Peran Dauh Kopi Kendalikan Serangan Parasit pada Ikan Mas

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh detikfood

Ikan mas merupakan salah satu komoditas terbesar dalam setor budidaya di Indonesia. Secara umun, produkai ikan mas semakin meningkat setiap tahunnya. Data dari Departemen Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia menunjukkan bahwa peningkatan produksi ikan mas secara berturut-turut dari 2012 hingga 2016 adalah 374.366 ton, 412.703 ton, 434.653 ton, 461.107 ton, 461.107 ton, dan 498.297 ton. Namun, pada 2017 terjadi penurunan dengan total produksi 312.954 ton. Penurunan produksi ikan mas tersebut secara umum disebabkan oleh beberapa faktor, salah satunya adalah kematian benih karena wabah penyakit.

Penyakit dapat menjangkit lingkungan budidaya karena buruknya kualitas lingkungan perairan dan kurangnya manajemen biosecurity. Kondisi tersebut akan membuat daya tubuh pada ikan melemah, dan memudahkan patogen untuk menyerang. Sedangkan ikan mas dalam ukuran benih dikenal sebagai ikan yang paling rentan terjangkit penyakit, karena sistem kekebalan tubuhnya yang belum sempurna. Dan salah satu patogen yang umumnya menyerang benih ikan mas adalah parasit dari jenis Argulus.

Argulus japonicus adalah salah satunya, yang merupakan jenis Argulus asal Asia. Infestasi atau serangan A. japonicus dalam skala berat, dapat memicu infeksi sekunder oleh virus, bakteri, dan jamur yang mampu menyebabkan kematian ikan massal. Oleh sebab itu, hal tersebut perlu dikendalikan untuk terus meningkatkan jumlah produksi ikan mas. Salah satu cara untuk mengendalikan A. japonicus yaitu dengan pemberian pestisida kimia, namun pengunaan jangka panjangnya dapat menimbulkan efek berbahaya bagi lingkungan. Sehingga diperlukan bahan alami yang ramah lingkungan sebagai pengganti pestisida kimia tersebut.

Salah satu bahan alami yang dapat dijadikan sebagai alternatif adalah daun kopi robusta (Coffea canephora). Beberapa penelitian telah menyatakan bahwa daun kopi robusta mengandung senyawa anti-parasit seperti kafein. Sepanjang pengetahuan kami, aplikasi daun kopi robusta untuk megendalikan serangan Argulus masih terbatas. Sehingga diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk mengetahui efeknya terhadap serangan A. japonicus pada ikan, utamanya ikan mas.

Pada penelitian ini, menggunakan benih ikan mas berukuran 7-10 cm dan ekstrak daun kopi robusta yang berasal dari perkebunan kopi Banyuwangi. Sebelum menuju perlakuan utama, ikan terlebih dahulu diberi infestasi atau serangan A. japonicus buatan. Dengan cara memuasakan A. japonicua selama 24 jam untuk memberikan efek lapar, dan kemudian A. japonicus dimasukkan ke toples yang berisi benih ikan mas. Serta tunggu selama 15 menit hingga semua A. japonicus menempel pada ikan.

Setelah ikan terinfestasi oleh parasit A. japonicus, kemudian masing-masing ikan direndam menggunakan air yang mengandung ekstrak daun kopi robusta dengan dosis yang berbeda. Mulai dari 400 ppm (P1), 800 ppm (P2), 1200 ppm (P3), 1600 ppm (P4), dan perlakuan kontrol tanpa ekstrak (P0). Proses perendaman benih ikan mas ber-parasit dilakukan selama 30 menit. Setelah sampai batas waktu perendaman, dilakukan penghitungan keefektifan anti-parasit ekstrak daun kopi robusta pada ikan mas.

Berdasarkan hasil perlakuan, terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan kontrol (P0) dengan perlauan P1, P2, P3, dan P4. A. japonicus pada perlakuan kontrol, tetap melekat semua pada benih ikan mas hingga akhir perendaman. Sedangkan pada perlakuan lainnya menunjukkan pelepasan A. japonicus meskipun presentase akhir yang dihasilkan berbeda-beda. Hal tersebut diduga karena aktivitas anti-parasit berbagai senyawa fitokimia yang terkandung di dalam ekstrak daun kopi robusta. Bahkan beberapa penelitian menyebutkan bahwa alkaloid yang terkandung pada daun kopi robusta memiliki aktivitas mengendalikan serangan Argulus. Dan secara umum, presentase terbaik dihasilkan oleh perlakuan P4.

Alkaloid sendiri merupakan senyawa polar yang dapat melemahkan sistem saraf parasitik. Turunan dari senyawa alkaloid yang terkandung dalam daun kopi robusta adalah kafein, dimana senyawa tersebut mampu menghambat sistem kerja enzim asetilkolinesterase.

Enzim asetilkolinesterase berperan dalam menghentikan impuls saraf dengan menghidrolisis asetilkolin. Asetilkolin adalah senyawa neurotransmitter yang bertindak sebagai saluran untuk impuls saraf. Penghambatan sistem kerja enzim asetilkolinesterase menyebabkan akumulasi asetilkolin pada sinapsis saraf. Kemudian hal tersebut mampu menyebabkan impuls saraf bergerak terus menerus dan sistem saraf mengalami stimulasi berlebihan. Dimana kondisi tersebut dapat menyebabkan kerusakan pada sistem saraf pusat dan menyebabkan kelumpuhan organ.

Selain dari kafein, flavonoid juga mempengaruhi sistem saraf. Nugraha et al., (2017) mengatakan bahwa senyawa flavonoid menyerang bagian saraf di beberapa organ vital yang dapat menyebabkan kelemahan saraf. Argulus memiliki organ maksila, yang fungsinya adalah untuk mengaitkan diri pada inang. Karena kandungan flavonoid, kelumpuhan dapat terjadi pada rahang atas atau maksila tersebut. Sehingga, A. japonicus kehilangan kemampuan alaminya untuk menempelkan diri pada inang, sehingga mereka tidak dapat menempel di tubuh ikan.

Berdasarkan hal tersebut, ekstrak daun kopi robusta dinilai lebih efektif dalan mengatasi infestasi Argulus. Sesuai pernyataan dari Andiarsa (2014) bahwa semakin kecil konsentrasi suatu obat dan semakin pendek waktu pemaparan yang dibutuhkan untuk menyebabkan kematian pada parasit, dapat dikatakan bahwa obat tersebut lebih efektif dalam mengendalikan parasit.

Jika dibandingkan dengan ekstrak buah mengkudu, hanya mampu mengendalikan 49,5% Argulus dengan dosis 3,5% (35.000 ppm) dengan mencelupkan selama 15 menit (Ghazali et al., 2012). Kemudian, ekstrak daun pepaya hanya mampu mengendalikan 88% Argulus pada dosis 30% dengan perendaman selama 20 menit. Sedangkan ekstrak daun kopi robusta mampu mengendalikan 51,67% Argulus pada dosis 1.600 ppm dengan perendaman selama 30 menit.

Dapat disimpulkan, bahwa ekstrak daun kopi robusta (Coffea canephora) efektif dalam mengendalikan serangan Argulus japonicus pada ikan mas (Cyprinus carpio), dengan dosis optimal 1600 ppm.

Penulis : Hapsari Kenconojati

Referensi : Afifah N, Kimiyati, Kenconojati H. 2020. Evaluation of aqueous extract of robusta coffee (Coffea canephora) leaves for controlling Argulus japonicus infestation on common carp seed. IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 441 (2020) 012084. doi:10.1088/1755-1315/441/1/012084.

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu