Etnomarker: Dimensi Perilaku Masyarakat Dari Malaikat Hingga Covidiot

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh infobrand id

UNAIR NEWS – Amalia E. Maulana, Ph.D., Brand Consultant & Ethnographer telah melaksanakan riset untuk mengenali gaya perilaku masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19 ini. Berdasarkan risetnya tersebut, setidaknya ada delapan dimensi perilaku yang telah diteliti untuk melihat bagaimana masyarakat dalam bersosialisasi selama pandemi.

Penelitian tersebut dilaksanakan dengan melibatkan 609 responden yang diteliti dengan metode survei secara daring. Lama survei secara daring selama satu pekan pada awal April 2020, dengan responden adalah online user yang aktif, pengguna WhatsApp. Hasil dari penelitian tersebut, kemudian disampaikan dalam acara Infobrandtalks, , yang diselenggarakan secara daring, pada Kamis (30/4) lalu.

Kedelapan perilaku yang diteliti adalah pengetahuan tentang Covid-19, Work from Home (WFH), donasi, berbagi pengetahuan, dampak bisnis/personal, berbelanja, karakter psikologis dan keseharian.Dari hasil survei mengenai pengetahuan masyarakat terkait Covid-19, diperoleh data, bahwa sebanyak 47 persen responden menyatakan diri sebagai orang yang awam saja. Hasil tersebut sedikit ungguldibandingkan dari mereka yang menyatakan diri sebagai pakar dadakan, yaitu sekitar 45 persen.

Sementara untuk perilaku WFH, sebesar 71 persen responden menyatakan bekerja sebatas yang digariskan perusahaan. Sedangkan pengamatan terhadap perilaku donasi, didapati sebesar 83 persen responden memilih dirinya sebagai kelompok ‘malaikat’ yakni responden yang memilih sebagai kelompok yang menyatakan keikhlasannya berkorban dalam kondisi sulit ini. Untuk perilaku masyarakat terkait belanja, sebesar 78 persen responden menyatakan dirinya sebagai wakil keluarga dalam berbelanja.

Sesuatu yang menarik dari penelitian tersebut, ditemukan pada hasil terkait perilaku karakter psikologis. Hasil survey terkait hal tersebut menunjukkan ada sebanyak 64 persen responden menyatakan dirinya sebagai orang yang optimis di tengah kondisi pandemi Covid-19. Sementara pada perilaku keseharian, 40 persen responden mengatakan mempunyai energi lebih untuk mengerjakan hobi, ibadah, olahraga atau sekedar bermedia sosial.

Secara menyeluruh, survei ini mendapati bahwa 70 persen dari keseluruhan responden berperilaku sosialisme dan berorientasi pada sesama. Masih ada 27 persen responden yang berperilaku positif tetapi masih berorientasi pada diri sendiri dan 3 persen cenderung egosentris.

“Dari hasil penelitian yang saya lakukan, diperoleh hasil bahwa 70 persen dari 609 responden termasuk kategori orang dengan gaya perilaku sosialisme dan berorientasi pada sesama. Ini sejalan dengan kultur masyarakat Indonesia dan khususnya dalam masa sulit seperti ini, kepedulian dan saling tolong menolong itu penting,” jelas Amalia.

Yang menarik, dari hasil interview dengan beberapa orang yang masuk dalam kategori Positif tetapi masih berorientasi pribadi, mereka menyatakan bahwa skoring ini memberikan selfawareness. Mereka merasa belum maksimal dan berniat untuk memperbaiki diri, masih bisa berbuat lebih banyak untuk komunitas. Orang dengan perilaku tersebut,tercatat sebanyak 27%.

Sedangkan yang masuk dalam kategori cenderung egosentris adalah 3%. Golongan tersebut yang juga disebut dengan “Covidiot”. Covidiot menggambarkan perilaku negatif seseorang seputar tetap bertahan dengan kebiasaan lama sebelum adanya pandemi Covid, sehingga membahayakan orang lain, misalnya tetap berkerumun dan tidak jaga jarak. Contoh Covidiot lainnya adalah diminta bekerja dari rumah justru jalan-jalan keluar rumah, pergi berlibur atau pulang kampung.(*)

Penulis : Dian Pratama

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Replay

Close Menu