Manfaat Bakteri untuk Pertumbuhan Ikan Nila

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh CNNIndonesia

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan salah satu komoditas unggulan dalam sektor budidaya di Indonesia. Mulai dari budidaya skala besar hingga skala rumah tangga, ikan tersebut lebih banyak dipilih oleh para pembudidaya. Hal tersebut disebabkan oleh masa budidaya ikan nila yang relatif singkat, antara 4-6 bulan pemeliharaan saja. Selain itu, penerapan rekayasa genetik pada ikan nila juga sudah ditemukan (contoh: teknik maskulinisasi), otomatis hal tersebut juga mampu mempercepat pertumbuhan ikan dalam proses budidaya.

Berbicara terkait teknik percepatan pertumbuhan ikan, terdapat satu teknik atau metode lain yang biasa digunakan oleh pembudidaya, yaitu pemberian probiotik. Meskipun telah banyak penelitian terkait pemberian probiotik pada ikan nila, namun belum ada laporan yang menyatakan tentang efek probiotik komersil terhadap pertumbuhan ikan nila tersebut. Oleh karena itu, artikel ini akan membahas hal tersebut.

Probiotik sendiri digambarkan sebagai mikroorganisme hidup yang ditambahkan dalam tubuh makhluk hidup, dan diharapkan mampu berkontribusi untuk menyeimbangkan mikroba usus serta memberikan efek kesehatan pada ikan. Penggunaan probiotik pada sektor perikanan terhitung baru jika dibandingkan dengan penggunannya pada manusia, unggas, dan sapi.

Beberapa tahun terakhir, probiotik menjadi strategi yang efektif untuk budidaya, karena efeknya yang menguntungkan pada kesehatan ikan. Sebab pemberian probiotik dapat meningkatkan pertumbuhan dengan membantu sistem pencernaan, melindungi dari patogen, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan meningkatkan kualitas air.

Tak hanya bakteri, berbagai jenis mikroorganisme, termasuk bakteri Gram-positif dan Gram-negatif, mikroalga, dan ragi, juga telah diuji coba sebagai probiotik dalam kegiatan budidaya. Dalam penerapannya, terdapat beberapa teknik untuk menerapkan probiotik dalam pengelolaan kegiatan budidaya, seperti suplementasi pada makanan, perendaman melalui air tangki atau kolam, dan injeksi.

Pada penelitian kami, lebih memilih menggunakan probiotik dengan berbagai spesies bakteri di dalamnya, daripada probiotik yang hanya mengandung satu jenis bakteri. Sesuai laporan dari Lin et al., (2017), yang menyatakan bahwa pemberian probiotik dengan kandungan Lactobacillus pentosus, Lactobacillus fermentum, Bacillus subtilis, dan Saccharomyces cerevisiae, pada ikan seabass Asia menghasilkan peningkatan kinerja pertumbuhan dan status kesehatan pada ikan. Berdasarkan hal tersebut, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk menyelidiki efek dari jenis bakteri yang berbeda dalam probiotik, terhadap kinerja pertumbuhan ikan nila.

Dengan menggunakan ikan nila berukuran 20 gram/ekor, terdapat 3 perlakuan yang akan digunakan. Perlakuan pertama merupakan perlakuan kontrol, dimana dalam pemberian pakannya tidak ditambahkan probiotik. Perlakuan kedua menggunakan probiotik X yang mengandung Lactobacillus sp., Bacillus sp., Dan Pseudomonas sp. Sedangkan perlakuan ketiga menggunakan probiotik Y yang mengandung Lactobacillus sp., Bacillus sp., dan Bifidobacterium sp. Probiotik yang digunakan akan ditambahkan pada pakan ikan nila yang sebelumnya telah dikering anginkan selama 5 menit sebelum pemberian.

Kemudian, pengambilan sampel dilakukan 7 hari sekali untuk mengukur berat basah ikan. Serta menghitung parameter pertumbuban, seperti pertambahan berat badan (WG), laju pertumbuhan spesifik (SGR), dan rasio konversi pakan (FCR).

Selama 30 hari masa pemeliharaan, secara umum hasil menyatakan bahwa penambahan pakan dengan probiotik mampu meningkatkan tingkat pertumbuhan, dibanding perlakuan kontrol tanpa probiotik. Lebih spesifik, probiotik Y memperoleh hasil terbaik selama pemeliharaan. Sehingga hasil tersebut mengungkapkan bahwa penggunaan probiotik dengan komposisi yang berbeda, menghasilkan efek yang berbeda juga pada kinerja pertumbuban ikan nila.

Kedua probiotik yang digunakan dalam penelitian ini, mengandung Lactobacillus sp. dan Bacillus sp. Kedua bakteri itu adalah bakteri Gram-positif milik bakteri asam laktat (BAL), yang dikenal sebagai probiotik yang paling banyak digunakan karena kemampuannya dalam menyeimbangkan mikrobiota usus dan mendorong laju pertumbuhan pada spesies ikan yang berbeda. Bahkan, penelitian sebelumnya telah menyelidiki bahwa bakteri ini secara alami ditemukan dalam saluran pencernaan ikan.

Menurut hasil, probiotik Y secara signifikan menghasilkan tingkat pertumbuhan lebih tinggi dari probiotik X. Hasil tersebut dapat diduga dari komposisi jenis bakteri yang berbeda pada probiotik X dan Y, dimana probiotik X mengandung Pseudomonas sp. dan probiotik Y mengandung Bifidobacterium sp. Dimana kedua jenis bakteri tersebut memiliki karakter yang berbeda. Pseudomonas sp. termasuk dalam Gram-negatif sedangkan Bifidobacterium sp. adalah Gram-positif. Namun, kedua bakteri tersebut tetap sering digunakan dalam kegiatan budidaya sebagai probiotik untuk meringankan berbagai penyakit.

Probiotik mengandung Pseudomonas sp. atau probiotik X, tidak memberikan peningkatan parameter pertumbuhan setinggi probiotik yang terkandung Bifidobacterium sp. atau probiotik Y. Hal terdebut diperkuat oleh penelitian dari Abd El-Rhman et al., (2009), yang menyatakan bahwa penambahan Pseudomonas sp. pada pakan nila dapat mengurangi tingkat pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan pemanfaatan pakan. Namun, laporan dari Hai et al., (2009) justru bertentangan dengan hal tersebut. Laporan yang menyelidiki peran Pseudominas synxantha dan Pseudomonas aeruginosa pada pertumbuhan udang raja, justru menghasilkan peningkatan dalam kesehatan, kelangsungan hidup, dan pertumbuhan. Kasus-kasus tersebut menunjukkan, bahwa Pseudomonad dapat diaplikasikan sebagai probiotik dalam organisme tertentu namun tidak dianjurkan untuk ikan nila.

Sedangkan peningkatan pertumbuhan pada ikan nila setelah diberi probiotik yang mengandung Bifidobacterium sp. membuktikan adanya interaksi sinergis antara Bifidobacterium sp, Lactobacillus sp., dan Bacillus sp. Ouwehand et al., (2000) menjelaskan, bahwa keberadaan Lactobacillus GG atau Lactobacillus bulgaricus meningkatkan adhesi Bifidobacterium lactis ke mukosa usus, sehingga kemungkinan strain probiotik untuk berkoloni meningkat. Oleh karena itu, pemilihan strain probiotik yang tepat sangat penting untuk memberikan keuntungan spesifik bagi spesies dalam kegiatan budidaya. Serta, Interaksi sinergis antara dua atau lebih jenis bakteri yang terkandung dalam probiotik harus dievaluasi untuk mengetahui efek biologisnya pada ikan sebelum digunakan dalam skala massal.

Sehingga dapat ditarik kesimpulan, bahwa aplikasi Bifidobacterium sp. dicampur dengan Lactobacillus sp. dan Bacillus sp. pada ikan nila, dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan yang lebih baik daripada probiotik yang mengandung Pseudomonas sp. Oleh karena itu, sebelum menerapkan pemberian probiotik pada pakan ikan nila, lebih baik cek terlebih dahulu komposisi bakteri yang terkandung pada probiotik.

Penulis : Hapsari Kenconojati

Referensi : Sholihuddin T.D, Arief M, Kenconojati H. 2020. Effect of different bacterial strain in probiotics on the growth performance of Nile Tilapia (Oreochromis niloticus). IOP Conf. Series: Earth and Environmental Science 441 (2020) 012072. doi:10.1088/1755-1315/441/1/012072

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu