Buruh Naik Kelas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh liputan6 com

Pertentangan hubungan antarkelas buruh dan kapitalis di hari Mayday  baru-baru ini selalu mengundang banyak perhatian. Pertentangan itu biasanya dipicu oleh sumber ketidakadilan karena adanya dikotomi kedua struktur kelas yang saling antagonis, yaitu Pertama terkait teori pascaindustri yang melihat kelas harus lebih manusiawi. Kedua didasarkan pada teori Marx yang melihat kelas lebih teratur dan terdegradasi. 

Untuk mengurai pertentangan dikotomi struktur kelas ini, Anker  (2002) menjelaskan struktur kelas melalui struktur organisasi dalam struktur pekerjaan. Anker membagi struktur organisasi menjadi dua, yaitu tertutup dan terbuka. Struktur organisasi ini berefek pada struktur kelas. Ancangan analisis struktur kelas ini dimungkinkan dapat mengungkapkan kategori-kategori retasan kelas baru yang memiliki nilai penting dan secara empiris teruji. Sehubungan dengan hal itu, paradoksalitas konflik dimana aman dan profesional merupakan syarat utama pariwisata Bali dengan moto ajeg Bali, diduga wujud struktur organisasi di industri pariwiata Bali semakin terbuka dengan pola hubungan semakin harmonis yang jauh berbeda dengan apa yang dikemukakan oleh Marx. Dari wujud struktur organisasi dan pola  yang seperti itu diasumsikan bahwa Industri pariwisata Bali mampu membangun kesejahteraan ke semua kelas.

Memang tidak dapat dipungkiri bahwa fakta empiris memperlihatkan transformasi socio-economics pariwisata Bali dominan merupakan hasil pertumbuhan yang cepat dari pariwisata masal. Hubungan antara kapitalis dan buruh yang intensif di industri pariwisata masal di Bali memunculkan regime buruh yang terorganisir, tersruktur terbuka, terdislokasi, double status kelas, dan kesempatan pendapatan buruh yang berlipat-lipat. Hal ini diantaranya akibat dari keterlibatan sociokultural masyarakat Bali yang kompak menyadari pariwisata Bali untuk masyarakat Bali

Berbagai jenis usaha di industri pariwisata Bali sangat terkait erat dengan keruangan geotopografi, efek sirkulasi kapital, dan kondisi tenaga kerja yang tersedia. Oleh karena itu, corak atraksi wisata yang dipasarkan dan variasi distribusi jenis usaha di industri pariwisata yang tumbuh produktif di Bali dominan berturut-turut kuliner sebesar 37,4%, souvenir 27,4%, akomodasi 26,6%, Spa 5,9%, MICE 1,1%, Destinasi Wisata 0,9%, Bisnis Perjalanan Wisata 0,6%, dan Konsultan Pariwisata 0,1%. Variasi dari jenis usaha tersebut cenderung didominasi oleh pariwisata masal yang 69% struktur organisasinya terbuka dan berkontribusi menentukan terwujudnya struktur pekerjaan di industri pariwisata secara riil yang bisa diidentifikasi struktur kelas pekerjaannya. 

Berbagai jenis usaha ekonomi skala kecil, menengah sampai besar, semuanya tumbuh kearah itu dengan tingkat kompleksitas dan spesialisasi yang beragam. Semakin besar jenis usahanya, semakin luas jaringannya dan semakin terbuka struktur organisasi yang dibentuk, maka semakin kompleks jenis spesialisasi tenaga yang dibutuhkan untuk mengisi struktur jabatan. Semakin kecil jenis usahanya, semakin sedikit spesialisasi tenaga kerja yang dibutuhkan. Spesialisasi ini bukan berarti pekerja terisolasi di bagiannya atau teralineasi dari bagian yang lain, tetapi semua menjadi bagian yang terintegrasi dalam satu visi perusahaan dan diberikan kesempatan yang sama untuk berkarir atau berprestasi. Sehubungan dengan hal itu, penilaian loyalitas pekerja bukan satu-satunya pada atasan atau pimpinan, tetapi kesuksesan prestasi yang diraihnya dalam mencapai visi bersama perusahaan. Pergerakan karir pekerja dalam struktur organisasi dari satu jabatan ke jabatan yang lain, dari satu jenis usaha ke jenis usaha yang lain, dari industri satu ke industri yang lain dari negara satu ke negara lain lintas batas atau dikenal dengan istilah procean career merupakan tujuan pekerja mencari sederetan pengalaman dalam menguasai spesifikasi keterampilan dan keahlian yang dibutuhkan untuk membangun keprofesionalan dirinya. Artinya, pengembangan karir ditentukan oleh kebutuhan pekerja sendiri, bukan sepenuhnya tergantung perusahaan.

Berdasarkan pola perpindahan pekerja ini, mengisyaratkan bahwa struktur kelas pekerja yang terwujud sudah tidak bisa dikotomikan kelas kapitalis dengan kelas pekerja atau proletariat, tetapi terfragmented adanya kelas baru profesional. Di sini tidak ada ketergantungan tunggal, yang ada adalah pilihan berdasarkan kemampuan potensinya masing-masing. Variasi ini, selain disebabkan oleh keterbukaan industri terhadap keluar masuknya pekerja, juga konsekuensi dari kelenturannya terhadap berbagai investasi, akumulasi modal, dan perubahan teknologi. Gambaran struktur pekerjaan di industri pariwisata Bali berikut dapat memperkuat pandangan-pandangan empirik seperti itu.

Hasil analisis dari hubungan antarkelas menunjukkan bahwa ada kelas baru yang menguat, yaitu kelas profesional (54,5%) yang mempunyai posisi tawar tinggi terhadap kelas kapital (1,5%) dan kelas proletariat (44%). Kondisi ini semakin menguatkan teori pascaindustri yang menunjukkan bahwa sistem yang terbuka, kemajuan teknologi, dan spesifikasi bidang memudahkan penguasaan keahlian menuju tingkat keprofesionalan yang semakin tinggi berbasiskan procean career lintas batas dan bukan proses proletarisasi konsisten. Dari penelitian ini diperkirakan transformasi kelas proletariat ke struktur kelas baru cenderung semakin menguat, seiring dengan terdistribusikannya kelas profesional ke arah status rangkap jabatan selain pekerja sekaligus kapitalis-profesional skala kecil pengusaha pinggiran hingga besar. Artinya, kaum buruh atau proletariat naik kelas rangkap jabatan dari mental employee, small bussiness, big bussiness hingga ke investasi. Di sini sebenarnya ada proses pemberdayaan melalui pengalaman kerja dari mental pekerja berproses menjadi profesional, pengusaha kecil hingga besar dan tumbuh menjadi pemodal yang terinspirasi dari berbagai jenis usaha di lingkungan industri pariwisata di sekitarnya.

Keprofesionalan yang banyak melahirkan identitas-identitas ganda dari para pekerja dalam jenis-jenis usaha di industri pariwisata telah menjadikan pekerja tidak mutlak lagi disebut sebagai pekerja. Beberapa pekerja yang telah berhasil memobilisasi dirinya ke atas menjadi seorang pengusaha yang mandiri sebagai bos atau Kapitalis, umumnya jauh lebih tangguh karena tahu persis seluk-beluk pekerjaan-pekerjaan yang dipekerjakannya. Di sini antara pekerja dan pengusaha sama-sama memberikan multiplier effect yang saling menguntungkan dan bukan saling meniadakan. Namun demikian, saat ini covid-19 mempengaruhi industri pariwisata Bali, baik pengusaha maupun buruh juga sama-sama merasakannya dan sama-sama bergerak dari wabah covid-19, proses recovery, hingga normalisasi tetap saling terintegrasi, juga bukan saling meniadakan. Selamat Hari Buruh.

Penulis: Bambang Suharto, Sri Endah Nurhidayati, M.Nilzam Aly, Aji Akbar Firdaus, Damar Kristanto

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di :

Mobility of the new class in the tourism industry in Bali.

African Journal of Hospitality, Tourism and Leisure, Volume 9 Issue 2 Tahun 2020 Page  1-10, ISSN : 2223-814X

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu