Organizational Commitment Pada Perawat di Rumah Sakit

Share on facebook
Share on google
Share on twitter
Share on linkedin
Ilustrasi oleh Liputan6 com

Salah satu hal yang akan mempertahankan sumber keunggulan kompetitif suatu organisasi pada saat ini adalah karyawan yang berkualitas tinggi, bukan hanya modal, teknologi atau produk berumur panjang. Hal ini sangat berlaku bagi suatu rumah sakit, dimana teknologi medis selengkap dan secanggih apapun belum tentu merupakan sumber keunggulan kompetitif. Secara umum kinerja individu-individu organisasi yang baik tentu akan menggerakan kinerja organisasi yang baik pula. Namun bisa saja individu organisasi dengan kinerja yang tinggi namun memiliki organizational commitment (OC) yang rendah. 

OC yang dimaksud bukan saja kesanggupan untuk menetap pada waktu yang lama. Namun lebih dari itu, yakni karyawan memberikan yang terbaik untuk perusahaan. Kurangnya OC karyawan tentu bisa menjadi masalah bagi organisasi, karena OC karyawan sendiri merupakan isu yang penting bagi dunia kerja. Hal ini juga berlaku bagi sebuah rumah sakit dimana perawat memiliki posisi yang sangat penting bagi keberlangsungan rumah sakit. 

Quality of Worklife (QWL) adalah kondisi dan aspek kehidupan yang diinginkan di tempat kerja, dimana aspek-aspek inilah yang membangun pengalaman kerja dari karyawan. Dari kebanyakan penelitian yang ada sangat jarang penelitian yang menunjukan tidak adanya hubungan antara QWL dengan OC. Walaupun begitu, konstruksi dari dimensi-dimensi QWL yang dinamis, membuat penelitian tentang QWL dan OC tetap menarik untuk diteliti. Definisi tentang job satisfaction (JS) bisa ditarik menjadi dua premis: Pertama JS merupakan sikap (Attitude) yang berasal dari karyawan, kedua sasaran dari JS adalah pekerjaan seseorang. Secara sederhana dapat disimpulkan bahwa JS adalah sikap terhadap pekerjaan. Atau dengan kata lain JS merupakan respon evaluatif yang selaras dengan keadaan emosional karyawan terhadap pekerjaannya. Menurut beberapa penelitian, JS secara signifikan memengaruhi OC. Dengan kata lain, niat seorang karyawan untuk meninggalkan atau tetap dengan organisasi sangat ditentukan oleh kepuasan kerja karyawan. 

Untuk memperoleh data dari obyek penelitian yaitu RS tipe B di Jakarta, ada beberapa prosedur yang dilakukan yaitu, observasi, wawancara, kuesioner dan dokumentasi. Total sampel dari penelitian ini adalah 368 perawat dengan kriteria sudah bekerja selama minimal 2 tahun dan sudah merupakan pegawai tetap. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis jalur (Path Analysis). Model ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh langsung maupun tidak langsung seperangkat variabel bebas terhadap variabel terikat. Penelitian ini juga menggunakan metode yang disarankan oleh Baron & Kenny (1986) mengenai tiga rangkaian analisis regresi untuk menguji peran mediasional job satisfaction pada hubungan quality of working life terhadap organizational commitment. 

Dalam pengujian regresi yang sudah dilakukan, ditemukan pengaruh QWL dan OC terbukti signifikan. Temuan penilitian ini menunjukan bahwa penciptaan kondisi kerja yang baik pada RS tipe B pada gilirannya akan membuat perawat akan memiliki penerimaan terhadap tujuan rumah sakit, kesediaan untuk bekerja keras didalam rumah sakit, dan keinginan untuk tetap bekerja sebagai perawat di rumah sakit. Pada pengujian regresi yang sudah dilakukan, ditemukan pengaruh JS dan OC terbukti signifikan. Temuan penilitian ini menunjukan bahwa kondisi yang mengisyaratkan perawat RS tipe B yang memiliki kepuasan, kebanggaan dan kebahagiaan atas pekerjaannya pada gilirannya akan membuat perawat akan memiliki penerimaan terhadap tujuan rumah sakit, kesediaan untuk bekerja keras didalam rumah sakit, dan keinginan untuk tetap bekerja sebagai perawat di rumah sakit. 

Dapat ditarik kesimpulan bahwa, rumah sakit Tipe B Jakarta perlu meningkatkan penciptaan kondisi kerja /QWL dengan menfokuskannya sesuai dengan apa yang dibutuhkan para perawat/ JS. Dengan begitu para perawat akan memiliki sikap penerimaan terhadap tujuan rumah sakit, kesediaan untuk bekerja keras didalam rumah sakit, dan keinginan untuk tetap bekerja di rumah sakit. Atau dengan kata lain kebijakan terkait QWL akan lebih efektif apabila sesuai dengan JS para perawat. 

Penulis: Prof. Dr. Anis Eliyana, S.E., M. Si. 

Informasi detail dari riset ini dapat dilihat pada tulisan kami di:  http://www.sysrevpharm.org//?mno=98613 

Diana, Anis Eliyana, Alvin Permana Emur and Ahmad Rizki Sridadi (2020), Building Nurses’ Organizational Commitment by Providing Good Quality of Worklife, Systematic Review Pharmacy, 11(4): 142-150; http://dx.doi.org/10.31838/srp.2020.4.22 

Berita Terkait

UNAIR News

UNAIR News

Media komunikasi dan informasi seputar kampus Universitas Airlangga (Unair).

Leave Reply

Close Menu