi dibandingkan dari tambak yaitu 10% dan 1. Hal ini terjadi karena kondisi kebersihan jarring dan jenis pakan yang dikonsumsi oleh ikan.

Jaring yang kotor karena ditempeli oleh hewan invertebrate dan makroalga dapat digunakan oleh parasite sebagai tempat hidup sementara yang apabila dimakan oleh ikan, maka parasite tersebut akan berpindah dan menginfeksi ikan. Selain itu, keberadaan hewan invertebrate seperti moluska dan udang-udangan dapat berperan sebagai inang antara bagi parasite untuk menyempurnakan siklus hidupnya.

Selain faktor pakan yang diberikan, kondisi perairan dan pemeliharaan juga menjadi faktor sehingga pada keramba jaring apung lebih banyak ditemukan ikan yang terinfeksi cacing endoparasit. Parasit masuk ke dalam kolam budidaya karena terbawa oleh arus maupun organisme air. Kondisi perairan laut terbuka yang dapat tercemar, seperti pada keramba jaring apung yang sangat rentan tercemar oleh lingkungan karena perairan yang terbuka sehingga menyebabkan cacing endoparasit mudah menginfeksi ikan kakap putih kemudian dapat menyebabkan sistem imunitas menurun. Berbeda dengan lingkungan tambak yang kualitas airnya terkontrol dan tidak mengalami pencemaran.

Berdasarkan hasil analisa infeksi cacing Rhadinorhynchus bicircumspinis pada ikan kakap putih yang dipelihara di keramba jarring apung lebih tinggi dibandingkan ikan kakap putih yang dipelihara di tambak. Beberapa faktor yang menjadi pemicu tingginya nilai infeksi cacing Rhadinorhynchus bicircumspinis di keramba jarring apung seperti jenis pakan yang dikonsumsi, kondisi kebersihan jarring serta kondisi perairan laut terbuka yang mengalami pencemaran. (*)

Penulis: Mohammad Faizal Ulkhaq

Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan di :

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/441/1/012073

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu