Lesi Rongga Mulut pada Penderita Tuberkulosis

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Sumber: Halodoc

Sebagai salah satu penyakit yang paling mematikan di dunia, Tuberkulosis menjadikan Indonesia sebagai negara ketiga dengan kasus tertinggi di dunia setelah India pada tahun 2018. Secara umum diketahui bahwa Tuberkulosis terutama menyerang paru-paru. Meskipun demikian, penyakit yang disebabkan oleh bakteri M. tuberculosis ini juga dapat menyerang organ lainnya, seperti persendian, tulang, selaput otak, tidak terkecuali rongga mulut. Meskipun kasus Tuberkulosis terbilang jarang terjadi dalam rongga mulut, yakni sekitar 0.05 – 5% total kasus, hal tersebut harus tetap menjadi perhatian oleh klinisi dokter gigi.

Permasalahan yang paling sering dijumpai oleh praktisi dokter gigi adalah Tuberkulosis rongga mulut memberikan gambaran klinis yang bervariasi, seperti ulserasi (sariawan), nodula (benjolan), keradangan gusi, dan lesi tersebut dapat dengan atau tanpa menimbulkan rasa nyeri. Kondisi inilah yang kemudian berisiko mengakibatkan kesalahan diagnosis, sedangkan di satu sisi, dokter gigi seharusnya memiliki peran penting dalam deteksi dini kasus tuberkulosis rongga mulut, sehingga manajemen kasus pun dapat dilakukan lebih awal.

Suatu penelitian yang ditujukan untuk mengidentifikasi lesi-lesi dalam rongga mulut, baik lesi tuberkuler maupun non tuberkuler dari pasien dengan tuberkulosis paru di unit rawat jalan Rumah Sakit Umum Daerah Dr Soetomo telah dilakukan pada Juli 2017 hingga Januari 2018. Dari 30 pasien Tuberkulosis paru yang diperiksa, 24 pasien memiliki lesi dalam rongga mulutnya dengan lokasi yang paling banyak ditemui lesi adalah lidah.

Dari keseluruhan 37 lesi yang ditemukan, hanya 1 lesi yang diindikasikan terkait dengan tuberkulosis (lesi tuberkuler), berdasarkan karakteristik lesi yang tunggal berukuran ± 2 cm, tepi iregular, berwarna kekuningan, dan tidak sakit yang berada pada tepi lidah.

Coated tongue, yaitu suatu kondisi pada permukaan lidah dengan adanya lapisan putih atau kuning kecoklatan, merupakan lesi dengan frekuensi terbanyak, dengan kasus kedua terbanyak adalah crenated tongue, yang merupakan gambaran pada pinggiran lidah berupa lekukan/cekungan seperti cetakan gigi. Sedangkan kasus ketiga terbanyak adalah fissured tongue, atau celah/alur pada permukaan lidah seolah – olah lidah tampak pecah.

Selain kasus tersebut di atas, dua pasien ditemukan mengalami infeksi jamur pada rongga mulutnya, yang ditandai dengan bercak membran palsu berwarna putih dan dapat dikerok pada lidah serta bercak kemerahan pada langit – langit. Infeksi jamur ini biasa disebut dengan Oral Candidiasis, yang seringkali dikaitkan dengan penyakit sistemik, terutama kondisi imunokompromis, seperti HIV/AIDS. Referensi menyatakan bahwa angka kejadian infeksi Candida pada penderita tuberkulosis berkisar antara 15 – 32%.

Hal ini menunjukkan bahwa mayoritas pasien tuberkulosis paru memiliki lesi pada rongga mulutnya, meskipun demikian, lesi rongga mulut yang terkait dengan tuberkulosis jarang ditemukan. Lesi coated tongue yang banyak ditemui, meskipun pada prinsipnya adalah variasi normal rongga mulut, sering dikaitkan dengan kondisi penyakit sistemik, sebagaimana kondisi tersebut mengakibatkan perubahan pada rongga mulut. Dikarenakan beberapa lesi dapat saja muncul tanpa memberikan gejala, pemeriksaan rutin yang dilakukan dokter gigi tentunya memegang peranan penting dalam mendeteksi dini kelainan rongga mulut demi penanganan yang lebih baik.

Penulis: Reiska Kumala Bakti

Informasi detail dapat dilihat pada tulisan kami lewat link berikut ini:

http://www.jidmr.com/journal/wp-content/uploads/2019/12/54.19153-ED-2-OK_fl.pdf

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu