Derajat Infeksi Cacing Nematode Endoparasit pada Belut Sawah dari Kabupaten Banyuwangi

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Cacing parasit. (Sumber: Wikipedia)

Infeksi cacing endoparasit pada ikan, terutama belut sawah disebabkan karena keberadaan larva endoparasit dari inang antara 1 yaitu arthropoda, moluska dan oligochaeta yang masuk ke dalam tubuh belut bersamaan dengan pakan yang dikonsumsi. Dalam tubuh belut, terjadi perkembangan stadia menjadi larva infektif yang dapat menginfeksi inang definitive yaitu mamalia termasuk manusia. Manusia dapat terinfeksi cacing endoparasit jika mengkonsumsi belut mentah atau yang tidak dimasak sempurna dan menyebabkan berbagai macam gangguan dalam tubuh seperti demam, mual, muntah, diare, dan peradangan pada saluran pencernaan serta reaksi alergi pada kulit dan selaput lendir.

Pada kondisi yang akut, cacing endoparasit dapat masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebar ke seluruh organ dalam serta menyebabkan kematian. Beberapa cacing nematode telah dilaporkan bersifat zoonosis/dapat menginfeksi manusia seperti dari genus Eustrongylides, Gnathostoma, Anisakis, Pseudoterranova, Contracaecum, Hysterothylocium, dan Diactophyme.

Beberapa studi melaporkan keberadaan cacing endoparasit dalam tubuh belut dari berbagai penjuru dunia seperti Eustrongylides yang menginfeksi dinding usus, Anisakis simplex yang menginfeksi rongga perut, Anguillicoloides crassus yang menginfeksi gelembung renang, Cucullanus dan Gnathostoma spinigerum yang menginfeksi saluran pencernaan. Di Indonesia sendiri telah dilaporkan cacing endoparasit Procamallanus sp dan Acanthocephala spyang ditemukan di kabupaten Bogor serta Eustrongylides ignotus dan Pingus sinensis yang menginfeksi saluran pencernaan belut dari pasar tradisional Kota Surabaya.

Kebutuhan informasi mengenai jenis cacing endoparasit yang menginfeksi belut di Kabupaten Banyuwangi mendorong peneliti untuk melakukan survey dan pengamatan infeksi cacing endoparasit belut yang nantinya dapat digunakan sebagai acuan untuk mencegah kejadian infeksi penyakit zoonosis pada manusia akibat infeksi cacing endoparasit belut.

Tiga ratus ekor belut berukuran panjang 30-110 cm diambil dari lima pasar tradisional di wilayah Banyuwangi yaitu Kecamatan Genteng, Rogojampi, Srono, Cluring dan Kota untuk diperiksa keberadaan cacing endoparasit dalam tubuhnya. Cacing yang ditemukan selanjutnya diidentifikasi berdasarkan ciri morfologisnya dan dihitung nilai prevalensi (persentase sampel belut yang terinfeksi dari keseluruhan sampel) dan intensitasnya (jumlah rata-rata parasite dalam satu ekor sampel).

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ditemukan tiga jenis cacing endoparasit nematode yaitu Eustrongylides ignotus (Nematoda; Dioctomidae), Pingus sinensis (Nematoda; Quimperiidae), dan Procamallanus (Nematoda; Camallanidae). Nilai prevalensi dan intensitas tertinggi ditunjukkan oleh cacing Eustrongylides ignotus sebesar 16.33% dan 1.92. Hal ini diduga disebabkan karena pakan alami yang dikonsumsi oleh belut mengandung larva cacing Eustrongylides ignotus.

Beberapa referensi menyebutkan bahwa pakan alami berupa cacing Oligochaeta yang banyak terdapat dalam lumpur. Selain itu, cacing dari spesies Dero digitata, Limnodrillus hoffmeisteri, Aulodrilus pigueti dan Pristina synclites yang merupakan makanan favorit dari belut juga bertindak sebagai inang perantara dari cacing Eustrongylides ignotus, jadi apabila belut mengkonsumsi pakan yang mengandung larva cacing, maka akan terjadi transmisi/perpindahan dari pakan kedalam tubuh belut sehingga belut akan terinfeksi cacing Eustrongylides ignotus.

Faktor lain yang diduga memicu infeksi cacing endoparasit dalam tubuh belut yaitu tingginya kadar polutan dalam lingkungan perairan terutama yang berasal dari penggunaan insektisida dan pestisida yang berlebihan untuk keperluan pertanian. Hal ini menyebabkan belut menjadi stress dan menurunkan system imun dalam tubuhnya sehingga mudah terinfeksi oleh parasit.

Keberadaan cacing Eustrongylides ignotus dalam tubuh belut akan berdampak pada manusia jika dikonsumsi dalam kondisi mentah atau setengah matang seperti diare, mual, muntah, demam dan reaksi alergi yang berlebihan. Untuk itu, penting kiranya untuk mengkonsumsi belut yang telah dimasak secara sempurna demi mencegah infeksi yang ditimbulkan oleh cacing endoparasit Eustrongylides ignotus pada manusia.

Penulis: Mohammad Faizal Ulkhaq

Informasi detail riset ini dapat dilihat pada tulisan di :

https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1755-1315/441/1/012071

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu